27 Cerpen Persahabatan Terbaik Penuh Makna Menginspirasi

Ketika menulis, buah pikiran maupun gagasan bisa disampaikan dengan beragam cara. Bisa disampaikan secara gamblang atau tersurat melalui serangkaian essai atau karya ilmiah, bisa juga diekspresikan secara tersirat dengan mengandalkan karya fiksi berupa puisi maupun prosa. Adapun salah satu cara berkisah melalui fiksi yang paling banyak digemari adalah membuat cerita pendek alias cerpen. Karena itulah, pada artikel kali ini, akan disuguhkan 27 Cerpen Persahabatan Terbaik yang Penuh Makna, bahkan lebih, yang diharapkan bisa diandalkan sebagai bahan pembelajaran sekaligus menginspirasi.

Namun, sebelum menginjak pada pembahasan utama, mari memulai dengan hal dasar, yakni terkait dengan pengertian, jenis-jenis, ciri-ciri dan teknik dasar membuat cerpen. Ketika berangkat dari permulaan, diharapkan lebih memudahkan dalam pembelajaran. Dengan begitu, siapa saja jadi lebih cepat dalam memahami contoh, bahkan segera percaya diri melakukan simulasi, yakni membuat cerpen karangan sendiri.

Pengertian Cerpen

Pengertian Cerpen

Pengertian Cerpen Secara Umum

Cerita pendek atau Cerpen termasuk karya sastra jenis prosa naratif fiktif. Prosa, artinya tidak menggunakan kata-kata yang singkat dan puitif. Sementara natarif artinya tulisan disampaikan dengan gaya bercerita, dan fiktif artinya sifatnya tidak nyata, berupa karangan atau khayalan, sifatnya tidak ilmiah.

Dari sifat fiksi ini, nantinya akan muncul jenis-jenis cerpen dengan beberapa genre misalnya fiksi ilmiah, fiksi detektif, fiksi horror dan lain sebagainya. Meski begitu, para akrangan kontemporer, cerpen juga bisa berupa non fiksi. Di antara contoh jenis cerpen non fiksi yakni catatan perjalanan, prosa lirik, jurnalisme baru, feature dan yang lainnya.

Cerpen merupakan salah satu teknik merangkai cerita singkat dan padat dan biasanya fokus pada satu pesan. Rangkaian kata pada cerpen kebanyakan dibuat akrobatik dengan diksi yang variatif, sehingga pembaca akan terpuaskan, bukan hanya pada jalan dan pesan ceritanya, tapi juga pada gaya penceritaanya.

Pengertian Cerpen Menurut Para Ahli dan Praktisi

Untuk lebih memudahkan dalam memahami pengertian cerpen, mari simak pemamaran para ahli dan praktisi dalam memahami cerpen.

Cerpen merupakan cerita yang mengandung arti tuturan mengenai bagaimana sesuatu hal terjadi. Sifatnya relatif pendek yang artinya kisah yang diceritakan pendek atau tidak lebih dari 10.000 kata. Cerpen memberikan sebuah kesan dominan serta memusatkan hanya pada satu tokoh saja dalam cerita pendek tersebut. – Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) –

Cerpen merupakan cerita yang hanya terfokus serta menjurus pada satu peristiwa saja. – J.S. Badudu –

Cerpen adalah sebuah cerita singkat yang harus memiliki bagian terpenting. Bagian-bagian tersebut di antaranya perkenalan, pertikaian, serta penyelesaian. – H.B Jassin –

Cerpen merupakan cerita fiktif atau cerita yang tidak benar-benar terjadi, tetapi bisa saja terjadi kapan pun serta di mana pun. Ceritanya pun relatif pendek dan singkat. – Sumardjo dan Saini –

Cerpen adalah sebuah cerita yang panjang ceritanya berkisar 5000 kata atau perkiraan hanya 17 halaman kuarto spasi rangkap serta terpusat pada dirinya sendiri. – Nugroho Notosusanto dalam Tarigan –

Cerpen ialah suatu karangan yang berkisah pendek yang mengandung kisahan tungal. – Hendy –

Cerpen adalah salah satu karangan fiksi yang biasa disebut juga dengan kisahan prosa pendek. – Aoh. K.H –

Berdasarkan informasi yang terpapar di atas, dapat disimpulkan bahwa cerpen adalah karangan prosa fiksi yang inti ceritanya berfokus pada satu isu atau satu tokoh saja. Adapun panjang tulisan tidak lebih dari 5 ribu hingga 10 ribu kata. Untuk gambaran singkatnya cerpen, pembaca bisa menakarnya jika ia bisa tamat dibaca dalam sekali duduk.

Ciri-Ciri Cerpen

Ciri-Ciri Cerpen

Dari sejumlah pemaparan tentang pengertian cerpen, jelaslah bahwa karangan ini memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan karya lainnya. Adapun ciri-ciri cerpen di antaranya:

  1. Memiliki satu pesan khusus dan berpusat pada satu tokoh dan satu situasi saja.
  2. Alur cerita kebanyakan bersifat tunggal dan lurus.
  3. Penokohan tidak sekompleks pada novel, menyesuaikan dengan situasi, konflik, penyelesaian dan pesan yang ingin disampaikan.
  4. Tokoh pada cerpen bisa berupa orang, atau binatang, tumbuhan dan benda-benda lainnya yang dipersonifikasi. Maksudnya, tokoh-tokoh tersebut seolah-olah bisa bertingkah seperti manusia meski di kehidupan nyata tidak begitu.
  5. Memiliki panjang tulisan yang relatif pendek, kurang dari 10 ribu kata atau kurang dari 10 halaman saja.
  6. Menggunakan kata-kata yang akrobatik, di mana terdapat pemilihan fiksi yang cerdas, tapi tetap mudah dimengerti pembaca.
  7. Dirangkai berdasarkan struktur yang terdiri dari Abstrak, Orientasi, Komplikasi, Evaluasi, Resolusi dan Koda. Untuk penjelasan lebih rinci akan dibahas pada uraian selanjutnya.

Jenis-Jenis Cerpen

Jenis-Jenis Cerpen

Setiap kepala akan melahirkan ide dan gagasan yang berbeda ketika melahirkan sebuah karya. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai penyebab, misalnya karakter, passion atau latar belakang dan lingkungan penulis. Makanya, ruang lingkup cerpen begitu dinamis dan tidak terpatok pada konsep-konsep teoritis. Kedinamisan tersebut lantas melahirkan klasifikasi cerpen yang berpeluang ditulis. Adapun jenis-jenis cerpen bisa dibedakan berdasarkan kriteria tertentu. Untuk penjelasan selengkapnya, mari simak uraian berikut ini:

1. Jenis-Jenis Cerpen Berdasarkan Panjang Naskahnya:

– Cerpen Mini, yakni cerpen yang ditulis dengan jumlah kata antara 750 hingga seribu kata.

– Cerpen  Ideal atau lengkap, yakni cerpen yang ditulis dengan jumlah kata antara 3-4 ribu kata.

– Cerpen Panjang, yakni cerpen yang ditulis dengan jumlah kata lebih dari 4 ribu kata dan kurang dari 10 ribu kata.

2. Jenis-Jenis Cerpen Berdasarkan Teknik Penulisannya:

– Cerpen Sempurna atau Well Made Short Story, merupakan salah satu jenis cerpen konvensional yang berlandaskan pada logika dan fakta. Adapun teknik penulisan cerpen yakni berfokus pada satu tema, memiliki alur cerita yang jelas serta penyelesaian atau endingnya mudah dipahami.

– Cerpen Tidak Utuh atau Slice of Life Short Story, merupakan cerpen berjenis kontemporer di mana cerita dirancang berdasarkan ide yang original dan spontan. Adapun teknis penulisannya yakni random atau berpencar, di mana penulis tidak berfokus pada satu tema. Demikian pula dengan plot atau alur ceritanya yang tampak tak tertara serta akhir cerita terasa mengambang.

Struktur Cerpen

Struktur-Cerpen

Meski termauk ke dalam karya tulis singkat, cerpen gaya konvensional memiliki strutur yang bisa menjadi acuan dalam membantu kerunutan menulis. Struktur cerpen menjadi batasan secara teknis, tapi tidak perlu jadi mempengaruhi kreativitas penulis ketika tengah mengekplorasi gagasan. Adapun struktur cerpen di antaranya:

1. Abstrak

Abstrak merupakan gambaran awal cerita yang menjadi semacam resume atau inti sari cerita. Meski begitu, sebagai pengawal cerita, ia tetap harus mengundang rasa penasaran pembaca serta tidak perlu membocorkan kesimpulan cerita secara keseluruhan.

Ia semacam kalimat pembuka yang dirangkai oleh peristiwa yang membuat pembaca ingin membaca lebih lanjut. Abstrak tidak melulu harus ada. Artinya, sifatnya opsional, boleh disertakan dalam struktur cerpen, boleh juga tidak.

2. Orientasi

Orientasi merupakan bagian pengenalan, di mana penulis menceritakan salah satu aspek seperti waktu, suasana, tempat, tokoh atau unsur lainnya, sehingga pembaca jadi punya arahan pemahaman. Sebagai pengenalan, sifatnya juga diusahakan menarik dan mengundang rasa penasaran pembaca untuk beranjak ke paragraf selanjutnya.

3. Komplikasi

Struktur cerpen yang selanjutnya adalah komplikasi. Di dalamnya berisi serangkaian peristiwa atau kejadian yang dihubungkan dengan pola sebab-akibat. Peristiwa tersebut bisa terjadi di latar dan setting tertentu, bisa juga terjadi di pikiran tokoh. Pada bagian ini, situasi digambarkan pelik, sementara karakter tokoh dijabarkan secara gamblang dalam merespons masalah.

4. Evaluasi dan Resolusi

Pada bagian ini, evaluasi merupakan respons dari komplikasi berupa jalan penyelesaian yang mengarah pada klimaks. Sejumlah langkah solusi mulai diceritakan pada bagian ini.

5. Koda

Koda merupakan bagian akhir dalam cerpen yang memuat kesimpulan dari keseluruhan isi cerita. Pada bagian ini dipaparkan nilai atau pelajaran dari cerita secara tersirat maupun tersurat.

Langkah Teknis Membuat Cerpen Khusus Pemula

Langkah Teknis Membuat Cerpen Khusus Pemula

Mari jangan hanya berkutat pada ranah teoritis. Segeralah mengambil pena, atau membuka laptop, lantas segera memulai menulis naskah cerpen. Kunci menjadi cerpenis andal ialah ketika seorang penulis tidak membuarkan ide-idenya hanya berkeliaran lalu menguap di kepala. Justru ketika ide dan gagasan datang, harus segera ditangkap, direspons dan dituliskan agar menjadi sebuah karya nyata.

Jika masih bingung bagaimana memulainya, berikut ini tersaji sejumlah tips dan petunjuk teknis membuat cerpen untuk pemula. Mari simak uraian berikut ini:

1. Membekali Pengetahuan Tentang Unsur-Unsur Cerpen

Hal teoritis terkait cerpen perlu dikantongi sebagai bekal dan pengetahuan, sehingga penulis bisa segera membuat karya secara terarah. Jangan sampai pembuatan cerpen dilakukan secara serampangan, tapi malah membuat pembaca jadi kebingungan.

Ketika ingin mulai membuat cerpen, mula-mula penulis harus membekali pengetahuan tentang unsur-unsur cerpen. Nantinya, unsur-unsur tersebut bisa dihadirkan ke dalam isi cerita dalam penematan yang pas. Pada dasarnya, terdapat dua unsur dalam cerpen yakni unsur intrinsik alias unsur yang terdapat di dalam cerita dan merupakan komponen penting pembentuk cerpen.

Unsur intrinsik terdiri dari tema, alur atau jalan cerita, latar atau temat terjadinya peristiwa, perwatakan tokoh serta nilai yang terkandung dalam cerita. Unsur-unsur ini merupakan bagian yang terdapat dalam struktur cerpen yang telah dibahas sebelumnya.

Sementara itu, unsur ekstrinsik merupakan unsur yang ada di luar cerpen, mencakup latar belakang penulis, situasi ketika menulis, serta kondisi-kondisi lingkungan yang mempengaruhi penulis untuk membuat cerita tertentu.

2. Menetapkan Tema

Tema merupakan ide pokok dari sebuah cerita. Setelah menetapkan tema, penulis akan memiliki acuan dasar dalam menulis judul dan cerita secara spesifik. Misalnya, ketika penulis menetapkan tema tentang sosial, maka isi ceritanya akan berkaitan dengan isu-isu sosial yang sedang hangat di masyarakat. Misalnya isu tentang pembebasan lahan maupun isu kemiskinan.

Meski begitu, pemilihan tema tidak harus selalu rumit. Justru penulis punya kedaulatan sepenuhnya untuk memilih tema yang sesuai dengan pengetahuan dan kemampuannya. Tema tersebut bahkan bisa dekat dengan keseharian. Jika penulis masih berusia mudah dan berstatus sebagai pelajar, tema yang bisa dipilih bisa tentang pendidikan, cinta dan persahabatan.

3. Menentukan Penokohan dan Watak

Setiap cerita pasti memiliki tokoh-tokoh yang mengambil peran dalam keberjalanan cerita. Ketika ingin membangun cerpen, penulis harus sudah memiliki gambaran tentang sejumlah tokoh yang ingin diciptakan. Setiap tokoh dibekali perwatakan yang ditunjukkan dalam sejumlah narasi, deskripsi fisik serta dialog. Di antara jenis-jenis penokohan yang terdapat dalam cerpen di antaranya:

– Tokoh Protagonis yakni tokoh utama yang bisasanya berkarakter positif. Dalam cerita, penulis berpihak pada tokoh tersebut.

– Tokoh Antagonis, merupakan lawan atau penetang tokoh utama. Biasanya memiliki watak yang berkebalikan dengan tokoh protagonis.

– Tokoh Tritagonis, yakni tokoh yang posisinya sebagai penengah antara tokoh utama dan tokoh antagonis.

4. Menentukan Alur Cerita

Alur atau jalan cerita harus direncanakan sejak awal sehingga penulis bisa secara apik menyisipkan serangkaian pesan dan gagasan dari cerita. Alur cerita dalam cerpen dibagi menjadi tiga macam yakni:

– Alur Maju, merupakan serangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan waktu kejadian yang bergerak maju ke depan.

– Alur Mundur, merupakan kebalikan dari alur maju, di mana di dalamnya terdapat serangkaian peristiwa yang dimulai di akhir, lalu diceritakan secara kilas balik (flash back).

– Alur Campuran, merupakan gabungan antara alur maju dan mundur. Dalam hal ini, penulis merangkai cerita sehingga dalam satu adegan, pembaca dibawa ke akhir cerita, dan di adegan selanjutnya kembali lagi ka awal maupun pertengahan, lalu kembali lagi ke akhir.

Dalam teknik ini, dibutuhkan kemampuan penulis untuk merangkai kata secara jelas sehingga pembaca tidak kebingungan. Dalam penulisan alir, penulis harus memperhatikan beberapa tahap penulisan yang menggunakan struktur cerpen sebagai acuan.

5. Mulailah Menulis

Jangan berlama-lama berkutat pada hal teoritis, tapi bersegeralah menuju latihan dan praktik. Untuk memulainya, segeralah memakai “Topi Kreatif” di mana penulis jangan dulu memikirkan soal teknis, teori dan acuan teoritis lainnya. Sebaliknya, mulailah dengan brainstorming atau curah gagasan, yakni penulis bisa berfokus pada perangkaian gagasan dan menuruti apa yang dipikirkannya. Dalam proses brainstorming, jangan sekali-kali memperhatikan EYD, bagian yang terlupakan, atau pengeditan lainnya.

Setelah selesai curah gagasan, penulis bisa merasa lega karena telah memiliki naskah yang siap diedit. Barulah di tahap editing ini, penulis menggunakan “Topi Editor”, yakni penulis melakukan auto kritik terhadap tulisannya sendiri. Di bagian pengeditan, penulis bisa menambahkan bagian-bagian yang terlupa, serta membenarkan apa yang salah dari segi teknis.

Setelah semua tahap tadi terlewati, jangan lupa melakukan pembacaan ulang. Dalam hal ini, penulis berposisi sebagai pembaca yang mulai menelaah, apakah naskah yang ia tulis bisa dimengerti oleh pembaca. Di tahap ini penulis bisa melakukan tahap penyempurnaan hingga kemudian bisa merasa percaya diri ketika membagikan cerpennya kepada pembaca.


Setelah menyimak pembahasan panjang lebar di atas, mari kita beranjak pada pembahasan inti, yakni menampilkan 27 Cerpen Persahabatan Terbaik yang Penuh Makna. Seperti diketahui, tema peprsahabatan memang selalu menarik untuk segala usia, serta memiliki cakupan yang luas. Persahabatan merupakan jalinan tulus dan tidak perlu menggunakan alasan spesifik ketika dijalin.

Maksudnya, seseorang tidak perlu harus menjadi saudara atau rekan kerja dulu ketika ingin menjadi sahabat. Justru ketika terjadi kecocokan dari segi hobi, pola pikir, perasaan dan yang lainnya, persahabatan bisa terjadi begitu saja, untuk kemudian pelakunya bisa saling mendukung dan menerima satu sama lain.

Sekilas informasi, sebagian besar cerpen yang nantinya akan ditampilkan ditulis oleh Sonia Fitri, seorang mantan jurnalis dan editor di salah satu perusahaan swasta nasional. Selain masih aktif menjadi penulis lepas, saat ini ia sibuk menjadi ibu rumah tangga dan juga tercatat sebagai salah satu pengajar di SMP Darunnazah, Subang, Jawa Barat. Cerpen-cerpen yang akan ditampilkan ini ditulis sejak penulis duduk di bangku perkuliahan pada 2009.

Beberapa cerpen juga datang dari para cerpenis muda kreatif yang merupakan santri di Pondok Pesantren Kumala Lestari Cianjur, Jawa Barat. Semoga cerpen-cerpen yang ditampilkan bisa dibaca dan diapresiasi secara layak, serta menjadi bahan pembelajaran yang bermanfaat sekaligus menginspirasi bagi pembaca sekalian.

27 Cerpen Persahabatan Terbaik yang Penuh Makna

Cerpen 1: Piala

Cerpen 1: Piala

Oleh: Sonia Fitri

Senja tampak bersahaja ketika Kuaci berlari tergesa-gesa menuju kebun sekolah. Sepanjang jalan, angina semilir mengantarkan langkahnya yang ceria. Kala itu, Kuaci memang sedang membawa suasana hati yang luar biasa baik. Di dalam pikirannya, ia menduga Kapsul, sahabatnya, pasti sudah tak sabar mendengar berita bahagia yang baru saja menimpanya.

“Ohh … sungguh langit begitu cerah hari ini,” gumam Kuaci dengan senyum dan wajah yang sumringah. Sebuah piala setinggi lutut masih digenggamnya erat-erat ketika ia sampai di tujuan, yakni kebun sekolah.

Ini merupakan lokasi favorit sekaligus markas bagi sepasang sahabat bernama Kuaci dan Kapsul. Sekilas informasi, Kuaci oleh orang tuanya diberi nama Kirana Amalia. Tapi kemudian ia lebih akrab dipanggil Kuaci oleh sahabat dekatnya, sebab perawakannya yang mungil dan hobinya yang memang suka makan Kuaci.

Sementara Kapsul pun hanyalah nama panggilan belaka. Nama asli pemberian orang tuanya adalah Syamsul Arifin, tapi hingga detik ini, masih tanda tanya mengapa pada akhirnya ia dipanggil dengan sebutan “Kapsul”.

Sesampainya di kebun sekolah, Kuaci mendapati Kapsul sedang tertidur di bangku kayu tua yang memang sudah ada di sana entah sejak kapan. Tangan Kapsul menggenggam botol minum berisi air teh yang tinggal seperempat. Kelihatannya ia kelelahan dan tidurnya sangat pulas.

Tak sabar, Kuaci mengguncang-guncangkan tubuh kapsul yang lunglai. Perlahan mata Kapsul terbuka dengan malas. Di hadapannya, ia melihat Kuaci, sahabatnya, tersenyum sangat lebar.

“Ci, ngapain sih! Ngeganggu kedamaian hidup orang aja!” Kapsul mengomel sambil masih mengumpulkan nyawa.

“Lihat, Sul! Piala!!! Piala!!! Aku juara Sul!!!” Kuaci terlihat girang. Sepertinya luapan rasa bangga sedang coba ia muntahkan bulat-bulat ke wajah Kapsul.

“Ohh …. iya iya keren,” sahut Kapsul dengan nada super datar. Tapi di hati kecilnya, ia merasa bahwa Kuaci terlalu berlebihan dengan kebanggaan yang ditunjukkan. Bukan karena ia iri. Justru karena Kuaci sahabatnya, kapsul pikir, ia seharusnya tidak berlebihan menyambut bahagia.

“Kok responnya gitu?!!” Kuaci cemberut. Kapsul memang tak peka. Seharusnya Kapsul menyambut kebahagiaan yang tengah ia rasa.

“Terus harus gimana, Ci?” tanya Kapsul polos.

Huh, Kuaci sebenarnya sudah hapal betul tabiat sahabatnya itu. Selain kurang peka, Kapsul bukan orang yang senang berbasa-basi, apalagi mengobral puji. Langit masih cerah, dan Kuaci tak mau merusak suasana hatinya hanya karena respon Kapsul yang di luar harapan. Keberhasilannya dalam lomba sajak kemarin tentu saja membanggakan. Ia berhasil mengalahkan lebih dari 100 peserta, dan didaulat menjadi nomor satu.

Tapi, apa yang terjadi setelah itu? Apakah ada keajaiban setelah si piala berada di genggamannya? Mungkin wartawan sekolah akan datang untuk mewawancarai, lalu membuat artikel tentang sang juara. Beberapa bahkan menyodorkan diri untuk diwawancara, agar momen kemenangannya diabadikan oleh media massa. Uang hadiah yang ia terima akan habis hari itu juga, karena dipakai untuk traktir teman-teman sekelasnya.

Lalu, kehidupannya akan kembali berjalan seperti biasanya: bermain dan belajar sebagaimana remaja pada umumnya. Piala itu hanya akan jadi pajangan yang membisu. Terpenjara dalam lemari kaca, atau tersimpan rapi di atas lemari, bersama debu-debu. Paling-paling gunanya hanya untuk dilirik dengan bangga, dan sesekali dipamerkan kepada siapa saja yang bertanya.

Sikap Kapsul barusan mengingatkannya agar jangan terlalu berlebihan dalam menyikapi keberhasilan yang bersifat sementara. Tak perlu terobsesi dengan penghargaan dan pujian dari manusia. Karena jika sudah terlena, kita yang malah akan rugi karena telah membuat lelah hati sendiri, apabila pujian dan penghargaan itu tak sesuai dengan yang kita harapkan. Lagi pula, pujian dari manusia tak akan membuatnya kaya raya. Biasa sajalah!

Apakah bukti keberhasilan? Apakah bisa dijawab dengan tumpukan sertifikat, piagam penghargaan, serta deretan piala yang berkilauan? Jawabannya bisa ya, dan bisa juga tidak. Berhasil adalah sebuah proses pencapaian sebuah tujuan. Dalam lomba sajak ini, misalnya. Seorang peserta dikatakan berhasil bila ia dapat memperoleh skor tertinggi, baik pada babak penyisihan, pun di babak final. Maka, sudah menjadi kelaziman bagi masing-masing peserta untuk berusaha semaksimal mungkin, mempersiapkan diri agar saat kompetisi berlangsung, mereka dapat menjawab tuntutan dan kriteria dewan juri dengan mantap.

Ia menatap Kapsul yang sudah kembali terlelap. Lalu kembali menatap pialanya yang berkilauan. Dalam heningya kebun sekolah, ia meneruskan renungannya. Semua orang berlomba-lomba mendapatkan piala. Kita semua berusaha sekuat tenaga mendapatkan pengakuan dari orang-orang sekitar, dan salah satu cara yang dirasa paling elegan adalah dengan berusaha mendapatkan piala. Segala jenis piala selalu berharga di mata orang-orang yang memperebutkannya. Dari mulai piala lomba balap karung tingkat RT, sampai piala dunia sepak bola. Tapi sering kali para pengejarnya menodai nilai dari piala itu. Mereka sering enggan melalui proses dan kerja keras. Mereka mencari jalan pintas untuk mendapatkan pialanya. Maka dari itu, muncullah istilah: curang, suap, gengsi, curiga, dan saling iri.

Piala pun jadi menyeramkan, karena keberadaannya malah menginspirasi orang untuk merusak kesehatan jiwanya sendiri. Kuaci sepakat, bahwa semua orang pantas berusaha untuk tujuan yang ingin dicapainya, untuk pialanya. Bukankah Tuhan pun menyuruh manusia untuk berlomba-lomba dalam kebaikan? Ini berarti, orang yang berusaha dan berprestasi dengan jalan kebaikan, akan menyenangkan Tuhan. Tapi, jalan kebaikan selalu dibarengi ujian. Kita harus berhati-hati agar setiap upaya yang kita lakukan dalam rangka mendapatkan piala itu, tidak dinodai dengan perilaku curang. Tuhan sudah memperingatkan, bahwa kecelakaan akan datang kepada mereka yang curang. Tiba-tiba Kuaci merinding. Ia tak mau jadi bagian dari orang-orang yang celaka itu.

“Tuhan, dengan rasa sayang-Mu yang luar biasa terhadap setiap hamba, saya percaya bahwa Engkau selalu memberi jalan kemenangan dan keberhasilan di hidup saya, hidup sahabat saya, Kapsul, serta hidup setiap hamba-hamba yang begitu engkau sayangi. Entah kriterianya apa, saya belum terlalu paham saat ini. Saya pun sering bersikap bodoh dan berpaling kepada selain-Mu. Tapi Engkau masih saja memberi nafas dan degup jantung. Agar saya selalu punya kesempatan memeroleh Ridho-Mu, kemenangan-Mu”.

***

“Hei! Kapsul! Bangun … bangun!!!” Kuaci mengguncang-guncangkan tubuh Kapsul lagi. Kali ini, dia berniat mengganggu.

Kapsul perlahan membuka matanya. Ia beringsut sambil merengut. Lalu terpancing kesal.

“Aih … kamu kenapa lagi sih?!!”

“Sekarang bangun, duduk, dan dengarkan saya sebentar!”

Dengan sabar, Kapsul menepis rasa kantuknya. Susah payah dia mengumpulkan nyawa, dan segera menuruti instruksi sahabatnya. Ia tak ingin mengeluh, apalagi menggerutu, meski ia sangat sangat mengantuk. Semalam ia keasyikan nonton DVD, sampai-sampai baru tidur jam tiga pagi.

Kuaci memang suka memaksa. Sedangkan seorang Kapsul yang agak keras kepala, paling tidak bisa mengizinkan siapa pun memaksanya. Tapi, mengapa mereka masih menjadi sahabat sampai hari ini? Rupanya sifat dan perilaku yang bertolak belakang malah bisa menjadi penguat sebuah hubungan. Hati Kapsul mengizinkan, jika yang memaksanya adalah seorang Kuaci. Hanya Kuaci.

“Sul, pialanya Tuhan, apakah itu surga?” Kuaci bertanya setelah ia yakin Kapsul sadar sepenuhnya.

Kapsul terdiam sejenak. Tidak menyangka Kuaci menanyakan hal macam begini. Padahal baru beberapa menit yang lalu ia memamerkan piala yang ada di genggamannya. Beberapa menit yang lalu pula, Kapsul tak begitu nyaman dengan ekspresi muka Kuaci yang kelihatannya kelewat bangga.

“Ayo cepat jawab saja!”

“Pialanya Tuhan pasti lebih agung dari pada surga.”

“Apa pun itu, kita layak memperjuangkannya.”

Lalu hening meliputi mereka berdua. Sejenak tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Kelihatannya sedang merenungi dosa-dosa di masa silam.

“Ngomong-ngomong, mau diapakan ini piala?”

Kapsul mengucek-ngucek matanya. Lalu tersenyum nakal.

“Kita gantung di pohon rambutan belakang rumah kamu, Ci, pake tali rapia?”

“Ide bagus!!!”

-Bandung, 26102013


Cerpen 2: Ketika Kuaci Jatuh Cinta

Cerpen 2: Ketika Kuaci Jatuh Cinta

Oleh: Sonia Fitri

“SUL, apakah cinta mesti diungkapkan?”

“Bisa ya, dan bisa juga enggak.”

“Maksudnya?”

“Ya, karena segala sesuatu yang sengaja ditahan gak akan baik dampaknya. Coba aja kalo kamu pengen pipis, terus kamu tahan-tahan sampe dua hari. Nah, lama-kelamaan kamu bisa sakit kencing batu,” kata Kapsul kalem.

“Ya ya ya, logis. Terus? Yang enggak, gimana?”

“Enggak mesti, karena semua orang punya pertimbangannya masing-masing, apakah dia mau bilang cinta atau enggak. Itu semua mesti dihargai.”

“Ah, kamu gak jelas!”

“Keputusan untuk menahan dan mengungkapkan perasaan, itu kan urusan masing-masing orang, Ci!”

“Jawaban kamu nggak ngebantu sama sekali!”

“Gitu ya, hehe ….”

***

Kapsul masih menatap punggung Kuaci yang mulai menjauh pergi. Tangannya menggenggam sepucuk surat yang dibungkus syal warna oranye. Beberapa menit yang lalu, gadis itu mengajaknya ke perpustakaan, untuk mendampinginya bertemu dengan kakak senior yang sedang ditaksirnya. Kapsul menolaknya dengan alasan “Markas saya bukan di perpus, tapi di kebun”. Kuaci pun tak mau terlalu sering memaksa sahabatnya. Ia memberanikan diri menghadap sang pujaan hati, sendirian.

“Doain aja deh, biar lancar, ya, Sul!”

Sosok Kuaci telah hilang di balik gerbang kebun sekolah. Sementara itu, Kapsul menghela nafas. Ia tak menyangka, Kuaci akhirnya jatuh cinta. “Waktu memang mengubah kita dengan cepat,” pikir Kapsul. Ya, tadinya kita hanya bocah-bocah yang mengenal bentuk-bentuk huruf untuk dieja. Setelah itu, kita belajar bagaimana rangkaian huruf-huruf itu berubah menjadi kata, kata menjadi kalimat, dan kalimat membentuk suatu paragraf. Lalu paragraf menjadi esei, cerpen, catatan sejarah, dan novel—karya tulis.

Kita sebagai pembaca pun jadi tahu gagasan dan informasi yang ada di kepala para penulis. Beberapa dari kita kemudian mencoba menjadi pelaku. Kita mulai membahasakan apa yang ada di pikiran kita, menuangkannya dalam bentuk tulisan, lalu berbagi pikiran yang tertulis itu pada pembaca.

Tadinya kita hanya sekelompok anak yang diberi tahu, bahwa yang berbentuk seperti tongkat disebut angka satu, yang berbentuk seperti kuping monyet disebut angka tiga, dan yang seperti telur adalah angka nol. Lalu sebagian dari kita mendebatkan mengapa satu ditambah satu sama dengan dua, sampai kemudian kita belajar berpikir logis lewat pelajaran matematika.

C-I-N-T-A, Kapsul mengeja kata yang saat ini sedang dirasa sahabatnya. Dulu, baik Kapsul maupun Kuaci mengeja kata ini tanpa merasakan apa-apa. Bahkan ketika masih bocah, Kapsul selalu merasa kata-kata seperti ini terdengar konyol. Orang-orang dewasa mengisahkan tentang cinta di televisi dan novel-novel romantis, tapi semuanya terasa menggelikan. Lalu waktu perlahan mengantarkannya, juga sahabatnya, untuk menjadi remaja, lalu merasakan cinta.

Sejak awal, ia menjadi saksi seorang Kuaci yang sedang jatuh cinta. Kelihatannya konyol melihat Kuaci yang panik, malu, dan bertingkah aneh karena cinta. Tapi, Kapsul tak boleh mencela atas perasaan yang saat ini tengah dirasakan Kuaci. Toh, perasaan cinta merupakan kelaziman dan fitrah manusia.

Ketika Kuaci jatuh cinta, Kapsul mendadak jadi orang paling sibuk sedunia. Kapsul sibuk mendengarkan curhatan-curhatan Kuaci yang kadang memakan waktu hampir sepanjang hari, pun sibuk mendengar keluhan-keluhannya, luapan perasaannya, juga segala informasi tentang sang pujaan hati. Kapsul juga harus rela berpikir bagaimana menanggapi cerita-cerita yang terdengar aneh itu, pun harus memberi masukan yang keren jika diminta. Orang jatuh cinta seringkali berlaku setengah gila.

Lelaki yang disukainya, ialah senior mereka di sekolah. Namanya Arian. Dia ceking, berkaca mata, pintar, pendiam, rajin membaca, dan sedikit aneh. Karenanya, keberadannya hampir tidak disadari oleh semua orang di sekolah ini. Teman-teman sekelas yang memang tak terlalu dekat dengannya bahkan menyebutnya culun, tidak populer, kutu buku, dan bagi mereka yang masuk golongan usil kerap mengatainya dengan sebutan “jurig” perpus.

Dari Kuaci, Kapsul tahu bahwa setiap hari, Arian menghabiskan waktu senggang di perpustakaan sekolah. Kuaci mengetahui informasi “penting” itu dari Bu Wahani, petugas penjaga perpustakaan. Dari Bu Wahani pula—yang kemudian disampaikan kepada Kapsul—Kuaci tahu kalau Arian tak mengenal kantin, lapangan basket, atau tempat nongkrong.

Dunianya di sekolah berkutat antara ruang kelas dan perpustakaan. Ia sudah membaca hampir seluruh buku yang ada di perpustakaan. Bahkan, ia sering membantu Bu Wahani merapikan buku, mencatat daftar pengunjung, atau mendata buku yang dipinjam maupun yang dikembalikan.

Arian sudah hapal betul peta perpustakaan. Ia tahu bahwa rak sebelah kanan adalah area buku-buku sejarah, dan rak sebelah kiri didominasi buku-buku ensiklopedi. Sangat jauh berbeda dengan Kuaci yang lebih sering menghabiskan waktu di meja redaksi, di sekretariat Pandupena, bersama rekan-rekan persnya.

Lalu, bagaimana mereka bertemu?

Di perpustakaan, mereka bertemu. Awalnya begini. Kuaci diberi tugas oleh Pemred Pandupena, untuk meliput perpustakaan sekolah. Di sanalah ia menemukan Arian yang tersembunyi di balik tumpukan buku. Kuaci bercerita pada Kapsul, bahwa ketika pertama kali ia melihat sosok kurus berkacamata itu, jantungnya langsung berdegup empat kali lebih cepat. Ia yang biasanya santai menghadapi narasumber, menjadi gugup dan bicaranya gagap. Tapi—lagi-lagi berdasarkan cerita Kuaci—Arian sangat pengertian dan tidak meremehkannya. Singkat kata, Kuaci langsung terpesona pada pandangan pertama.

Pertemuan itu mengubah kebiasaan Kuaci. Dia jadi lebih suka menghabiskan waktunya di perpustakaan, sekadar mengintip dan memata-matai Arian yang sedang membaca atau mengerjakan tugas. Bahkan, Kuaci berhasil mempertahankan kegiatan “menguntit Arian” sampai tiga bulan lamanya. Di hadapan Kapsul, Kuaci dengan gamblang mengatakan Arian terlihat lebih tampan ketika sedang membaca buku. Tak sekadar menguntit, Kuaci pun jadi ikutan senang membaca buku karena Arian.

Tapi, Kuaci tak sadar bahwa sahabatnya, Kapsul diam-diam selalu murung di kebunnya. Kapsul merasa perhatian Kuaci teralihkan pada si kutu buku Arian.

Selama tiga bulan, semua berjalan baik-baik saja. Kuaci nyaman dengan posisinya sebagai pengagum rahasia. Tapi waktu mengubah kenyamanan itu. Arian akan pergi. Ya, Arian sebentar lagi akan lulus dari SMA bersama teman-teman seangkatannya. Kuaci panik, dan lagi-lagi Kapsul harus ada di sisinya, mendengarkan kesedihannya.

“Berikan dia kenang-kenangan, agar dia tidak lupa sama kamu,” Kapsul asal memberi saran.

Ide Kapsul sungguh cemerlang. Kuaci pun girang. Sementara Kapsul justru malah makin murung. Jangan tanya alasannya. Kapsul pun tak tahu.

Kuaci memutuskan. Syal kesayangannya beserta sepucuk surat akan didaulat jadi kenang-kenangan. Itu adalah syal kesayangan Kuaci. Tapi ia rela memberikannya pada Arian. “Betapa beruntungnya Arian, mendapatkan salah satu benda kesayangan Kuaci,” kata Kapsul dalam hati.

Sebelum ia memberikan surat itu pada Arian, Kuaci menunjukkan isi surat tersebut kepada Kapsul lebih dulu. Berharap dapat koreksi:

Kepada,

Arian Andriana

di perpustakaan

Akhirnya hari ini datang juga, hari di mana tulisan ini berada di tangan Kakak. Saya ingin Kakak membacanya dengan baik dan benar. Agar segala pesan yang ada di sini, tersampaikan dengan baik dan benar pula. J

Sempat terpikir untuk menyampaikan pesan ini secara langsung. Tapi ternyata sampai detik ini saya tak punya nyali. Saya terbiasa diarahkan makanya jadi minim inisiatif. Saya bukanlah orang yang pandai memulai, apalagi merangkai kata yang enak didengar secara spontan. Dari pada situasinya jadi aneh, saya pun memilih untuk menulis saja. setidaknya saya bisa mendokumentasikan semuanya.

Kak Arian yang keren dan rajin membaca buku, semua berawal ketika Pemred Pandupena menugaskan saya untuk membuat tulisan tentang perpustakaan sekolah, sebuah tempat yang jarang sekali dikunjungi secara rutin oleh kebanyakan siswa di sini, termasuk saya sendiri. Kakak memang tak terlalu populer, karena kakak selalu tersembunyi di balik tumpukan buku-buku perpustakaan. Tapi kemudian saya menemukan Kakak. Kita memulai obrolan atas alasan kepentingan wawancara. Kakak menjawab dengan sabar meski saya bertanya dengan segenap kegugupan. Terima kasih.

Setelah pertemuan itu, saya tak pernah berani menunjukkan wajah di depan kakak. Saya malu, tapi saya selalu memerhatikanmu dari kejauhan. Di sela kegiatan saya sekolah dan melaksanakan tugas liputan dan menulis di pandupena, saya selalu curi-curi waktu datang ke perpustakaan. Untuk melihatmu yang sedang membaca, diam-diam. Kamu mungkin tahu akan kelakuan saya, mungkin juga tidak. Tapi saya hanya ingin kakak tahu, bahwa di sekolah ini, pernah ada seseorang yang menyukaimu, yang mengagumimu. Itu adalah saya, Navisha alias Kuaci.

Mengapa seperti maling yang beraksi secara diam-diam? Karena bagi saya, kakak seperti gunung. Biarkan saya hanya memperhatikan kakak dari kejauhan. Karena semua gunung selalu terlihat biru dan indah hanya jika dilihat dari kejauhan. Maka, saya tak berminat mengusikmu, atau melangkah sejengkal lebih dekat padamu. Mungkin inilah yang disebut sikap pengecut. Sejauh ini, kakak bertindak cukup baik sampai akhir. Kakak tetap berdiam diri dan membiarkan saya memerhatikan pemandangan biru yang damai. Terima kasih.

Maaf, karena saya bersikap lancang begini. Syal oranye yag membungkus surat ini, semoga bisa menebus kesalahan saya yang telah lancang menyatakan perasaan ini kepada kakak. Saya berterima kasih, karena keberadaan Kakak membuat saya rajin mengunjungi perpustakaan, rajin membaca, sekaligus merasa bahagia bisa melihat kakak yang tengah membaca.

Oiya, melalui surat ini pula, saya berdoa agar kakak selalu bahagia, dan tetap rajin membaca. Kakak mungkin akan melanjutkan sekolah ke universitas yang berkualitas, semoga menjadi mahasiswa yang cerdas dan bijak.

-Kuaci-

Setelah membaca surat itu, Kapsul bingung harus berkata apa. Ia tak bisa berkomentar apa-apa. Kapsul merasa makin muram, dan Kuaci terlalu bodoh untuk merasakan kesedihan sang sahabat. Kapsul merasa, mungkin ia hanya sedikit iri, karena perhatian Kuaci terhadapnya tercuri oleh keberadaan Arian.

***

Kuaci menarik napas dalam-dalam. Mengumpulkan keberanian, dan mengambil langkah pertama memasuki pintu perpustakaan. Ia tersenyum manis kepada Bu Wahani yang sedang membaca koran. Dengan segenap keberanian, ia memasuki ruangan dalam perpustakaan, lalu menemukan Arian—yang seperti biasa—sedang membaca buku.

Kuaci pun menghampiri Arian. Tanpa prolog, ia memberikan sepucuk surat bersama syal berwarna oranye yang membungkusnya—seperti yang sudah direncanakan.

***

“Sul, saya udah kasih itu surat ke Kak Arian.”

“Sip.”

“Meski awalnya malu, tapi saya lega, Sul. Kak Arian tidak marah, bahkan kelihatannya dia terharu.” Mata Kuaciberkaca-kaca.

“Sip.”

“Tapi saya pasti akan kehilangan dia, Sul.”

“….”

“Tapi kamu akan segera melupakannya, Ci, hahaha ….”

“Kok kamu ketawa?”

“Hahahahahaha ….”

“Ci, entah kenapa saya merasa lega. Kepada si Kutu Buku Arian, selamat tinggal. Terima kasih karena kepergianmu akan mengembalikan Kuaci pada saya. Kamu harus berterima kasih karena Kuaci adalah satu-satunya orang yang menyadari keberadaanmu. Di tengah ketersembuyianmu di balik tumpukan buku perpustakaan, Kuaci perlahan datang dan sabar mengamatimu. Makanya, hanya Kuaci yang kemudian menjadi satu-satunya orang yang mengucapkan selamat tinggal pada kamu,” kata Kapsul dalam hati.

“Sul, kamu kok aneh gitu?”

“Kamu nggak perlu ngerti, kamu hanya perlu berada di sisi saya,” kata Kapsul polos, sedangkan Kuaci bengong.

-Bandung, 05112013-


Cerpen 3: Mengejar Senyum Melisa

Cerpen 3: Mengejar Senyum Melisa

Oleh Sonia Fitri

Selamat pagi dunia. Seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi ini juga setia menyuguhkan sejuk dan khidmat. Aku terbangun dengan penuh rasa syukur, karena Tuhan masih memberiku nafas dan energi untuk beranjak dari kasur. Segera, aku mengumpulkan nyawa, membasuh muka, shalat shubuh, diakhiri dengan berdoa.

Setelah kegiatan wajib itu selesai, waktu sudah menunjukkan pukul 05.30. Itu artinya, aku harus ganti baju, pakai kaos, celana training, kaus kaki dan sepatu. Kegiatan lari pagi pun dimulai. Rute lari pagi lumayan panjang.

Aku harus menyusuri dua komplek perumahan, melintasi jalan raya serta melewati sungai dan jembatan. Barulah kemudian aku bisa sampai ke taman kota, mencari tukang bubur ayam langganan untuk mengganjal perut yang lapar.

Ada ragam tantangan yang harus kuhadapi ketika lari pagi. Yang paling menyebalkan adalah gonggongan anjing di komplek perumahan itu. Padahal aku cuma numpang lewat, tapi mengapa mereka selalu menyalak gelisah dan galak. Mungkin dipikirnya aku itu maling atau penjahat kelas kakap.

Meski masih pagi buta, jalan raya selalu ramai. Orang-orang berlomba-lomba berangkat pagi agar tidak terlambat masuk kerja atau sekolah. Kalau sudah begini keadaannya, macet jalanan tak terhindarkan. Bunyi klakson kendaraan sahut-sahutan. Bising. Belum lagi asap knalpot yang menyerang udara. Sungguh menyesakkan dada.

Rute terakhir adalah jembatan. Di bawahnya ada sungai yang mengalir deras, tapi airnya berwarna coklat dan berbusa. Sungai itu mengalirkan limbah beserta sampah-sampah busuk entah ke mana. Sekadar informasi, jembatan ini cukup angker dan kerap jadi lokasi kriminal di malam hari. Kerap terdengar berita penjambretan, begal, perampokan, bahkan pemerkosaan di jembatan ini. Orang-orang yang putus asa juga menjadikan jembatan ini sebagai lokasi favorit untuk bunuh diri.

Setiap pagi aku kencang berlari melewati tiga lokasi itu. Doakan aku, kawan, semoga tubuhku tetap sehat meski momen lari pagiku harus dilewati dengan keadaan serbamenyebalkan di setiap harinya. Aku tidak bisa dan tidak mau ganti rute. Karena itu adalah lokasi tercepat menuju taman kota, sehingga aku bisa berhasil mengejar senyum Melisa.

Mari kuperjelas. Aku rutin melakukan lari pagi setiap hari bukan karena ingin punya tubuh yang bugar, bukan pula ingin menjaga kesehatan. Melisa adalah satu-satunya alasan mengapa aku punya energi untuk pergi berlari melewati komplek perumahan, jalanan serta jembatan, untuk kemudian bisa melihat senyumnya mekar di taman kota.

Melisa bukan siapa-siapa untukmu, tapi ia sangat berarti untukku. Ia merupakan sahabat terbaikku, meski sepertinya ia hanya menganggapku teman biasa, yang kebetulan satu kelas ketika kita sama-sama duduk di bangku SD. Melisa berhak menjadi sahabatku, sebab ia punya senyum paling manis sedunia. Disadarinya atau tidak, ia telah menyuntikkan semangat dan kebahagiaan yang melimpah setiap pagi berkat senyumannya itu.

Kemungkinan besar, ia tak menyadarinya. Pun, ia tak menyadari sikap dan perlakuanku yang mengistimewakannya. Tidak mengapa. Klaim sahabat ini hanya sepihak dan ia tak perlu repot-repot memberi balasan. Sebagai sahabat, tugasnya hanya satu, yakni memberikan senyumannya pda dunia setiap pagi. Dari senyuman yang indah itu, aku hanya diam diam mengambil sedikit pesonanya, agar duniaku juga bisa terlewati dengan luar biasa.

Bagaimana mungkin seseorang bisa menganggap manusia lain sebagai sahabatnya, hanya karena senyumannya? Entahlah, tapi aku bukanlah psikopat yang berniat menguntit apalagi mengancam keselamatan jiwanya. Aku hanya senang mengapresiasi keindahan ciptaan Tuhan, sebagaimana juga kamu yang senang dengan indanya bunga yang bermekaran, atau suka menatap syahdunya matahari yang tenggelam.

Begitulah aku ketika mengapresiasi senyum Melisa. Bukankah sahabat tak harus menuntut apa-apa? Ketika satu sama lain tak saling mengganggu, justru yang satu memberi manfaat sementara yang lainnya merasa dapat manfaat, jalinan persahabatan bisa terbentuk kapan saja. Sesederhana itu, bukan?

Ketika sampai di taman kota, aku mendapati Melisa yang cantik memakai kaos warna biru. Dari pelipisnya mengalir peluh yang bening, sebening embun pagi yang terselip di semak-semak itu. Ia bersama teman-temannya sedang menunggu tiga mangkok bubur ayam yang barusan dipesan.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku juga sudah berada di lokasi yang sama dengannya. Aku duduk anteng di bangku yang lainnya, memesan bubur ayam juga, sembari memerhatikannya dari kejauhan.

Ketika pesanan bubur ayam datang, lihatlah, kawan! Senyuman Melisa merekah indah. Ia tersenyum pada Nenek tukang bubur sambil mengucapkan terima kasih. Senyuman itu lebih dari cukup untuk jadi penawar rasa lelahku setelah melewati rute lari pagi yang menyebalkan. Senyuman itu juga menjadi suntikan energi yang menguatkanku dalam beraktivitas seharian.

“Bambang!” Melisa tiba-tiba memanggil namaku. Membuyarkan lamunanku. Tak sekadar memanggil, ia bahkan menghampiriku, sembari membawa senyuman manis itu.

“Sombong ya, kamu!” katanya lagi.

Aku kebingungan. Apa ada yang salah denganku?

“Setiap pagi kita ada di tempat yang sama, tapi tidak pernah mengobrol apalagi menyapa,” lanjutnya.

Aku terkesiap. Apakah selama ini Melisa sadar akan keberadaanku?

“Maaf, aku takut mengganggu,” kataku dengan nada pelan.

“Tidak mengganggu,” katanya, masih tersenyum.

“Terima kasih,” jawabku.

“Tapi mungkin besok pagi dan pagi selanjutnya kita tidak akan bertemu di sini lagi, Bang,” katanya dengan tenang. Tapi pernyataan itu mampu membuat hatiku tersayat. Apa maksudnya?

Rupanya Melisa besok akan pindah rumah ke luar pulau. Ia akan mengikuti suaminya yang dinas di salah satu kota yang jauh.

Mendengar pernyataannya, duniaku rasanya mendadak runtuh. Aku membayangkan, tak akan pernah lagi menikmati pagi. Sebab Melisa akan pergi. Dan aku belum sempat berterima kasih. Tapi sahabat tak memerlukan ucapan terima kasih. Mereka hanya ingin selalu dikenang dengan kesan yang selalu positif.

Tapi pada akhirnya kuucapkan juga.

“Melisa, terima kasih atas senyumannya.”

Lantas Melisa sejenak tertegun. Lalu ia segera tersenyum seraya mengangguk senang.

-Bandung, 2009-

Cerpen 4: Logika Pelakor

Cerpen 4: Logika Pelakor

Oleh: Sonia Fitri

Kasak-kusuk tetangga nyaring terdengar, berbisik nyinyir soal pelakor yang katanya lagi berkeliaran bebas di kampung. Obyek pembicaraan yang dimaksud yakni anak gadisnya Ajengan Jujun bernama Neng Rina. Ia merupakan gadis pendiam dan jarang sekali keluar rumah. Kemarin-kemarin ia masih jadi gadis muda yang cantik dan disegani karena berstatus anak ajengan. Tapi seketika ia berubah wujud jadi pelakor sehingga menuai cibiran tetangga.

Apa itu pelakor? Ini merupakan suatu istilah yang belakangan ini terdengar ramai di televisi, dipopulerkan oleh sejumlah tayangan infotainment, merujuk pada praktik perselingkuhan yang melibatkan kalangan artis. Pelakor adalah kepanjangan dari “Perebut Laki Orang”, atau ada juga yang menyebutnya “Perawat Laki Orang”.

Seperti diketahui, praktik poligami sangat tidak populer, bahkan dibenci oleh masyarakat modern, terutama kalangan perempuan, meski dalam agama dibolehkan. Masyarakat telah terbiasa dengan rumah tangga gaya monogami, di mana ada satu suami dan satu istri, lalu mereka membesarkan anak-anak yang lucu.

Kehadiran wanita idaman lain, atau wanita simpanan, atau apalah istilah yang beredar, adalah hal yang tercela, bahkan dalam banyak kasus menghasilkan konflik dan kehancuran rumah tangga. Praktik-praktik tersebut bisa melibatkan siapa saja, tak harus melulu selebritas.

Kembali ke urusan Neng Rina yang tengah dikatai pelakor oleh warga, ia dikabarkan akan menikah minggu depan dengan seorang dosen beranak satu yang baru saja menceraikan istrinya.

“Heran, kenapa pinangannya diterima? Nikah siri pula,” kata Ceu Odah sambil bibirnya manyun.

“Itulah kalau pertimbangannya sudah ke harta, jadi gelap mata. Tahu sendiri dosen itu statusnya PNS,” Ceu Isah menimpali.

“Jagain tuh suaminya, ibu-ibu! Sekarang pelakor bukan di TV aja, tapi udah masuk kampung,” Ceu Mimin menimpali.

Obrolan mereka berlangsung dari hari ke hari, tak kenal waktu, tak kenal tempat. Jelang pernikahan Neng Rina, cibiran-cibiran tetangga makin terdengar. Terlebih pernikahan mereka dilakukan secara tertutup, hanya disaksikan keluarga dan orang-orang terdekat saja. Tetangga tidak diundang.

Ajaibnya, Neng Rina yang notabene adalah mantan kekasihku, mengundangku untuk menyaksikan pernikahannya. Sehari sebelum ijab Kabul, ia mengirim pesan WatsApp, memintaku dengan sangat agar bisa menghadiri pernikahannya.

Aku jadi teringat tentang bagaimana kami saling jatuh cinta, menjalin hubungan yang sopan selama tiga tahun. Neng Rina adalah teman sekelasku ketika di SMA dulu. Anaknya cantik, sopan dan tidak banyak bicara. Hal yang paling aku suka darinya adalah kesederhanaannya.

Ia tak pernah keberatan dibonceng pakai motor butut. Ia juga selalu tersenyum meski aku hanya bisa membelikannya kerudung murahan untuk hadiah ulang tahunnya. Tapi kemudian hubungan itu harus berakhir karena Ayahnya tak suka denganku yang kala itu berstatus pengangguran. Di mana kerjaannya hanya luntang-lantung tidak jelas selepas lulus sekolah.

Entah bagaimana awalnya hingga kemudian Neng Rina jadi bulan-bulanan warga dengan status Pelakor. Mengapa istilahnya harus pelakor? Mengapa seolah-olah kesalahan atas kehancuran rumah tangga seseorang hanya ditujukan pada wanita?

Bagaimana dengan si lelaki yang katanya Dosen itu. Mungkin pada awalnya dia yang mulai menggoda Neng Rina. Mungkin juga sebenarnya Neng Rina tidak menginginkan pernikahan itu. Ia hanya menuruti keinginan ayahnya yang selalu egois. Memilih untuk berprasangka baik selalu lebih baik dari pada nyinyir dan mengotori mulut sendiri.

Mengapa harus dinamakan pelakor? Perebut Laki Orang. Adakah pada awalnya seorang suami memang milik istrinya. Logikanya apa hingga orang menganggap bahwa ada kepemilikan di antara dua orang yang menikah? Sebab menurutku, ketika dua orang menikah, mereka tetap punya independensinya masing-masing.

Sebelum atau sesudah menikah, mereka tetaplah orang yang punya kedaulatan dan pilihan sendiri. Mereka juga tentunya punya pilihan untuk tetap bersetia pada istri dan keluarganya, ataukah ingin menjalankan karma buruk dengan melakukan praktik perselingkuhan.

Kesesatan istilah pelakor juga tampak nyata, sebab praktik perselingkuhan itu melibatkan dua orang. Bukan hanya perempuan, tapi laki-laki juga harus dideteksi kesalahannya, jika mau. Tidak mungkin perempuan disebut “pelakor” kalau ia tidak kena rayuan, atau rayuannya disambut oleh suami orang.

Lantas aku bertanya-tanya lagi, di manakah logikanya istilah pelakor? Mengapa mulut para ibu-ibu itu terlalu jahat, padahal mereka sama-sama perempuan. Mereka juga mungkin punya anak atau saudara perempuan. Bukannya saling membela, mengapa memilih saling menjelek-jelekan.

Terlalu bising orang berteriak-teriak tentang pelakor. Padahal istilah itu sama sekali tidak ada dalam Kamus Bahasa Indonesia. Berbahasa saja mereka masih seenaknya, bagaimana mungkin mreka berani-berani usil dan menjadi hakim atas hidup orang lain. Mereka bahkan tidak tahu dan tidak mau tahu kalau misalnya Neng Rina membela diri dan memberikan klarifikasi suatu saat nanti.

Aku pun memutuskan untuk menghadiri pernikahannya. Bukan untuk mencari tahu fakta yang sebenarnya, lantas melakukan pembelaan atau justru ikut menyalahkannya. Aku hanya ingin bilang pada Neng Rina, bahwa apapun yang terjadi, aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan dan keselamatannya. Semoga dia bisa berumah tangga dengan baik dan benar, tanpa perlu tertekan dengan kasak-kusuk bising pelakor.

-Bandung, 11072018-


Cerpen 5: Perihal Mama Kuaci

Cerpen 5: Perihal Mama Kuaci

Oleh Sonia FItri

Idealnya, tak ada sosok yang paling layak dipercayai seorang anak, kecuali bundanya. Bagaimanapun keadaannya, sosok bunda seharusnya selalu berada di sisi putra-putrinya. Kebahagiaan seorang bunda adalah ketika melihat anak-anaknya bahagia. Begitu pun kesedihannya, akan terasa jika anak-anaknya tengah dilanda durja.

Beruntunglah wanita yang diberi kesempatan Tuhan untuk menjadi seorang bunda. Karena, tak ada yang lebih terhormat, kecuali menjadi asisten Tuhan mengurus nyawa manusia. Hingga surga dihadiahkan berada di telapak kakinya.

Bunda adalah sosok yang dimuliakan Tuhan, begitulah pandagan setiap orang. Kuaci ingin meyakini semua itu. Toh keberadaanya di dunia tak lepas dari perjuangan hidup-mati Bundanya. Tapi, pemikirn ideal tentang sosok Bunda selalu jauh dari jangkauannya.

Ia juga punya sesosok bunda yang dipanggilnya dengan sebutan “Mama”. Sejak kecil hingga berusia sebelas, Mamanya menitipkan Kuaci di rumah orang tua suaminya alias neneknya. Kala itu Mama sibuk bekerja di ibu kota sebagai salah satu petinggi di perusahaan perbankan swasta.

Ketika ia diambil kembali untuk hidup dalam pengasuhan Mama, hubungan di antara mereka tidak lantas merapat. Ada canggung yang terasa, tak ada rindu yang terobati. Meski sudah empat tahun hidup satu atap bersama ayah dan dua adiknya, sosok Mamanya tetap terasa seperti orang asing baginya.

***

Kuaci sekali lagi ingin meyakini, bahwa sosok Bunda adalah mulia. Dan surga berada di bawah telapak kakinya. Tapi kemarahan atas kejadian hari ini membuatnya makin tak percaya.

“Jadi, mereka resmi bercerai hari ini?” Kapsul yang sedari tadi duduk di sebelahnya mulai bertanya.

“Ya,” jawab Kuaci singkat.

“Lalu?”

“Saya diminta memilih, mau ikut dengan siapa.”

“Lalu?”

“Saya memilih Ayah.”

Lalu hening hadir di antara mereka. Kapsul terdiam, begitupun Kuaci. Kapsul tengah membayangkan jika ia berada di posisi serupa dengan Kuaci. Selama ini, ia punya keluarga yang utuh dan bahagia. Ia punya ibu yang begitu disayanginya, peduli padanya. Ia tak bisa membayangkan, bagaimana perasaannya ketika harus mengalami perpecahan dalam keluarga.

Kapsul melihat air mata yang mulai mengalir di pipi Kuaci. Ia dengan sigap meminjamkan bahunya untuk jadi tempat bersandar. Semoga posisi ini bisa sedikit mengurangi beban pikiran yang sedang ditanggung Kuaci.

“Semua pilihan adalah terbaik, Ci, jadi entah kamu memilih ikut ayah atau mamamu, semua adalah pilihan terbaik, tidak perlu terlalu sedih atau merasa bersalah,” kata Kapsul sambil mengusap pundak Kuaci. Entah mengapa di momen seperti ini ia ingin sekali banyak bicara.

“Ci, apa kamu perhan dengar kisah Labu yang Malang?” Kapsul bertanya. Kuaci menggeleng. Masih menangis.

“Pada suatu hari, sebuah labu yang mungil menggantung di pohonnya. Ia setia bergantung hingga kemudian membesar dan membesar, lalu matang. Seharusnya ketika besar dan matang, si labu harus segera disambut, diraih, dipetik, tapi si petani lebih tertarik menuai buah ceri yang warnanya menyolok. Si labu terabaikan. Masa-masa matangnya telah usai. Si Labu yang malang membusuk dan akhirnya jatuh ke tanah.”

“Apakah ini akhir ceritanya?” Kuaci bertanya.

“Ya, begitulah akhirnya, Si Labu jatuh, karena sudah terlampau bosan, layu, busuk, terbuang. Menyatu dengan tanah. Menghilang menjadi humus. Si labu tak pernah terjangkau. Petani tak peduli.”

“Kasihan…”

“Apa kamu pikir aku seperti labu itu, Sul?”

“Mengapa kamu berpikir begitu?”

Kuaci lalu bangun dari sandarannya di bahu Kapsul. Perlahan ia menjelaskan.

“Aku sejak lama tumbuh di bawah pengasuhan nenek, lalu setelah beliau meninggal, Mama dan Ayah mengambilku untuk meneruskan pengasuhan. Tapi di bawah pengasuhan mereka, aku merasa terabaikan, aku merasa bisa menghadapi semua masalah hidup sendirian, tapi aku tetap merasa jadi beban dan sama sekali tidak ada gunanya buat mereka.”

“Kamu berpikir terlalu jauh, Kuaci,” Kapsul menanggapi.

“Begitulah aku, ketika menggantungkan harapan pada Mama selama empat tahun lamanya. Harapan bahwa ia akan menjadi sosok ibu yang ideal tak terlaksana. Waktu telah membusukkan semuau penantian itu. Tak ada lagi harapan yang tergantung. Yang ada hanyalah labu yang tergeletak. Busuk,” lanjut Kuaci.

Kapsul benci mendengar penafsiran Kuaci terhadap kisah Labu barusan. “Sekarang dengarkanlah penjelasanku, Kuaci,” kata Kapsul tegas.

“Kamu seharusnya berhenti berharap tentang hal-hal ideal tentang siapapun, termasuk kepada Mamamu. Kita tidak pernah bisa mengendalikan, akan lahir dari ibu dan bapak macam apa, atau dari keluarga seperti apa. Bisakah kamu tinggal bersyukur saja, karena masih punya orang tua? Di luar sana, banyak anak yang dibuang di jalanan, tak jelas asal usulnya, tak terdeteksi orang tuanya.”

“Mama selingkuh, Sul! Ini bukan sekadar prasangka, tapi sudah tertangkap basah di depan mata kepala sendiri. Itu sungguh menyakitkan, mengecewakan!” Kuaci menangis lagi.

Kapsul jadi merasa bersalah karena telah menceritkan Kisah Labu yang Malang. Ia bukanlah orang yang pandai merangkai kata-kata manis yang menenangkan. Maksud dia dengan kisah labu itu, justru Kapsul tak ingin Kuaci seperti labu, yang lama menggantung harapan kepada sesuatu (mamanya) hingga harapan itu membesar, tapi pada akhirnya harapan itu tak terlaksana sehingga Kuaci berisiko jatuh dan membusuk.

Ia ingin Kuaci tak terlalu menggantungkan harapan. Sebab karena berharaplah, Kuaci pada akhirnya menemui kecewa. Ia mendapati Mamanya seorang yang dingin dan cuek terhadap dirinya dan keluarganya. Ia juga menyaksikan Mamanya yang menemukan kehangatan dalam pelukan lelaki lain.

Kapsul ingin meminta pada Kuaci agar tak terlalu keras menyalahkan keadaan Mamanya. Seburuk apapun, orang tua tetaplah orang tua. Sosok mereka wajib dihormati dari disayangi oleh anak-anaknya. Bahkan ketika orang tua berbuat keliru dan memalukan, anaknya wajib mengingatkan dengan cara yang sopan, untuk selanjutnya terus mendoakan kesehatan dan keselamatannya.

Tapi sepertinya Kuaci masih dalam keadaan emosi tingkat tinggi. Tugas Kapsul sekarang adalah menenangkannya, membuatnya berhenti menangis. “Tegarlah, Kuaci,” bisik Kapsul sembari merangkul.

-Bandung, 2018-

Cerpen 6: Kala Jingga Berkunjung

Cerpen 6: Kala Jingga Berkunjung

Oleh Sonia Fitri

Kala Jingga Berkunjung

“Cak Tum Tok Brai. Berkah benderang cahaya rembulan. Cak Tum Tok Brai. Mohon beri hamba pencerahan. Cak Tum Tok Brai. Cak Tum Tok Brai”.

***

Gadis itu membacakan mantra dengan canggung. Nada suaranya terdengar bergetar. Maklum, ini adalah perdana ia berkunjung. Mungkin agak risih dengan dekorasi singgasanaku yang memang diatur megah tapi mistis oleh warga sekampung. Ada jadwal tetap yang disepakati, bahwa aku hanya bisa dikunjungi pada malam kesembilan belas setiap bulan. Maka di sini ia datang sendirian, ketika malam dan ruangan temaram.

Sumber penerangan hanya dari dua buah lilin beraroma dupa beralas piring keramik di sebelah kiri dan kanan. Di langit-lagit tergantung sebuah lonceng sakti yang berguna sebagai penanda suatu maksud akan diutarakan. Lonceng juga menandakan aku telah siap “membaca” lawan bicaraku hingga sedetil-detilnya.

Sisanya hampa dan bau kemenyan. Singgasanaku dibungkus dengan tembok yang terbuat dari kayu jati berbentuk tabung. Tampak kokoh anti rayap. Si jati dicat dengan warna merah darah, warna kesukaanku. Sementara, bagian atapnya berbentuk kubah megah berwarna emas.

Tembok itu melingkupiku. Seperti bawang, akulah lapisan terdalam yang terlindungi dari dera panas dan hujan. Selalu utuh. Abadi. Warga kampung memang sangat tahu cara membalas budi. Toh berkat kemampuanku memberi petunjuk atas pilihan manusia yang membingungkan, aku memang pantas mendapatkan semua fasilitas ini.

“Ting tong ting tong,” si gadis mulai membunyikan lonceng. Tandanya ia siap bercerita, pun ia siap untuk kutelisik latar belakangnya. Seperti menekan enter di layar komputer, semua data umum tentangnya muncul: Namanya Jingga. Anak mantri desa yang miskin. Usia lima belas. Remaja keras kepala yang beranjak matang jadi wanita dewasa. Si kembang desa yang jadi rebutan para pemuda serta duda. Tapi diam-diam pria beristri pun menginginkannya jadi yang kedua.

Jingga memang primadona. Asal kau tahu, selama ini aku menunggu-nunggu kedatangannya. Sejujurnya, aku sangat ingin menjadi sahabat barunya. Jika persahabatan ini terjalin, pasti posisiku di kampung ini akan semakin kuat karena berkolaborasi dengan Jingga.

Aku penasaran bagaimana si cantik ini akan meminta. Meski ketika menghadapku ia sama sekali tak berdandan. Ia bahkan tak menyisir rambutnya yang panjang dan legam. Rambut itu hanya asal diikat saja. Biarlah, sosoknya mau bagaimanapun tetap menyuguhkan pemandangan yang menyenangkan.

“Kamu hanya seonggok nasi tumpeng yang harusnya basi, seharusnya ini hal konyol jika aku mengemis petunjukmu,” kata si gadis dengan angkuh. Dia memang bagian dari sedikit orang kampung yang meragukan kemampuanku memberi petuah. Lihatlah! Saat ini matanya melotot kurang ajar.

Cak Tum Tok Brai. Ia tambah kelihatan cantik. Ia memang sengaja ke sini bukan untuk benar-benar meminta dan membahas hal yang benar-benar penting. Ia hanya penasaran bagaimana aku bekerja dan memberi banyak petunjuk buat semua orang yang datang.

“Jadi aku akan bertanya, di antara Bentar dan Budiman, mana yang harus kupilih? Segera beri aku jawaban. Kata orang-orang, kamu memberi petunjuk lewat mimpi. Buktikanlah.” Jingga lantas berdiri tegak. Beranjak pergi. Pulang kembali ke gubuk orang tuanya.

Andai saja ia mendengar. Saat ini aku terbahak-bahak mendengar pertanyaannya. Dia memang bukan gadis biasa. Semua orang bertanya tentang petunjuk memilih istri, suami, profesi, lokasi rumah atau tanggal perayaan. Tapi ia malah menanyakan hal yang sangat remeh-temeh. Apa itu tandanya Jingga benar-benar meremehkan kesaktianku?

Dasar bocah bau kencur. Perdana menghadap, ia langsung membicarakan urusan lelaki. Meski ini sama sekali bukan soal cinta apalagi perjodohan. Cak Tum Tok Brai. Akan kuladeni permintaanmu, Jingga. Tunggu saja nanti malam. Akan kuberi kau mimpi yang tak akan pernah terbayangkan.

***

Cak Tum Tok Brai…

Di antara Bentar dan Budiman, mana yang harus Jingga pilih?

Sekali lagi aku tergelitik mengingat pertanyaan konyol itu. Jingga sudah beranjak pergi. Penduduk kampung segera bertanya penasaran, pertanyaan apa yang Jingga tujukan padaku barusan. Jingga terkenal selalu menentang keberadaanku, mencela segala hasil kerjaku. Makanya ketika ia mendatangiku, orang-orang langsung menganggap tingkah itu sebagai aksi menantang kekuatan.

Bukannya mencegah ketidaksopanan itu, penduduk desa malah ambil posisi sebagai pemirsa. Rasa kepercayaan mereka pada kesaktianku sepertinya mulai terkikis. Waktu mendesak mereka untuk menerima peradaban baru. Agama membuat mereka menjadi lemah dan kurang ajar. Seperti kayu yang dilalap api, lambat laun kesaktianku bisa sirna jika mereka sudah tidak lagi menaruh percaya.

Cak Tum Tok Brai…

Merespons pertanyaan penduduk desa, Jingga hanya bungkam sambil senyum-senyum menyebalkan. Ia melenggang pulang, dan kembali berkutat pada naskah-naskah cerita fiksinya. Aku kecewa berat! Jingga menang benar-benar menganggap kesaktianku sebagai sebuah lelucon.

Begitulah kelakuan anak muda. Merasa modern, lalu merasa kalau kepercayaan orang tua dan penduduk lama di lingkungannya sebagai hal yang kolot dan ketinggalan jaman. Tidakkah ia tahu, bahwa aku punya jasa yang sangat besar untuk kelangsungan kampung ini?

Andai saja Jingga mau duduk sejenak dan mendengar asal usul kemunculanku, serta bagaimana aku menjadi sakti dan bisa mendukung kelangsungan hidup di desa ini, pasti ceritanya akan lain. Jingga pasti akan sepenuhnya bergantung padaku, serta meminta bantuan apa saja sehingga keberuntungan berpihak padanya.

Cak Tum Tok Brai…

Akulah tumpeng sakti se-jagat raya. Pada zaman dahulu kala, seorang pendekar muda ingin mengadakan syukuran atas keberhasilannya menguasai ilmu kanuragan rahasia. Sebagai tugas terakhir, ia dapat wangsit untuk membuat tumpeng istimewa.

Apakah kamu tahu tumpeng? Ialah sejenis makanan yang terbuat dari nasi kuning yang dibentuk jadi kerucut. Tumpeng biasanya dikelilingi oleh makanan pendamping lainnya seperti sayuran dan lauk-pauk seperti ayam dan ikan.

Aku adalah tumpeng yang hanya tumpeng. Berdiri sebagai kerucut yang kokoh setinggi dua belas sentimeter. Tak ada apapun di sekelilingku selain alas nyiru dan plastik bening agar aku terlindung dari debu. Selebihnya, aku ditakdirkan abadi meski tanpa formalin atu bahan pegawet lainnya.

Pendekar sakti itu harus menjagaku dan memantrai “Cak Tum Tok Brai” secara rutin tiga hari sekali. Jika tidak, maka ilmu kanuragan yang ia peroleh dengan susah payah akan rontok. Ketika ajal menjelang, ia memutuskan untuk menyalurkan semua kesaktiannya padaku, berharap aku bisa berguna untuk keturunannya dalam menentukan pilihan hidup apa saja. Jadilah aku sekarang menjelma sebagai andalan penduduk desa.

Kepercayaan mereka adalah sumber energi terbesarku. Tapi sekarang aku malah dianggap sebagai lelucon oleh seorang bocah bernama Jingga. Sungguh menyebalkan.

Maka malam ini, aku akan memberi pelajaran agar dia jera. Cak Tum Tok Brai! Aku akan datang ke mimpinya dan merobek robek naskah ceritanya. Aku akan membuatnya percaya, bahwa Bentar dan Budiman bukanlah pilihan. Sebab mereka berdua hanya ada di alam imajinasi Jingga belaka.

Bentar dan Budiman adalah lelaki, tapi tak nyata. Jingga hanya ingin aku memberitahunya, apakah harus menggunakan nama “Bentar” ataukah “Budiman” untuk menamai tokoh utama cerita fiksinya. Benar-benar kurang ajar, bukan. Betul-betul ia meremehkanku dengan pertanyaan yang super remeh temeh.

Cak Tum Tok Brai…

Sial, berkali-kali aku mencoba masuk ke mimpinya Jingga, tapi selalu gagal. Ada apa gerangan? Oh, rupanya Jingga memutuskan untuk terjaga sepanjang malam. Ia harus kejar setoran dan memenuhi deadline menulis dari perusahaan media tempat ia bekerja.

Dengan segenap kesaktianku, aku mencoba membuatnya mengantuk dan tertidur. Tapi upayaku sia-sia. Mata Jingga tetap melotot. Otaknya tetap berpikir. Tangannya tetap bekerja mengetik di depan layar. Menyelesaikan naskah cerita tentang Bentar dan Budiman.

Pada akhirnya aku menyerah.

Aku pulang dengan banjir peluh.

Jingga sepertinya sengaja mengunjungiku, melantunkan mantera Cak Tum Tok Brai. Menantangku dengan hal sepele. Lantas aku masuk ke dalam perangkapnya. Aku mengunjunginya, lalu pulang dengan kekalahan.

Aku benar-benar kalah. Kesaktianku lenyap. Tumpeng tempatku pulang sudah diserbu belatung.

Basi.

Aku menguap ditelan pekat malam.

-Bandung, 2016-


Cerpen 7: Yang Sirna Kembali Nyata

Cerpen 7: Yang Sirna Kembali Nyata

oleh: Abank Iky (M. Rifki Khotami Nur*)

Manusia adalah makhluk yang bodoh. Mengapa???. Karena tidak ada satupun dari kita yang mengetahui hal apa yang terjadi di masa yang akan datang. Mungkin hari ini kita merasa pandai. Merasa hebat, segala bisa, baik. Tapi belum tentu yang kita miliki saat ini, bisa kita gunakan di masa yang akan datang.

Lah, banyak orang yang kecilnya bahagia, besarnya melarat. Ataupun sebalknya. Hari ini kita merancang, ini, akan itu. Besoknya, gagal. Yah, memang manusia itu makhluk yang bodoh.

***

“Tidak ada kata malu. saya harus bisa.”

Itulah motivasi hidupnya. Yang kuceritakan ini adalah seorang sahabat bernama Fahrul, di mana perjalanan hidupnya sungguh menginspirasi saya. Terhdap motivasi itu, setiap pagi otaknya selalu memutar kembali ingatan tersebut, mengingatkan dirinya sendiri. Begitulah yang harus ia lakukan. Ia tak boleh malu, dan harus terus berusaha melakukan apa yang ia bisa untuk kemajuan hidupnya. Hidup di daerah yang terpencil, jauh dari perkotaan, daerah susah listrik. PLN hanya mengalirkan listrik dari pagi hingga sore hari. Malam hari gelap gulita.

Tapi hal itu, tak pernah mematahkan semangatnya. Berbeda dengan kakak-kakaknya yang lain. Mereka harus putus sekolah. Lantaran kedua orang tua mereka tak mampu lagi membiayai. sekolah hanya tamatan SD saja, ada. Putus tengah jalan, ada. Namun, tidak dengan dia. Ia faham orang tuanya tidak memiliki biaya yang cukup. Tapi, ia merasa orang tuanya harus faham bahwa pendidikan itu lebih penting.

Menjelang ujian akhir tingkat SMP. Ia berusaha semaksimal mungkin. Ia mulai mempersiapkan dirinya, untuk belajar lebih giat lagi. Saat ini tidak ada lagi yang lebih penting kecuali guru dan buku, lalu lulus di ujian akhir. Itulah yang harus ia capai. Ia harus meyakinkan orangtuanya bahwa ia layak melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya.

Malam hari yang gelap gulita, tak sedikit pun memadamkan semangatnya untuk terus belajar. Waktu sekolah, ia manfaatkan semaksiamal mungki untuk bertanya banyak hal mengenai soal-soal ujian tahun lalu.

Bukit emas, di sanalah ia posisikan dirinya menjelang siang hari. Pekerjaan yang tidak pantas untuk tubuh kecilnya, namun ia harus melakukannya demi memeuhi kebutuhan sehari-hari dan tabungan untuk melanjutkan sekolah.

Sore harinya, ia kembali larut dalam buku pelajarannya setelah beristirahat beberapa menit. Begitulah kesehariannya hingga hari ujian dilaksanakan.

***

Setelah usaha, ikhtiarnya ia rasa telah cukup. Sekarang ia hanya bisa pasrah dan berdoa kepada allah, agar nilainya nanti dapat memuaskan hatinya. Hari- hari menunggu pengumuman, ia isi dengan lebih banyak bekerja. mengumpulkan uang sedikit demi sedikit.

Tak terasa hari yang ia tunggu-tunggu pun tiba. Paginya, ia tampak begitu gelisah. Perasaan senang, gugup, takut, bahagia, apalah itu, bercampur menjadi satu di hatinya. Namun, ketika hendak berangkat ke sekolah, langkahnya dihentikan oleh panggilan ibunya.

“Nak kesini dulu. ada yang mau mama bicarakan,” panggil ibunya.

“Iya Ma, tunggu sebentar, lepas sepatu dulu” jawabnya.

Karena tadi ia sudah siap-siap untuk berangkat. Ia berjalan menyusuri ruang tamu dan berhenti di sebuah kamar tempat ibunya berada.

“Udah siap berangkat sekolah?” tanya ibunya.

“udah ini Ma. tadi udah pakai sepatu,” jawabnya.

“Ini hmm, ada sedikit yang Mama ingin ceriain ke kamu, sebelum kamu berangkat ke sekolah”.

Tiba-tiba ia merasa darahnya sedang berada  di lampu merah. Berhenti. Pikirannya berda di lampu hijau. berfikir keras. Menebak-nebak, apa yang hendak dibicarakan oleh ibunya.

“Bagaimana, hari ini lulus atau tidak??” tanya ibunya.

“Ya semoga ma. biar bisa lanjut ke SMA” jawabnya.

“Kamu memang beda dengan kakak-kakakmu yang lain. Mama bangga punya anak seperti kamu. Belajar sangat giat. entah pagi, siang, sore, ataupun malam selalu aja belajar dan belajar. Mama juga senang kamu punya cita-cita yang bagus, pingin melanjutkan sekolah ke SMA. Tapi, ya beginilah keadaan kita. Terkadang kita bisa makan enak, dan tidak jarang pula kita makan nasi dan sayur saja.

Mama dan bapak setelah melihat kondisi yang ada…”

Pikirannya kini menjadi kacau. Dia sudah bisa menebak apa yang akan disampaikan oleh ibunya. Wanita tua itu pun melanjutkan perkataannya.

“Mama sama bapak untuk saat ini mungkin belum bisa mengirimkanmu ke SMA,” terangnya sambil meneteskan air mata.

Pemuda itu pun semakin merendahkan dirinya, tak kuasa menahan kepalanya. Ia menunduk dan terus menduduk agar ibunya tidak melihat, saat ini ia sangat sedih.

“Mngkin tahun depan kalau ada rezeki pasti mama sama bapak akan mengirimmu ke SMA,”  ibunya menguatkan.

Tak bisa ia tahan lagi. Bak awan gelap yang ingin menurunkan seluruh isinya, air yang hangat itu pun mengalir dengan lancar dan deras.

Ibunya merasa bersalah. Namun, tak ada lagi yang mampu ia lakukan selain dengan menyampaikannya saat itu juga. Agar ketika hasil ujiannya keluar, anaknya tidak terlalu kecewa dan agar ia tidak berharap terlalu jauh lagi.

***

Kini satu langkah pun terasa berat. Sebelum berangkat ke sekolah, ia pamit, lalu memeluk ibunya dan menyampaikan bahwa ia tidak keberatan tidak lanjut sekolah. Yang lebih penting hasil ujian hari ini, harus memuaskan hatinya dan hati kedua orangtuanya.

Padahal hatinya sangat sedih. Walau bagaimana pun, ia harus menerima takdir ini dan meyakini bahwa inilah yang terbaik untuknya.

Setibanya di sekolah. wajah-wajah ceria menyambutnya. Sahabat-sahabatnya berpakaian rapi. Ber-jas bagi kaum Adam, kebaya khas Sumbawa bagi kaum hawa. Entah apa yang ada di fikirannya. Ia merasa bahwa ia sendirilah yang tidak bahagia di tempat itu.

Galau, sedih, itulah yang ia rasakan.

Setelah sekian banyak acara yang terlaksanakan, sampailah pada inti acara. Pembagian ijazah dan hasil ujian akhir.

Setelah namanya disebut, ia dengan santai saja melangkahkan kaki menerima hasilnya. Lalu segera ia mengambil langkah pulang ke rumah. Ia tidak ikut bergabung denga sahabat-sahabat lain yang telah berencana merayakan kelulusan mereka.

Setibanya di rumah ia langsung menemui ibunya, dan menyerahkan ijazah dan amplop hasil ujiannya tanpa ia buka terlebih dahulu. ia ingin ibunyalah orang pertama melihat, hasil yang ia capai selama ini.

Alhamdulillah hasil yang diperoleh sangat memuaskan. Ia mampu melampaui batas minimal yang telah ditentukan pemerintah. Ibu dan keluarganya turut bangga pada dirinya. Hasil kerja keras selama ini tidak sia-sia.

Meski begitu, ia tetap sedih. Karena tidak  dapat melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya.

***

Dewasa sebelum waktunya. Itulah sebutan yang pas untuk dirinya yang kecil itu. Di umur yang masih muda, ia telah bekerja demi mengisi kekosongan. Buruh tambang emas, itulah pekerjaannya.

Masuk ke dalam gua yang begitu gelap dan pengap. Dua jam berada di dalam sana, sama halnya dengan bunuh diri. Sebab tidak ada oksigen. Setelah masuk gua, ia masih harus mencari-cari, batu mana yang sekiranya memiliki kadar emas yang banyak. Tidak tanggung-tanggung, jika ia salah mengambil, longsor bisa saja menimpa tubuh kecilnya. Risiko lainnya jika tiba-tiba mulut gua tertutup akibat longsor, tidak ada jalan keluar.

Berita banyaknya korban jiwa dan luka-luka telah ia dengar. Tapi tidak ada jalan lain lagi. Ini adalah satu-satunya jalan agar ia tidak hanya berdiam diri di rumah dan bersedih. Setelah itu, hasil pencariannya ia jual ataupun ia olah dan menjadikannya emas mentah.

Mungkin karena ia berada di daerah pelosok. hasil penjualan, tidak sesuai dengan kerja kerasnya. Namun, itu sudah cukup baginya. Mungkin karena umarnya masih kecil. Ketika memegang uang dengan jumlah seperti itu sudah sangat banyak menurutnya.

Begitulah, kegitaannya. Kira-kira hampir satu tahun ia mengarungi dunia yang begitu keras itu.

Tapi pada akhirnya ia bisa memetik buah atas kesabaran dan ketabahannya. Salah seorang tokoh masyarakat mengajaknya untuk bersekolah, bahkan dipesantrenkan. Gemilangnya, ia tidak harus membayar biaya pendidikan alias bisa bersekolah dan mesantren gratis.

Begitulah Fahrul sahabat saya. Sosok yang sekaligus juga saya banggakan atas ketabahannya mengarungi dunia. Segala sikap dan perilakunya patut dicontoh. Begitu pula semangatnya untuk maju dan setara dengan generasi muda yang tinggal di perkotaan. Saya bangga jadi sahabatnya. Saya bangga bisa belajar banyak dari sosoknya.

*Penulis adalah santri di Pondok Pesantren Agribisnis Kumala Lestari Cianjur, ditulis pada 2018


Cerpen 8: Hai, Jagoan!

Cerpen 8: Hai, Jagoan!

Oleh Sonia Fitri

“Jagoan,” kuulangi kata-kata yang sering ia lantunkan padaku. Mendengar kata ini, saya jadi teringat pada dua jagoan super, Mermaid Man dan Berneckle Boy dalam serial Sponge Bob Square Pants. Mereka jagoan super yang sudah pensiun karena faktor usia. Kerap bertingkah bodoh karena mungkin penyakit orang tua yang pikun dan pelupa.

Gadis belia itu. Bahkan namanya pun aku tak tahu. Dari perawakannya, kutebak usianya baru menginjak sekitar 14 sampai 15 tahunan. Seorang remaja yang kerempeng, namun berpipi kembung. Meski begitu untuk ukuran gadis muda, ia masih terlihat menggemaskan. Sebenarnya penampilannya biasa saja. Tas gemblok yang sudah usang berwarna kuning norak, selalu menemaninya.

Tapi ada yang lain dengan rambutnya. Jika digambarkan sekilas tampak biasa-biasa saja. Panjang rambutnya  sepunggung dan selalu dikuncir dua, di sebelah kiri dan kanan. Yang menjadi tidak biasa karena warnanya. Setiap helainya berwarna kuning merata. Membuat setiap orang yang berpapasan dengannya, tak berhenti memerhatikannya. Desas-desus mengatakan bahwa ia sangat terobsesi dengan karakter Sailor Moon.

Dasar gadis aneh. Berani-beraninya ia mengucapkan kalimat rindu, lalu menyebutku jagoannya?? Padahal kenalan pun belum sempat. Ah, daripada pusing memikirkan motif tingkah anehnya padaku, lebih baik aku bertanya langsung. Tak baik menyimpan rasa penasaran dan jengkel terlalu lama. Semua harus dibicarakan tak peduli hasilnya baik atau buruk. Bagiku, sikap jujur adalah pilihan paling bijak dalam hidup.

Dengan uang lima ratus perak, aku menyogoknya dengan membelikannya sebatang permen jagoan neon. Konon kabarnya, permen ini bisa membuat lidah menjadi berwarna-warni. Aku belum pernah mencobanya, dan tak pernah sekalipu berminat mencicipinya. Kata Mamah, permen itu mengandung racun dan zat pewarna buatan tingkat tinggi. Anehnya, mengapa anak-anak kecil dan remaja sangat menyukainya? Entahlah…

***

“Ada apa jagoan? Akhirnya kau mau menghampiriku juga,” katanya datar sambil menjilati permen yang barusan kuberikan. Lidahnya mulai berwarna kuning akibat zat pewarna itu. Ia tampak girang sambil menjulur-julurkan lidahnya di depan cermin mungil. Mungkin merasa bangga karena warna lidahnya perlahan mulai serupa dengan warna rambutnya. Rambut Sailor Moon.

***

Duh, predikat jagoan yang ia sematkan benar-benar membuatku malu. Kukira karena wajahku tampan, dan selalu menjadi bintang kelas di sekolah, makanya ia mengagumi dan selalu merindukanku. Bukan… bukan karena itu. Ia mulai menyebutku jagoan saat acara 17 agustusan tiga tahun silam. Saat itu aku menjadi juara dua lomba makan kerupuk. Aku sungguh kecewa saat itu. Seumur hidupku, aku tak pernah mengalami kekalahan. Sungguh hal yang memalukan karena tidak bisa menjadi yang pertama dalam sebuah lomba ecek-ecek. Maka dari itu, aku benci mendapat hadiah dalam predikat menjadi yang ke dua. Hadiahnya berupa tas ransel berwarna kuning yang norak.

Seenaknya, hadiah itu kubuang begitu saja di pinggir lapangan. Dan seorang gadis kecil tanggap dan memungutnya. Rupanya sejak tadi ia telah mengintaiku, seperti mengincar tas kuning tersebut. Akupun memberikannya begitu saja, dan segera melupakan hari itu. Hari dimana aku kalah dalam lomba makan kerupuk.

Aku tak tahu, kalau sang gadis rupanya sangat girang dengan tas pemberianku. Ia bercerita, bahwa sehari setelah aku memberikan tas itu, ia langsung memamerkannya di sekolah. Kepada semua teman-temannya, ia bercerita kalau tas itu pemberian dari seorang jagoan ganteng mirip pangeran Tuksedo bertopeng. Dan, jagoan tersebut adalah aku.

Ahh… sungguh memalukan. Di saat diriku yang mengabaikan sebuah hadiah, kubuang begitu saja dengan alasan kecewa karena tak jadi juara pertama. Aku tak menyangka, kalau tingkahku yang penuh kesombongan ini diartikan sebagai pemberian dan niat baik oleh seorang Sailor Moon.

“Kau adalah pangeran Mamoru, yang selalu menolong Usagi yang sedang kesulitan. Tahukah, saat itu aku bingung besok berangkat sekolah, tas sekolahku satu satunya sudah rusak dan tak bisa ditambal lagi, dan semerta-merta kau memberikannya padaku dengan mudahnya.” Sekali lagi ia mengucapkan terima kasih.

Aku memang beruntung dan bangga karena memiliki wajah ganteng, otak brilian, dan selalu menjadi pemenang. Tapi ternyata, seseorang mengagumiku justru bukan karena segala hal yang kubanggakan itu. Sederhana saja, predikat jagoan kudapat karena “hadiah juara dua perlombaan makan kerupuk di hari kemerdekaan”.

***

“Ada satu hal lagi yang ingin kukatakan, jagoan… tentang rasa rindu yang selalu kuucapkan setiap hari.”

Mataku membulat, penasaran.

“Aku rindu pada tatapan matamu yang teduh, tanpa ambisi yang menggebu, tatapan yang jernih tanpa tumpukan rasa sakit hati karena merasa dilukai.”

Ah, sejauh mana ia telah memperhatikanku???

Sebagai penggemar, harusnya ia mengerti bahwa waktu telah merubah segalanya. Kita tak boleh menuntut seseorang untuk tetap sama seperti ia di masa lalu. Seiring berjalannya waktu, banyak hal telah kulalui, pahit dan manisnya. Ia terlanjur menganggapku jagoan dan menuntutku untuk melakukan hal yang benar. Semoga ia mengerti, bahwa segala sesuatu butuh waktu. Aku bukanlah malaikat yang mudah melupakan kejadian yang lalu. Akupun tak bisa seenaknya mencairkan hati yang telah beku.

Lagi pula, aku tak perlu takut kalau gadis tembem itu akan menyadari, kalau jagoannya ini ternyata sama sekali tak punya karakteristik sebagai seorang jagoan. Masa kejayaan seorang jagoan tak akan bisa bertahan lama. Seperti Mermaid Man dan Berneckle Boy, mereka dipuja ketika mereka masih gagah perkasa. Saat masih kuat menumpas kejahatan. Tapi jika sudah lemah tak berdaya, segala pujian akan menguap dan dialihkan pada jagoan-jagoan pendatang baru. Tapi, mereka tak pernah kehilangan penggemarnya. Buktinya, Sponge Bob masih setia dan mengaguminya.

***

Berkaca dari tingkah Sponge Bob yang masih setia untuk memuja, harusnya si gadis Sailor Moon mencontohnya. Setidaknya, setelah sogokan sebatang permen jagoan neon itu, ia akan tetap memandangku sebagai jagoannya, sebagai sosok yang dirindukannya.

Hmm… rasanya ada satu hal yang aku lupa: aku belum menanyakan siapa namanya???

-Bandung, 2011-


Cerpen 9: Mata Indah Aini

Cerpen 9: Mata Indah Aini

Oleh Sonia Fitri

Dengan gesit, ia membalut dampal kakiku yang robek dengan kain perban. Sesekali aku mengaduh mengisyaratkan lilitannya perlu sedikit direnggangkan.

“Harus teratur diganti perbannya!!! Kalau enggak, nanti kakinya bisa busuk. Tuh liat, sekarang aja udah bernanah gini!!!.”

Aku hanya tersenyum. Ia begitu perhatian.

Luka ini kudapat dari seongok beling yang menganga di antara tumpukan sampah di kawasan belakang bangunan ini. Saat itu, seperti biasa aku sedang menyeleksi sampah-sampah di sana. Memilah-milah mana yang masih bisa diambil untuk dijual ke agen sampah. Memang biasanya aku tak pernah pakai alas kaki, dan pecahan kaca itu menancap seenaknya di telapak kaki. Perih, kotor dan berdarah-darah.

Ia kemudian menghela napas. Sedikit senyum menandakan pekerjaannya telah selesai. Aini namanya, ia seorang mahasiswa kebidanan tingkat dua. Seorang gadis sederhana yang rambutnya panjang sebahu. Kali ini ia mengikatnya dengan rapi ke belakang. Wajahnya putih dan berpipi merah. Bibirnya juga merah. Semuanya terlihat alami, tak terlihat ada polesan make up di sana. Ups, ada satu jerawat mungil tersembul di antara kedua alis matanya yang tebal. Makin manis saja.

“Buat nanti, kamu harus bisa mengganti perban sendiri ya, paling lama empat hari, harus segera diganti. Biar lukanya cepat kering, oke? Jangan lupa pake sandal!!! Perbannya nanti aku simpan di loker aja ya.”

“Yaah, aku maunya kamu aja yang mengganti perban ini, biar lebih afdol dan pasti sembuhnya juga lebih cepet,” kataku menggodanya.

“Huu, maunya,” ia menepuk bahuku sambil menyunggingkan tawa.

***

Aini, pernah kutanyakan arti nama ini langsung padanya. Kata Aini, nama ini berasal dari bahasa arab, artinya ‘Mata’. Aku tak tahu nama panjangnya apa, tapi kukira, orang tuanya cerdas menamakannya begitu.

Matanya memang indah, benar-benar indah.

Ada segenap kasih sayang terpancara dari mata indah itu. sejak kedatangannya bergaung di sini, mata itu tak pernah jengah mengisyaratkan ketidak sukaannya pada lingkungan di sini. Ia selalu sabar menghadapi kelakuan adik-adikku yang badannya bau sampah, bertubuh kecil dan kumal.

Mereka adik-adik yang senasib denganku. Lahir dari jalanan, tumbuh dan dibesarkan di jalanan pula. bahkan ada yang muncul tiba-tiba dari tumpukan sampah busuk pasar.kebanyakan orang yang mengaku intelek itu menyebutku dan adik-adikku ‘Anak Jalanan’. Bahkan konon kabarnya, pihak negara mengakui dalam undang-undangnya, kalau kami itu dipelihara oleh negara.

Aku maklum, pasti negaraku begitu miskin sehingga memelihara kami di balik bangunan mewah nan tinggi pencakar langit. Kami bersembunyi di pojokan, di kawasan paling kumuh di kota ini. disatukan diantara tumpukan sampah, dibiarkan bertebaran sambil mengasongkan tangan, meminta-minta di jalanan sambil menyanyikan tembang kenangan.

***

Aini, kali ini telah beranjak pergi, menghampiri adik-adikku di sebelah sana. Bocah-bocah lugu itu tengah sibuk menyalin huruf yang barusan Aini ukir di papan tulis hitam.

Energi dan tingkah hiperaktif harus sejenak mereka redam di tempat ini. bangunan mungil yang kami namakan ruang kelas. Meski tanpa meja dan bangku. Dari pagi, adik-adikku telah berpanas-panasan ria, menghirup asap knalpot jalanan sambil dipanggang matahari. Biarlah, mereka sudah terbiasa dengan ini.

Mereka menyodorkan tangan pada setiap orang yang lewat, atau mengetuk-ngetuk pintu mobil mewah, dan ebrharap dapat receh untuk makan hari ini. dua ribu rupiah mereka sisihkan untuk membeli sekaleng kecil lem beraroma surga. Setiap hari mereka merasa wajib menghirup bau menyengat cairan kuning kental Aibon. Aku, mereka, para intelek di luar sana, juga Aini menyebut kebiasaan berbahaya mereka itu ‘Ngelem’.

***

Sorenya, setelah lelah menjalani hari, mereka akan pulang kemari. Mencuci kaki lalu membuka buku dan menggenggam pinsil. Belajar Calistung dengan Aini. Baca, tulis dan berhitung. Adik-adikku, kalian tak bisa seenaknya di ruangan ini. aini akan menjadi sang pegnatur yang membimbing atau kalau perlu, memaksa mereka belajar. Jika saja kakiku sudah sembuh, pasti kali ini aku tengah berada di sisi Aini, mendampinginya membimbing adik-adikku sayang.

Adzan maghrib berkumandang, gelombang suaranya menyelinap ke seluruh penjuru pasar, bahkan sampai ke ruangan pengap ini. adik-adikku terlihat senang dan memamerkan gigi-gigi kuning mereka. Ini tandanya waktu belajar telah usai. Aini dengan sigap memimpin mereka untuk berdoa dan mengajak mereka bergegas ke WC umum pasar, mengambil air wudlu.

Ini agenda rutin. Seusai belajar kami akan shalat maghrib berjamaah, lalu kemudian pulang ke kediaman masing-masing. Ada yang ke pojokan terminal, kolong jembatan, atau ke rumah kardus di pinggir kawasan sampah yang menumpuk.

Masih kulihat pancaran mata itu. Mata Aini.

***

Aini yang wangi, sudah terbiasa dengan keadaan kumuh ini. ia terbiasa berjabat tangan bahkan berpelukan dengan adik-adikku sayang. Tapi tidak denganku!!! Umurku lebih tua dua tahun darinya. Kami katanya sudah sama-sama dewasa. Jadi, jarak adalah penting dalam pergaulan kami.

Tapi kali ini aku cukup senang. Dengan terpincang-pincang aku dipapahnya menuju tempat wudlu. Ini pengalaman langka kawan. Jarang-jarang aku bisa sedekat ini dengannya. Ia cantik, ia selalu tulus,

Aku… Bolehkah aku menyukainya?

Bolehkah seorang pemuda yang sudah mengerak oleh karat jalanan ini menyukai seorang putri yang wangi, yang baik hati, yang bermata indah ini?

Malam menjemput. Aku dan Aini masih berbincang ringan tentang adik-adikku sayang. Aini menanyakan kenapa Septa, salah satu adikku sudah seminggu ini tak ikut belajar? Padahal ia cerdas dan pandai berhitung.

Kubilang, ia mati digilas kereta api minggu lalu. Aini terlihat kaget. Ia menangis. Kulihat mata itu mengeluarkan mutiara-mutiara yang kilauannya memantul ke mataku.

Kuusap-usap pundaknya, berharap hatinya bisa lebih tenang. Tapi akut ak bisa berlama-lama berbuat begitu. Seorang pemuda tampan dan bersih datang tiba-tiba. Ia terlihat seperti pangeran tampan yang akan membebaskan puterinya dari kubangan lumpur menjijikan. Ya, pemuda itu menjemputnya pulang.

Pergilah Aini, pergilah…

Tempatmu bukan di sini, tapi bisakah kau tetap menjadikan tempat ini sebagai persinggahanmu?

Jangan pernah lupa untuk kemari lagi, mengganti kain perban yang membalut telapak kakiku. Memberikan kasih sayang itu.

-Bandung, 2010-

*Penulis adalah santri di Pondok Pesantren Agribisnis Kumala Lestari Cianjur, ditulis pada 2018

Cerpen 10: Terminal

Oleh: Sonia Fitri

Kepada Kapsul

Di Bandung

Salam ….

Sul, semoga kamu masih penasaran dengan perjalanan saya dua hari yang lalu? Karena surat ini didominasi oleh catatan perjalanan singkat. Ketika itu, hari masih pagi buta. Saya masih saja belum bisa mandiri untuk bangun pagi, tetapi menjelang shubuh hari saya harus bergegas bangun dan pergi ke kamar mandi, berwudlu tanpa mandi, shalat shubuh, kemudian segera menyiapkan diri, menjemput perjalanan yang diprediksi akan panjang, dimulai dari Terminal Kampung Rambutan.

Waktu menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit. Suasana di terminal cukup sepi, becek, dan gelap, begitulah keadaannya ketika saya menerobos bus-bus yang berbaris di terminal. Akhirnya sampai juga ke barisan terdepan, di mana di sana ada bus yang akan saya tumpangi. Sesekali beberapa bapak-bapak menghampiri dan bertanya “Mau kemana, Teh/Neng?”. Mereka bertanya dengan menyergap dan sesekali berteriak. Tapi mereka pastinya tak bermaksud menakut-nakuti apalagi jahat. Memang begitulah rata-rata gaya bicara kenek elp atau bus. Tugas mereka mencari penumpang agar bus mereka masing-masing bisa segera penuh dan mereka bisa segera berangkat ke tujuan.

Terminal adalah tempat singgah di setiap perjalanan bagi semua orang yang datang. Tempat singgah pula bagi saya ketika melakukan perjalanan pulang ke rumah orang tua di Bandung. Makanya, terminal ini menjadi bagian dari kenangan. Di sini saya pernah tersesat. Pernah pula ditodong pengemis. Di sini, saya juga sempat membeli bakso, nasi goreng, dan batagor. Tempat singgah memang harus menyediakan mmakanan bagi mereka yang lapar. Di terminal ini, saya juga sering berjam-jam menunggu bus, atau ketinggalan bus. Terminal adalah tempat yang lelah. Tapi, ia meminta kita untuk jangan berlama-lama berada di dalamnya, karena perjalanan harus segera dilanjutkan. Jangan berlama-lama rehat karena bisa-bisa kita menemui bahaya yang tak diduga duga.

Di Terminal, saya juga beberapa kali bertemu teman-teman lama secara kebetulan. Kebetulan bertemu di bus, atau kebetulan bertemu ketika sedang menunggu bus. Kebetulan lainnya adalah, saya kerap bertemu teman yang sama di tempat-tempat itu. Terminal memang ramai, tapi kita harus berjaga, bahkan menutup pintu untuk orang asing. Terminal yang ramai pun menjadi terasa sepi dan melelahkan. Maka, keberadaan teman di situasi-situasi macam begini selalu berguna. Mereka bisa jadi penghilang sepi.

Sempat saya berpikir, mungkin hidup hanya terdiri dari dua pilihan: melakukan perjalanan, atau berdiam diri. Keduanya melelahkan, tetapi lebih baik berjalan dari pada berdiam diri. Begitukah? Tapi, kenapa sekarang saya mulai menganalisa kehidupan? Bukankah segalanya sudah ditetapkan? Maka kemudian saya berubah pikiran. Apapun konsep kehidupan yang telah digariskan Allah, pasti itu adalah yang terbaik untuk kesehatan jiwa dan raga setiap hamba. Dialah Dzat yang Mahabaik.

Ya sudahlah. Setelah beli nasi kuning untuk sarapan dan beberapa permen serta minuman, saya segera masuk bus. Perjalanan akan memakan waktu berjam-jam. Makanan dan minuman amat sangat berguna nantinya.

***

Jam tangan yang barusan saya lirik menunjukkan angka 05.35. Udara dingin shubuh hari bercampur dengan angin dingin AC. Kondisi ini membuat migrain saya kumat. Daripada menahan sakit kepala, saya pun memilih untuk tidur. Lagipula mau mengobrol dengan siapa. Saya sendirian bersama orang asing di sini.

Bangku bergetar. Mesin menderu. Bus mulai bergerak maju. Angin dingin AC di atas kepala segera saya matikan. Di sini terlalu dingin untuk memulai perjalanan panjang.

***

Ketika terbangun, di luar sana langit sudah terang. Matahari menjalankan tugasnya dengan baik untuk menghangatkan pagi. Sambil mendengarkan playlist yang masih berputar dengan beberapa lagu dari Taylor Swift, Demi Lovato, dan sountrak film Tinker Bell: Mean, Gift of a Friend, Back to December, Magic Mirror, dll, saya penasaran membuka google map dari handphone. Google map memberikan layanan peta digital yang dapat menunjukkan di mana posisi kita sekarang, dan berapa jauh lagi perkiraan jarak ke lokasi tujuan. Mengesankan. Teknologi selalu membuat keajaiban-keajaiban. Saya jadi berpikir tentang peta Marauder yang diberikan si kembar Fred dan George kepada Harry Potter untuk mengetahui di mana letak orang di lokasi manapun. Bagaimana nantinya teknologi bisa membuat semua orang saling memata-matai. Maka dari itu keajaiban tak boleh dimiliki serempak oleh sembarang orang. Jika itu terjadi, keajaiban mungkin bisa jadi hal yang menyeramkan.

***

Kamu pun tahu, beberapa bulan ini, saya tengah merasa sedih karena mengalami beberapa kegagalan dalam hidup. Sempat saya berpikir untuk  tertidur saja hingga semuanya berakhir. Merasa diri tak berguna, tak berkualitas, dan selalu gagal dalam hidup. Saya tahu, meratap dan menggerutu adalah tindakan yang salah. Tapi ketika kamu mengalami hal tersebut, butuh perjuangan yang besar untuk melawan perasaan negatif itu. Kita menjadi terlena dan tak mau bergerak. Tak ada semangat, merasa tak punya harapan. Lalu kita mulai berpikir bahwa semua orang tak mau peduli. Tak ada yang bisa memahami dan mendengarkan rasa sakit ini, apalagi menolong. Karena perasaan tertekan itu, penyakit pun mulai merambat ke hal-hal fisik. Saya merupakan satu di antaranya. Selama masa-masa ini, saya sering sakit-sakitan.

Kejadian ini membuat saya merenung lagi. Selama ini, saya pasti terlalu angkuh. Saya juga selalu merasa hebat, padahal itu hanya perasaan saya saja. Begitulah. Saya pun mulai banyak diam dan merenung. Mungkin memang banyak hal yang mesti direnungkan, dalam prosesi pertobatan.

***

Lihatlah di luar kaca sana. Banyak orang yang berdagang, meminta-minta, mengamen, menjadi supir, atau berada di kolong jembatan. Apa yang sedang mereka pikirkan sekarang? Lihatlah, mereka bisa tersenyum di tengah kepahitan hidup. Mereka bisa menghadapi kesulitan. Selalu ada keceriaan dari para bocah kumal yang berlarian. Bagaimana pak supir tahan berada di jalanan sepanjang hari, bulak balik antar terminal. Menghadapi panas dan hujan serta orang-orang yang bermacam-macam. Mereka, orang-orang jalanan itu adalah orang-orang yang kuat. Berpikirlah …!

***

Jam sembilan lebih beberapa menit, kami pun sampai di terminal Baranang Siang. Dilanjutkan dengan naik bus trans selama satu jam, akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Mencari lokasi, bertanya pada bapak satpam, memasuki ruangan, registrasi, menunggu, berdiskusi, membicarakan tentang permasalahan pendidikan dengan orang-orang asing, menunggu lagi, lalu menerima hasil seleksi. Prosedur itu terasa singkat. Dan sebagaimana telah diprediksi, saya gagal lagi. Tak banyak yang perlu dijelaskan di sini. Pada intinya, saya gagal lagi ketika mencoba menjadi bagian dari pengajar di Sekolah Guru Nasional.

Bertemu seorang teman lama, berbincang tentang kesibukan dan karier, bertanya seputar kelancaran diskusi dan proses seleksi, berbasa basi, shalat dzuhur, menunggu hujan sambil merenung sekali lagi, berbincang dengan kamu tentang kegagalan itu, dan kita pada akhirnya sadar bahwa kita terlalu kecil dan kurang cukup menanam untuk meraih apa yang kita inginkan hari ini.

Kamu pernah bilang, bahwa terkadang kita harus pasrah menerima ketetapan Tuhan. Kita berputar-putar mencari tempat atau orang terbaik, lalu berkali-kali menghindari apa yang sudah tersedia di depan mata. Kita merasa lelah dengan pencarian yang panjang diwarnai kegagalan. Pada akhirnya, kita harus pasrah, menerima apa yang selama ini kita hindari. Karena rupanya yang kita hindari justru adalah yang terbaik untuk kita menurut Allah. Pernyataanmu itu membuat saya berpikir sekali lagi. Saya tak tahu harus menanggapinya seperti apa. Saya tak mau buru-buru menyatakan setuju atau tidak setuju. Saya  hanya tersenyum. Berpikir dan berpikir lagi.

***

Menjelang petang, menunggu bus di tepi jalan, kali ini tak lagi sendirian. Diiringi gerimis yang awet, saya ditemani si teman lama. Kami melanjutkan basa basi sambil bercanda sekedarnya. Kemudian bus pun datang. Kami berdua berniat pulang ke kota yang sama: Jakarta.

***

Kamu tahu kan, saya selalu tidur di dalam kendaraan. Tapi kali ini tidak. Sepanjang jalan, terjadi perbincangan panjang dengan si kawan lama.

Saya senang bertemu teman lama. Saya senang karena tak lagi sendirian. Kamu pasti bertanya, siapa dia? Dia Kak Arian. Ingat? Semenjak merantau ke Jakarta, saya baru sadar kalau kami memang beberapa kali bertemu secara kebetulan. Uniknya, saya bertemu dengannya di setiap momentum yang cukup penting di hidup saya.

Obrolan dimulai dengan komentarnya yang mengatakan bahwa dunia itu sempit. Kita telah berpencar jauh, tapi bisa kebetulan bertemu dengan orang yang itu-itu lagi. saya balas dia dengan menyetujui komentarnya dan mengatakan bosan, karena selalu bertemu orang lama. Dia tahu, saya hanya bercanda.

Dia banyak berbicara sepanjang jalan. Sikap itu cocok dalam menghadapi saya sedang belajar untuk menjadi kalem. Jika kami sama-sama diam, mungkin perjalanan akan membosankan dan saya akan terlelap seenaknya. Kami pun mulai menceritakan beberapa hal. Tentang cerita KKN, pengamen, ibu-ibu yang berjualan di pinggir jalan, karier, kampus, dan hal-hal lainnya. Saya tak begitu ingat. Ia juga mulai menanyakan beberapa hal tentang diri saya.

Ia bertanya tentang perasaan saya seusai menjadi sarjana, dan wisuda. Saya bilang, “biasa saja”. Dia pun mulai mengkritik saya. Katanya, saya itu orang yang kurang motivasi. Seharusnya saya bersemangat dan mantap menetapkan tujuan hidup. Seharusnya saya tidak menjadi mayat hidup. Seharusnya saya tak menjalani gaya hidup yang mengalir seperti air, atau seperti musim yag berganti. Saya jadi malu akan nasihat-nasihatnya. Sepakat. Seharusnya saya berani memantapkan tujuan. Tapi saya malah bersikap santai. Terima kasih atas nasihatnya. Jarang orang yang mau memberikan kritik yang jujur untuk kemajuan yang lainnya. Sekali lagi terima kasih. Komentar yang jujur itu sangat berarti dan melengkapi upaya perubahan diri yang bobrok ini.

Katanya juga, saya tak boleh banyak bercerita tentang masalah saya pada semua orang. Lalu saya jawab, bahwa saya hanya menceritakan masalah saya pada orang-orang pilihan. Apakah dia terusik karena saya sempat cerita tentang masalah saya sesekali padanya? Apakah selama ini ia terganggu? Saya tak tahu. Tapi saya punya alasan kenapa ia menjadi satu dari sedikit pilihan. Dia adalah orang yang bisa dipercaya, dan pikirannya logis. Bahkan, permasalahan yang tidak pernah saya ceritakan kepada kamu, malah saya ceritakan kepadanya. Saya hanya ingin berbagi sedikit beban, agar hati saya lega. Egois bukan? Jadi ketika saya cerita, cukup dengarkan saja. jika malas memberi nasihat, segera lupakan apa yang barusan saya ceritakan.

Tapi saya berniat menuruti nasihatnya. Saya akan belajar untuk tutup mulut. Mengendalikan hati dari nafsu bercerita banyak hal kepada orang-orang tertentu. Seperti nasihatnya, kita punya Tuhan yang menjadi satu-satunya tempat mengadu.

***

Dia menanyakan bagaimana pandangan saya terhadap dirinya ketika zaman SMA dulu. Saya termenung. Seharusnya saya menjawab dengan lancar. Tetapi saya hanya diam pada awalnya. Bagaimana bisa saya tak mengetahui keadaan orang yang pernah saya sukai. Karena yang saya tahu adalah bagaimana saya mengamati diri sendiri, dan sekarang. Ini pertanyaan yang sulit. Bahkan lebih sulit dari pertanyaan-pertanyaan TOEFL yang kemarin untuk pertama kalinya saya jalani.

“Saya nggak tahu,” kata saya gugup. Saya tak tahu, apakah dia kecewa atau menganggap aneh terhadap saya, tapi saya rasa dia bersikap santai-santai saja.

“Tapi saya lebih suka kamu yang dulu,” kata saya spontan.

Ehh… sialnya, dia bertanya lagi.

“Kenapa?”

Dan saya hanya geleng-geleng kepala. Mungkin alasannya karena rasa suka saya padanya sudah kadaluarsa. Saat ini, ia menjadi sekadar teman saja, dan tak lagi menjadi idola. Saat ini dia tak lagi berada di perpustakaan bersama tumpukan buku-buku tebal. Saat ini dia memakai kontak lensa, bukan kacamata. Semua tampak berbeda. bukan berarti Arian yang sekarang tidak baik. Arian tetap baik, tapi ia tak lagi jadi idola. Kadaluarsa.

***

Adzan maghrib berkumandang. Dan kami telah menepi di terminal. Kami segera turun dari bus, shalat, makan nasi goreng, lalu beranjak pulang ke kontrakan masing-masing. Kurang lebih sekian catatan perjalanan yang bisa saya bagi kepadamu. Wasalam.

Salam, Kuaci

-Bandung, 2013-

Cerpen 11: Anne

Oleh Sonia Fitri

Pagi itu rasanya terlalu sulit untuk dicerna. Ada kabar dari Anne, salah satu sahabat baik saya, bahwa ia akan menghelat operasi guna mengangkat benda asing berukuran sepuluh senti yang mengganggu tubuhnya. Kala itu, saya yang tengah membantu Emak memasak di dapur lantas tertegun. Mengapa tiba-tiba sakit? Haruskah operasi?

Sebenarnya rencana operasi telah terprediksi beberapa hari sebelumnya. Anne mengeluhkan kondisi badannya yang kurang menyenangkan. Keluhan itu makin terasa dramatis karena Anne juga mengutarakan firasat jeleknya tentang kondisi tersebut. Ketika itu saya agak jengkel dengan sikapnya. Saya tak suka ia membangun pikiran jelek di kepalanya, sebab seharusnya tidak ada sesuatu yang serius menimpa tubuhnya.

Tapi bisa jadi pikiran jelek itu bukan sengaja ia cipta. Bagaimana mengendalikan pikiran agar selalu berpikir yang bahagia-bahagia saja meski realita terasa sulit diterima? Siapa pula manusia yang ingin merasakan sakit yang mengkhawatirkan kelangsungan hidupnya? Pasti kondisi itu begitu sulit untuknya. Lantas kabar operasi itu datang. Saya tertegun. Perih.

Yane alias Anne adalah salah satu teman terdekat saya. Kami bertemu di kampus pada 2009 sebagai teman sekelas. Entah dapat energi dari mana, kami bersama beberapa teman mengelompok dan menjadi dekat. Ia yang paling banyak jadi obyek saya dalam berbagi cerita keseharian sebagai mahasiswa, menemani dan membantu melewati tugas kuliah dan organisasi dengan ceria, serta menjadi teman makan cilok, mi ayam ataupun cuanki. Strikam memang tukang jajan sejati.

Dia dan orang tuanya juga beberapa kali menjadi penyelamat saya sehingga  bisa jadi sarjana. Salah satu contoh, ketika saya tidak punya biaya bayar uang semesteran sementara tenggat waktu hampir lewat. Dialah yang tangannya terbuka memberikan bantuan uang tanpa curiga, tanpa membuat rasa minder terbawa-bawa. Entah berapa kali pula dia dan kawan-kawan Strikam membuat saya tak kelaparan karena kami rajin berbagi makanan.

Setelah sama-sama lulus kuliah, ruang dan waktu tidak lagi berpihak pada kebersamaan kami. Ada tujuan hidup sendiri-sendiri yang mesti diraih dengan taruhan mengikhlaskan Strikam. Saya jadi pragmatis, berinteraksi dengan orang-orang baru berdasarkan kepentingan-kepentingan sesaat. Anehnya, meski tidak melulu intens, komunikasi saya dan Anne selalu terjalin begitu saja, tanpa paksaan juga tuntutan. Saya nyaman ketika bisa berinteraksi dengannya untuk sekadar berbagi cerita seputar pekerjaan maupun kecengan, meski hanya lewat dunia maya. Keberadaannya sangat banyak membantu saya menjaga kewarasan.

Siapa sangka, interaksi kami yang berkelanjutan ini melahirkan sejumlah jejak. Bukannya belagu, tapi ada dua novel kolaborasi yang rampung, ada pula sejumlah catatan yang mejeng di blog karena saya tersemangati untuk “pamer” padanya. Obrolan kami sehari-hari memang banyak rumpi, tapi bukan untuk sibuk mengurusi urusan orang. Kami justrru sibuk berimajinasi, berbagi lagu dan puisi, juga menghibur diri dengan misalnya sama-sama mencari tahu tentang triplets dan Flumpool. Jejak ini memang sederhana dan mungkin sepele. Tapi bagi saya ini mewah.

Kembali ke pertanyaan saya di awal, Mengapa tiba-tiba sakit? Haruskah operasi? Ada banyak rasa sakit yang berkeliaran di dunia, tapi mengapa harus penyakit itu yang dideranya. Mengapa tidak diberi saja ia sakit flu atau bisul, lalu sekali minum obat generik, pakai salep 88, sembuh. Mengapa malah penyakit dramatis seperti yang suka disebut-sebut di sinetron? Mengapa pula buru-buru operasi padahal ada batu Ponari yang mampu mengusir penyakit secara instan? Terdeteksinya penyakit serta tindakan yang berlaku buatnya berlangsung sangat cepat, sehingga tidak ada yang bisa saya lakukan selain tertegun di kejauhan.

Ada orang berkata bahwa sakit fisik itu pada awalnya berasal dari pikiran. Ada juga salah satu ustad kenamaan mengatakan, penyakit datang dari akhlak yang jelek. Maka dari itu menjaga pikiran tetap positif dan hati terjaga kebersihannya adalah penting, agar kita selalu sehat walafiat. Pandangan itu saya yakini sejak lama, tapi berubah karena kejadian Anne. Entah bagaimana ia, pikirannya dan kualitas hatinya saat ini, tapi saya tahu dia orang baik dan gemar berpikir positif.

Penyakit yang datang, kejadian operasi serta proses pemulihan yang tertatih-tatih saat ini pastilah sudah direncanakan Tuhan dengan apik. Barangkali inilah yang menjadi jalan Yane untuk berdekatan dengan-Nya. Tuhan telah percaya bahwa ia punya segenap kekuatan super untuk melewatinya. Tuhan juga pastinya telah menyiapkan kejutan yang super gemilang setelah semua kesakitan itu terlewati kelak.

Dalam drama di layar kaca diceritakan bahwa operasi adalah solusi dari segala-galanya. Tinggal iris perut atau bagian tubuh lainnya, potong dan buang bagian yang busuk, jahit lagi, dan selesai. Pasien akan sembuh seperti sedia kala. Tapi rupanya realita tak semudah yang terceritakan di drama korea. Pastinya ada beragam kesakitan dan kekhawatiran dalam proses pemulihan yang durasinya lama.

Sebagai teman yang belum dapat kesempatan menjenguknya, apa yang harus saya bilang padanya. Dosakah saya bila berharap ia sejenak mati rasa? Alangkah lebih mudah jika ia tidur saja, anggap semua ini hanya mimpi buruk. Anne baru boleh bangun jika proses pemulihan telah lewat. Saya tahu ini saran yang salah. Saya tahu kalau seharusnya saya bilang padanya untuk menghadapinya dengan tenaga gatot kaca. Saya berharap ia menjalani hari-harinya dengan baik, tapi sulit membayangkan ia bisa tegar sebagaimana teori ideal yang mudah diucapkan lewat kata-kata.

Tapi saya yakin Anne pun tahu, bahwa segala kejadian, baik itu yang suka maupun duka, mengandung banyak pelajaran. Idealnya, kejadian ini harus disyukuri sebagai kesempatan berbenah diri, melatih sabar hati serta dzikir tiada henti. Saya tahu, dia pasti bisa. Semoga segenap doa dari sini tersampaikan padanya agar sedikit menambah kekuatan buatnya. Amin.

-Bandung, 06012018-

*Penulis adalah santri di Pondok Pesantren Agribisnis Kumala Lestari Cianjur, ditulis pada 2018

 

Cerpen 12: Sahabat Petani (Balada Keluarga Petani)

Oleh Nurzaman*

Di sebuah desa, tepatnya di pelosok Kabupaten Karawang Nagreg hiduplah sebuah keluarga petani kecil yang sejahtera dan bahagia. Kehidupan mereka harmonis walaupun dengan segala kekurangan dan keterbatasan. Berbekal perjuangan dan kegigihan dalam bertani, mereka berhasil membuat ladang kecil-kecilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

***

Rayhan, anak sulung di keluarga itu pada suatu hari beranya pada bapaknya.

“Bapak, kenapa kita harus sibuk bertani, apakah tidak ada perkerjaan lain yang mudah dan cepat menghasilkan uang,” kata Rayhan sambil memasang wajah datar.

Mendengar pertanyaan itu, Bapaknya hanya tersenyum lalu duduk di samping anaknya dan segera menjelaskan.

“Anakku, bukan masalah uang atau harta yang bapak cari,  sama sekali bukan itu,” kata bapaknya dengan nada meyakinkan.

“Lalu apa yang bapak cari selama ini dengan bertani? Apakah hanya dengan bertani kita akan menjadi kaya?” jawab Reyhan ketus.

“Dengar anakku! Bapak bertani bukan karena harta duniawi yang bapak utamakan, melainkan ini semacam panggilan hidup bagi bapak,” katanya tenang.

“Panggilan hidup yang bapak maksud,” lanjut Bapaknya, “Ialah panggilan hidup untuk saling membantu, menolong, gotong royong dan hidup rukun bersama warga yang lain”.

Reyhan mendengarkan dengan takzim, tidak membantah sedikit pun.

“Dengan bertani, kita bisa berbagi dengan petani lain dan kita bisa saling menolong jikalau ada ladang yang dirusak hama contohnya, itu semua kan kebaikan yang membuat desa kita rukun dan damai”.

Selanjutnya, bapaknya menceritakan pengalamannya ketika muda dulu. Wajah Reyhan seketika cerah dan siap mendengarkan dengan seksama.

“Ayo pak ceritakan-ceritakan!”. Reyhan kegirangan sambil menarik-narik lengan baju bapaknya.

***

Bapak Reyhan bercerita, dulu dia pernah berkerja sebagai pelayan toko kelontong. Pemiliknya seorang warga keturunan cina yang terkenal amat pelit. Saking pelitnya dia sampai tega mengurangi timbangan agar dapat meraih keuntungan sebanyak-banyaknya.

Setelah mengetahui kelakuan buruk majikannya itu Bapak Reyhan memutuskan keluar dari perkerjaannya dan pindah kerja di pasar. Profesi apapun ia geluti dari mulai jadi tukang parkir hingga satpam. Namun tidak ada satu pun yang pas di hatinya. Menurutnya setiap profesi di pasar itu ada kelicikan  yang menyelimutinya.

Pada akhirnya, ia pun memilih untuk pulang ke kampung halamannya dan memilih untuk menjadi seorang petani.

“Nah, itulah kisah singkat bapak dulu dan alasan kenapa bapak memilih dan memutuskan untuk jadi petani”. Berkata bapaknya.

***

Akhirnya setelah percakapan dengan bapaknya sore tadi, Rayhan pun banyak berfikir tentang nuansa indahnya pertanian. Apalagi setelah mendengar perkataan bapaknya bahwa bertani adalah perkerjaan mulia. Dia samakin tertarik untuk mendalami pertanian.

TAMAT

PETANI

Ohh petani…

Sungguh mulia jasamu…

Sungguh besar pengorbananmu…

Bagi negri yang subur ini…

Berapa banyak pohon yang sudah kau tanam

Berapa banyak tempat gundul terhijaukan

Berapa banyak orang termudahkan dalam sanganpadang

Dan berapa banyak keringat yang telah kau cucurkan

Tapi,

Kenapa masih banyak orang yang memandang sebelah mata padamu

Menganggapmu orang yang tersisihkan

Padahal jasamu begitu banyak bagi kami

Terimakasih wahai petani jasamu kan ku kenang

Sampai akhir nanti…

*Penulis merupakan santri di Pondok Pesantren Kumala Lestari Cianjur, ditulis pada 2018

Cerpen 13: Ketika Lion Air Membawaku Pergi

Oleh: Pradipta Maulana

Meninggalkanmu

Aku sangat ingat tanggal 27

Di mana aku pergi meninggalkanmu

Aku sangat ingat air mata itu

Di mana aku mengusapnya bersama isak tangismu…

Aku sangat ingat hari itu

Di mana kau bersandar di pundakku

Mengucapkan ribuan kata cinta

Agar perpisahan tak hadir di antara kita

Juwitaku..

Tak pernah ada harap berpisah denganmu..

***

Rabu 26 Desember 2016

Ditha..

Dalam sunyinya malam aku mengingatmu. Cahaya bulan dan bintang, tak berarti apa-apa dibandingkan cintamu padaku. Tak pernah hariku berlalu tanpa pesan singkat darimu. Aku senang ketika melihatmu cemburu, karena aku merasa benih-benih cinta itu benar tumbuh di lubuk hatimu. Perpisahan bukanlah suatu hal yang aku inginkan, hanya saja, waktu memaksaku menjauh darimu.

***

Sore yang begitu indah, semilir angin menemaniku menanti Ditha di bibir pantai. Entah mengapa, gadis itu mengajakku bertemu menjelang hari kepergianku menuju Bandung. Ini adalah kesempatan emas bagiku, belajar di Bandung secara cuma-cuma bukanlah hal yang mudah untuk di dapat. Aku tak ingin memberitahu Ditha, gadis itu pasti sedih jika tahu aku akan meninggalkanya. Apakah gadis itu tahu aku akan berangkat besok?  Jika benar, siapa yang memberi tahunya? Sudahlah! Cepat atau lambat pasti dia akan mengetauhinya.

“Adip!!”  Aku tersentak kaget. Seseorang tiba-tiba  menepuk bahuku. “Mikirin siapa? Aku yah? Haha..” ternyata gadis yang aku khayalkan tadi, sudah muncul di hadapanku.

“Iyah.” Aku mengulas senyum.

***

Waktu…

Kumohon bebas kan aku…

Biarkan aku bercinta…

Dan menghias kathulistiwa dengannya.

Waktu adalah ujian…

Seberapa lama cinta mampu bertahan

***

“Adip…, bagaimana kabarmu?” Dihta tersenyum sambil menatap lautan biru.

“Baik kok!” Aku bingung, tidak seperti biasanya Dihta menanyakan kabarku seperti ini.

Setelah menanyakan kabarku, Ditha melontarkan pertanyaan-pertanyaan aneh lainnya yang tidak aku mengerti.

“ Langit cerah ya..?”

“Bagaimana sekolahmu?”

“ponselnya udah di-cas belum?”

Setelah tanya jawab pertanyaan aneh itu selesai, raut wajah Ditha berubah.

“Adip, kamu besok pergi ke Bandung yaa?” Mata Ditha berkaca-kaca.

“Mmm…ngg” aku bingung, untuk berkata iya saja aku tak bisa.

“Maafin aku…” aku mencoba menggenggam jemarinya. “Aku sayang sama kamu.”

“Sayang apanya!! Kamu nggak bilang kalo mau pergi!!” Aku tak tahu siapa yang memberitahu perihal kepergianku. Yang pasti, aku sangat membencinya.

***

Kau tahu juwitaku…?

Betapa sering aku merasa tak berdaya

Melawan waktu yang telah menyulapku

Detak-detak rindu yang mengelana di setiap jengkal tubuh

Sisa-sisa pertaruhan setelah kepergianku…

Juga wajah yang sering sendu…

Karena lelah setiap hari melawan rindu

Tak cuma jarak…

Tetapi juga mimpi

Dan kisah-kisah di sekelilingya

Yang memisahkanku…

Dari genggaman jarimu…

***

Keesokan harinya…

“Adip siapin barangnya!!! Jam 10 kamu berangkat!” Baru saja pukul 07.25 pagi, Ibu sudah berteriak menyuruhku mengemas barang.

Aku berjalan menuju kamar tidurku, kucoba memeriksa ponsel, mungkin saja Ditha mengirim pesan perpisahan padaku. Ternyata hasilnya nihil. Ketika akan beranjak pergi, ponselku bordering. Sebuah pesan masuk!!.

Aku mencoba membukanya. Ternyata Ditha!!

Datang ke pantai sekarang!!

07.29

Aku langsung berlari menuju pantai dengan pakaian seadanya, kulihat Ditha sedang berdiri seorang diri di tepi pantai.

“Hei!” Aku mencoba menyapa.

“Jangan lama-lama ke Bandung-nya!!!” kata Ditha.

“Iyah.” Aku mengulas senyum, walaupun sebenarnya aku akan pergi dalam kurun waktu yang cukup lama.

Ditha mengeluarkan sebuah kotak dari tas punggung berwarna merah yang ia bawa.

“Ini dijaga yah? Jangan dibuka kalau belum naik ke atas   pesawat!” Ditha memberikan kotak tersebut padaku.

“Berangkat sana!! Ntar terlambat.” Mata bening itu kembali berkaca-kaca.

***

Aku berlari meninggalkan Ditha yang masih termenung.

 

“Berjuang yah!!!” Itulah kata terakhir yang kudengar darinya.                                                                 ***

 

“Penumpang Lion Air diharapkan..” Suara itu menggema di sekitar bandara Brang Biji.

“Jaga diri baik-baik nak yah..?” Ibu mencium keningku. Aku merasa berat meninggalkan malaikat tanpa sayapku itu. Hari-hari tanpa Ibu pasti akan terasa sepi.

“Iyah bu.” Aku mencoba menahan Kristal yang hampir pecah di mataku.

Aku berlari menuju antrian.

***

“Penumpang dipersilahkan..” pramugari menjelaskan panjang-lebar aturan dan larangan sejak pesawat lepas landas 5 menit yang lalu.

Aku mengambil kotak pemberian Ditha di dalam tasku. Setelah kotak terbuka, tampak buku bersampul batik dengan pita kuning di pojok kanannya. Perlahan-lahan aku membuka buku tersebut, takut buku pemberian itu jatuh dari genggaman tanganku.

Di sampulnya terdapat sebuah tulisan:

“Untuk pangeranku, Pradipta Maulana.”

Lembar-lembar berikutnya, berisi seluruh isi hati Ditha kepadaku. Mulai dari pertama bertemu, sunset bersamaku, dan banyak hal yang lainnya.

Lion air melesat jauh ke angkasa. Hanya awan biru yang Nampak di mata.

Selamat tinggal Bunda…

Selamat tinggal Ayah…

Dan selamat tinggal gadis juwita.

***

Dhita Nur Amelia

Sering aku bertanya…

Kapan aku mulai cemburu padamu…?

Bahwa sosok cerdas dan tampanmu, menarik hati…

Tapi sungguh aneh memikirkan bagaimana bisa perasaan

rindu menjajahku..

Bahkan membelenggu begitu kuat..

Dan tahukah kau pangeranku..??

Semakin kupikir semakin aku sadar..

pada detik pertama aku merindukanmu..

Aku telah jatuh cinta…

TAMAT

*Penulis merupakan santri di Pondok Pesantren Kumala Lestari Cianjur, ditulis pada 2018

Cerpen 14: Ketika Sejenak Menjadi Tiada

Oleh Sonia Fitri

Dalam pertapaan selanjutnya, Kelana dibawa menuju suatu lembah yang jauh dari mana-mana. Kata Guru, hanya orang-orang terpilih dan mereka yang punya kesaktian di atas rata-rata yang bisa menjangkau tempat ini.

Memang benar adanya. Jalan menuju tempat ini adalah rimba yang sulit dan melelahkan. Banyak harimau mengintai sepanjang jalan. Langkah kaki juga perlu diperhatikan sebab kalajengking dan kelabang tak boleh terusik aktivitasnya. Belum lagi dengan rawa-rawa yang menghadang. Di dalamnya, ada buaya-buaya lapar yang bersembunyi di bawah air tenang. Untung saja ia ditemani Guru yang sakti. Ketika bahaya menyerang, Sang Guru dengan tongkat saktinya siaga menghalau.

Sesampainya di tujuan, Kelana memperhatikan sekitar. Tempat ini tampak mengagumkan, tapi juga diselubungi sunyi yang mencekam. Di atas tanah merah yang terhampar, terdapat sejumlah tempat peristirahatan sederhana, dipenuhi para pertapa dari berbagai penjuru dunia. Terkadang mereka saling menyapa, tapi kebanyakan mereka sibuk sendiri-sendiri dengan tapanya. Seperti lembah pada umumnya, sejauh mata memandang terdapat perbukitan hijau menantang. Tapi angin semilir dan udara segar cukup membuat tenang. “Di sinilah tempat terbaik untuk menguasai ilmu Sejenak Tiada,” kata Guru sambil terkekeh.

Ilmu ini memang terdengar aneh, tapi Kelana begitu tertarik untuk mempelajarinya. Alangkah asyiknya jika bisa menjadi tiada, sejenak, di tengah berisiknya dunia yang penuh tipu daya. Semua orang pada saat ini berlomba-lomba menjadi idola, mencari perhatian dengan segenap media yang tersedia. Orang-orang saat ini juga terlalu sibuk saling mengomentari dan mencaci, tapi anehnya tanpa nama dan suara. Mereka betah bermain-main dan menjadi pecundang di dunia maya. Mengerikan, bukan?!

Jika sejenak tiada, konsentrasi yang tinggi untuk menghasilkan jurus baru mungkin bisa ia capai. Jika sejenak tiada, ketenangkan batin akan terasa, sebab ada kedekatan yang nyata pada Sang Pencipta.

Tapi ada tantangan besar yang mesti dilawan, yakni rasa jemu. “Jika hatimu lemah, mungkin bisa mati bosan,” kata Guru ketika memberi pengarahan. Kelana kala itu tertawa. Ada-ada saja, mana bisa orang mati bosan?

Kelana lantas dibawa ke tempat yang disebut Rumah Tiga. Lalu Guru meninggalkannya sendirian.

Mengapa dinamai Rumah Tiga, ia pun tak begitu paham, pun tak terlalu penasaran. Yang jelas, tempat itu diselubungi gumpalan awan yang bisa dijangkau. Kelana dalam pertapaannya kerap iseng mencicipi rasanya yang ternyata manis seperti kembang gula. Tak heran jika di Rumah Tiga banyak semut berkeliaran. Awan Kembang Gula adalah sarang mereka. Tapi makhluk imut-imut itu terkadang bosan, lalu berkali-kali mencoba mencuri makanan milik Kelana.

Ada pula serangga-serangga aneh di Rumah Tiga. Ada belalang berkaki pincang, cangcorang berbadan lidi, laron bertopi petani serta ulat bulu bersepatu. Menyadari keberadaan mereka, Kelana pada awalnya merasa terganggu. Tapi kemudian Kelana sadar akan tingkah polahnya yang lucu, terutama ketika bersaing mencari makanan. Keberadaan mereka juga cukup baik untuk mengusir rasa bosan.

“Benar juga kata Guru,” pikir Kelana. Rasa bosan merupakan tantangan terberat yang mesti dihadapi. Ia bisa saja berteman baik dengan semut dan serangga di Rumah Tiga, tapi ia juga butuh orang yang bisa diajak bicara. Tapi hal itu tampak mustahil, sebab pertapa lainnya, kalangan yang paling memungkinkan untuk jadi teman berbincang-bincang, semuanya bungkam, sibuk dengan kegiatan meditasinya masing-masing.

Sesekali ada yang menyapa, tapi itu hanya dilakukan oleh beberapa saja yang sedang bosan juga. Tapi kemudian mereka pergi lagi. Menjaga jarak aman lebih baik dari pada memancing kejadian yang tak diinginkan. Tapi karena itu pula, Kelana bisa saja mati dan tak diketahui, kecuali oleh semut dan serangga.

Beruntung, sampai saat ini Kelana masih bernyawa. Ia masih belum menyerah untuk bisa sejenak tiada. Dari proses pertapaan yang berlalu berhari-hari, ia mempelajari banyak hal. Belajar menjadi sejenak tiada sama dengan kamu mengikhlaskan diri untuk menghilang padahal sanggup mengada. Menjadi sejenak tiada juga membuat ia belajar untuk tidak terlalu menghabiskan waktu memikirkan apa yang dipikirkan orang lain mengenai dirinya.

Sebagai gantinya, waktu yang banyak bisa dibuat untuk merapikan apa yang ada di dalam kepala, sambil memperbanyak wawasan serta berkarya. Ia juga dapat bonus, berupa belajar untuk tidak berlari dari masalah, tapi berdiam diri sambil introspeksi. Belajar meniada yang sejenak, Kelana berjanji untuk kembali mengada. Sebab ia ingin selalu punya kesempatan berbagi kebaikan kepada sesama.

Berjuanglah, Kelana. Sehingga kelak paripurna.

-Bandung, 23102017-

Cerpen 15: Kisah Sepotong Skripsi

Ketika sedang membereskan lemari buku, saya mendapati skripsi saya terselip di antara buku-buku lainnya. Sampulnya berwarna kuning dan lembaran-lembarannya lumayan tebal. “Wacana Pluralisme Pascakematian Gus Dur”. Begitulah judul yang tercantum di halaman covernya. Produk penelitian itulah yang kemudian mengantarkan saya untuk menjadi seorang sarjana, lima tahun yang lalu.

Ditemukannya Sang Skripsi membuat ingatan saya kembali ke masa lalu, ketika saya kala itu masih percaya bahwa kegiatan “Menggarap Skripsi” merupakan ritual klasik akademik yang rumitnya bukan main. Tapi apalah daya, tanpa dinanti-nanti, apalagi ditolak, agenda ini akan begitu saja datang diantarkan waktu dan harus dikerjakan dengan segenap kesungguhan hati.

Ketika menghadapinya di masa lalu, saya melakukan banyak prediksi yang negatif. Bagaimana jika sulit, bagaimana jika buntu, bagaimana jika gagal. Bagaimana pula jika saya kebingungan dan tidak menemukan jalan penyelesaian.

Ah, tapi kekhawatiran hanya akan membuat proses ini makin berat, bukan? Lagi pula mustahil bagi saya mengizinkan nasib kuliah yang hampir berjalan empat tahun itu gagal karena tak sanggup mengahdapi proses perampungan skripsi.

Ketika memasuki fase penggarapan awal, beruntungnya ada dua dosen pembimbing yang cukup cerewet menceramahi saya untuk berlaku begini dan begitu. Utamanya beliau-beliau itu menekankan saya agar tidak terlibat praktik plagiat. Sebisa mungkin saya melakukan penelitian dan memunculkan gagasan baru dengan didukung oleh referensi yang diperoleh dengan cara legal.

Tahukah kamu, apa itu plagiat? Adalah praktik menjiplak atau mengambil materi dari sumber yang tidak disebutkan. Plagiat seperti mencuri ide dan karya, makanya ia termasuk ke dalam tindak kriminal. Tindak pragiat sejatinya hanya milik orang-orang yang tidak percaya diri dan malas. Sungguh mengenaskan, bukan?

Selain praktik plagiat, hal selanjutnya yang mesti dihindari adalah keterlibatan dalam jual beli skripsi. Tahukah kamu, bahwa dengan harga sekian juta kita bisa saja menyabet gelar sarjana sambil ongkang-ongkang kaki dan ngerokok di warung kopi?

Sebab ada orang yang bersedia membuatkamu skripsi tapi kamu harus membayar dengan sejumlah uang. Ini bukan sekadar kasak kusuk belaka, tapi sudah saya saksikan dengan mata kepala sendiri.

Jika dua hal tersebut (plagiat dan jual beli skripsi) dilakukan, maka skripsi sebagai praktik ritual akademik akan jadi hilang makna. Substansinya menguap oleh perkara material. Hanya seputar untung dan rugi. Mohon mahasiswa jaman now jangan begitu, ya!

***

Keberuntungan saya selanjutnya ketika memulai penggarapan skripsi ialah bisa mendapatkan tokoh yang keren sebagai sumber inspirasi, sehingga namanya akan saya sebut-sebut di dalam konten skripsi dari awal hingga akhir.

Gus Dur alias Abdurahman Wahid-lah yang terpilih sebagai tokoh utama itu. Sebagai mahasiswa Komunikasi, khususnya di Konsentrasi Jurnalistik, saya ingin membahas tentang isu pluralisme yang turut menggaung dalam rangkaian peristiwa kematian beliau.

Pada proposal penelitian, saya menggunakan analisis wacana kritis-nya Norman Fairclough sebagai acuan. Sementara itu obyek penelitiannya berupa teks-teks koran Republika tiga tahun yang lalu, tepatnya pemberitaan mengenai berita kematian Gus Dur pada tanggal 30 desember 2009 sampai 11 januari 2010.

Pada proses selanjutnya, ada serangkaian agenda bimbingan yang melelahkan. Mengapa begitu, sebab kedua dosen pembimbing saya itu sangat jarang ke kampus. Setiap bimbingan, saya harus mendatangi kantornya yang cukup jauh dari Kampus, meski masih di kota yang sama. Sementara dosen pembimbing kedua lebih ekstrem lagi. Ia minta didatangi langsung ke rumahnya di Majalengka yang mana jaraknya cukup jauh dari Bandung.

Proses itu saya jalani tanpa banyak cingcong. Meski ada momen ketika harus menagis di depan dosen pembimbing, harus kehabisan ongkos dan kelaparan, harus kehilangan data karena bahan skripsi terkena virus komputer, harus pula merasakan hal-hal yang menyakitkan lainnya.

Tapi beruntungnya hal-hal tersebut telah terlewati. Lagi pula, menggarap skripsi tak perlu didramatisasi. Selelah apapun dan serumit apapun yang terlihat dan yang terasa, tidak perlu lah mewarnai proses itu dengan keluh kesah.

Kamu hanya perlu menyiapkan tenaga, otak dan pikiran di setiap harinya untuk datang ke perpustakaan dan toko buku jika butuh referensi, mendatangi dosen pembimbing, bolak-balik ke fakultas, kelas dan Tata Usaha.

Lantas tulislah apa yang perlu ditulis, bacalah apa yang perlu dibaca. Menulis lagi, mengolah data lagi, survey lagi, membaca lagi, begitu berulang-ulang. Setelah semua proses itu rampung, pasti kamu bisa segera sidang dan mengambil jadwal wisuda.

Di sela-sela kesibukan skripsi, saya bahkan ikut magang di salah satu perusahaan penerbitan untuk menyelesaikan proyek penerbitan buku edukasi dan sains untuk anak-anak. Ini bukan karena saya sok jagoan. Tapi hanya tak ingin melewatkan kesempatan yang datang.

Kala itu saya pikir, mengambil job ketika skripsi tidak akan mengganggu agenda penggarapan skripsi. Untungnya waktu masih bisa dibagi-bagi. Lagi pula, saya juga butuh fokus lain agar tidak terlalu jenuh dengan hanya menggarap skripsi berbulan-bulan lamanya. Magang di perusahaan penerbitan juga bisa untuk tambah modal untuk beli buku referensi dari gaji yang cair tiap bulan.

Kenangan-kenangan tentang skripsi itu bagi saya berharga, sebab proses itu turut ambil bagian dalam membentuk saya menjadi seseorang yang seperti ini hari ini. Sebelum nanti saya lupa, saya ingin menempel kenangan itu di sini.

Semoga ini bukan sekadar jadi curhat belaka, tapi juga layak jadi ajang berbagi cerita. Semoga bagi pembaca yang saat ini sedang menggarap skripsi, kalian bisa bersungguh-sungguh dalam melewati momen istimewa ini.

Jangan sampai di masa-masa yang akan datang kalian menyesal karena telah menyia-nyiakan momen ini dengan serangkaian keluh kesah di ragam media sosial maupun mengeluh sesame teman. Jangan pula mendominasi kegiatan dalam penggarapan skripsi dengan serangkaian kemalasan serta praktik terlarang lainnya.

Sekian.

Cerpen 16: Tentang Sebuah Kata Bernama “Persahabatan”

Oleh: Sonia Fitri

Pagi ini saya putuskan untuk tidak tidur lagi setelah shalat shubuh. Untuk mengusir kantuk, iseng-iseng saya mengambil pinsil dan kertas kosong, mulai iseng-iseng menggambar komik tentang “Investasi Politik”. Satu jam aksi corat-coret diakhiri dengan menertawakan gambar sendiri. Komik setengah jadi itu masih terlihat berantakan dan sedikit aneh.

Hmm, dengan sedikit perbaikan dan sentuhan warna, semoga hasilnya bisa lebih baik. Tapi kemudian saya putuskan untuk menunda revisi, berhubung penghapus dan spidolnya tidak ada. “Mungkin nanti siang saya akan ke tempat fotokopi beli penghapus, sekalian isi pulsa,” pikir saya. Saya kemudian melanjutkan kegiatan dengan beranjak dari kamar yang masih berantakan, menuju kamar mandi, bermaksud nyuci baju yang sudah sejak semalam direndam. Nona Sepi dan suara keran air menemani saya.

Singkat kata singkat cerita—berhubung sudah mentok memikirkan perangkai antara prolog yang panjang ini ke inti cerita, hehehe—saya tiba-tiba mendapat sebuah pesan singkat dari beberapa teman dalam waktu yang hampir bersamaan. Dan uniknya, isi SMS dari mereka hampir sama, “mencurigakan”. Padahal rasanya baru kemarin saya berkumpul dengan beberapa dari mereka. Sepertinya ada masalah yang saya belum tahu itu apa. Seorang memberi sms ekspresi sedih, seorang lagi mengetik nama saya dengan huruf yang banyak, lalu diakhiri dengan kata “Hiks…”, yang lainnya bilang sedang merasa ‘jatuh’ banget???, dan yang seorang lagi berkata: “Semuanya gak lebih kawan!”.

Nah, SMS yang terakhir ini paling membuat penasaran, apa maksudnya? Lalu mengapa tiba-tiba saya merasa sedih dan kebingungan? Ada apa dengan mereka? Komunikasi lewat SMS sangat tidak jelas dan terbatas. Kalau situasi sudah seperti ini, inginnya segera bertemu dan menyapa mereka. Tapi tidak mungkin. Sekarang kita sudah sulit untuk berkumpul berhubung kami yang sudah saling sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Ahh, situasi ini membuat saya jadi banyak berprasangka. Lalu pikiran saya mulai meloncat-loncat menduga ini dan itu. Berpikir begini dan begitu. Berujung pada memikirkan sebuah kata bernama “Persahabatan”. Sebelumnya, saya ingin membuat pengakuan bahwa beberapa waktu lalu, saya pernah mencurigainya. Maksudnya, saya sempat tak percaya bahwa sebuah jalinan persahabatan yang sejati itu benar-benar ada.

Saya mencurigai makna persahabatan yang katanya adalah sebuah jalinan dimana kita saling merasakan susah dan senang bersama. Dan katanya, sahabat sejati adalah mereka yang selalu ada di kala senang maupun susah. Tapi pada kenyataannya tidak begitu. Seringkali kita kecewa karena sahabat tak ada di sisi saat kita sedang bersedih. Bahkan terkadang sebagian dari kita merasa menjadi yang paling diabaikan, bahkan sempat merasa dimanfaatkan.

Ketika tengah bergelut dengan perasaan itu, beberapa hari kemudian, saya tak sengaja mengasingkan diri selama kurang lebih 40 hari. Menjalani hari di lingkungan baru, situasi baru, kegiatan dan orang-orang yang baru. Mengawalinya dengan penuh kecemasan, tapi pada akhirnya saya banyak belajar tentang apa itu kebersamaan. Banyak dukungan dari orang-orang yang tadinya asing itu. Mereka sepertinya bersikap tulus untuk berbagi kebaikan tanpa alasan dan motif tertentu. Bahkan secara sepihak, mereka telah saya daulat menjadi saudara-saudara saya.

Menyoal “berbagi kebaikan”, apakah memang benar—benar kebaikan yang sedang kita bagi? Mungkin saja tidak sepenuhnya benar. Kita semua pada dasarnya sedang berbuat demi kepentingan diri kita sendiri. Banyak motif manusia untuk berbuat baik, dari mulai membalas budi, atau ingin menegaskan bahwa kita adalah orang baik dan sopan santun, agar kita nyaman berada di tengah masyarakat yang tidak menerima orang jahat. Tapi semoga saja kita termasuk orang-orang yang bersih hatinya, yang nuraninya merasa nyaman apabila telah membuat orang lain bahagia.

Kembali pada topik tentang persahabatan.

Persahabatan, teman, saudara, soul mate, ataupun kekasih. Adalah sebuah predikat dan peristilahan. Mari kita menyederhanakan kata-kata ini. Khususnya “persahabatan”, tak perlulah dibarengi dengan definisi yang kaku serta kriteria maupun persyaratan. Tak perlu menuntut ketulusan yang tak sempurna milik manusia. Karena sang Maha Tulus hanya Allah saja.

Bisakah kita coba bersikap adil untuk memberi kebaikan kepada semua orang, tanpa ada pelabelan tertentu? Bisakah kita bersikap adil untuk tak menuntut perhatian balik dari orang-orang tertentu yang kita anggap teman? Bisakah kita hanya membiarkan Tuhan yang memberi perhatiannya pada kita? Karena saya percaya, orang baik akan diberikan takdir baik, meskipun semua orang menganggap takdir itu adalah yang terburuk. Bukankah kebaikan dan keburukan itu relatif?

Santai saja dan tak usah terlalu serius. selama ini manusia terlalu banyak menganalisis kehidupan, padahal hidup begitu sederhana untuk dijalani sebagai pembelajaran dalam perjalanan menuju Tuhan. Tapi tak ada salahnya dengan peristilahan dan pelabelan itu. Misalnya, antara saya dan “Strikam”, sebuah geng sekumpulan anak manis yang mana saya diakui sebagai anggotanya. Saya tidak pernah punya perjanjian atau komitmen tertentu dengan mereka. Tak ada pula peraturan dan AD/ART untuk mengatur pola pertemanan kami. Tak ada peraturan tertulis bahwa kami HARUS senang dan sedih bersama.

Tapi itulah yang menarik. Merasakan sebuah kebaikan yang mengalir dengan tulus tanpa instruksi, adalah sesuatu yang menyenangkan, sekaligus menenangkan. Dan menjadi saksi mereka yang SMS secara bersamaan pagi ini, tentang kesedihan mereka, membuat saya berdecak kagum dengan skenario Tuhan. Ini mungkin kebetulan, tapi kejadian ini sedikit menggoyahkan keyakinan saya, bahwa saabat sejati itu hanyalah mitos belaka.

Tulisan ini dibuat saat saya sedang dilanda banyak kerinduan. Kerinduan pada masa muda yang dijalani di masa lalu bersama sahabat, dengan penuh kesombongan dan sikap sok tahu. Kita yang dulu sering berkumpul dan berbagi sepotong tawa. Kalian yang dengan sudi menerima tingkah saya yang seringkali pelupa dan ceroboh.

Saya rindu, karena kebersamaan itu hari ini terasa langka. Dua orang dari kita telah punya kehidupan rumah tangga, dua orang lagi masih sibuk dengan kisah cinta yang semoga segera menuju pelaminan. Empat orang lagi termasuk saya,  menjadi single fighter yang telah punya kesibukan masing-masing. Tapi kita semua punya satu kesamaan, yaitu masih mencari pembelajaran dan pengalaman hidup. Betul?

Tak masalah. Semua takdir ini harus kita jalani. Masa lalu adalah bagian dari sosok diri kita hari ini. Berterima kasih lah pada masa lalu, tapi jangan terlena di dalamnya, ada masa depan yang sedang menanti. Karena sekeras apapun kita menolaknya, toh sang masa depan akan selalu datang. Maka, hadapilah dengan berani!!!!

Cerpen 17: Misteri Peradaban Kuno

Oleh: Irwansyah

Misteri Peradaban Kuno

oleh Irwansyah

Kesunyian dan kehampaan terkadang menjadi tempat yang paling nyaman bagi “makhluk asing”. Begitulah yang orang-orang katakan soal Lembah Peradaban. Tempat yang memang sangat jauh dari keramaian kota itu sudah terkenal reputasinya sebagai lembah berhantu.

“Ah itu cuma rumor orang tua dulu,’ ’tuturku saat mendengar rumor tersebut. Tapi sesungguhnya aku penasaran. Aku ingin melakukan aksi pembuktian.

Kamis, 4 Mei 2016

Rencana aksi pembuktian Lembah Peradaban pun terealisasi. Aku abangku berencana mengunjungi tempat yang dikenal angker itu. Apa gerangan niatnya? Mungkin hanya sekadar penasaran dan uji nyali. Tapi aku benar-benar penasaran.

Setelah sholat dzuhur, kami segera berkemas-kemas untuk perbekalan selama menginap beberapa hari di lembah itu. Semua perlengkapan telah siap tersandang di ransel abu-abuku.

Abangku segera menghidupkan kuda besinya yang telah terparkir rapi di teras rumah sejak tadi malam. Mendengar raungan suara mesin motor, aku dengan semangat tinggi segera berlari menghampirinya.

“Wan pamitan dulu,” teriak ibu.

“Oh iya,hampir lupa!” jawabku seraya kembali ke ambang pintu. Di sana telah berdiri seorang wanita yang sangat aku cintai dan sayangi.

“Mohon izinnya bu,” ucapku sambil mencium tangannya.

“Ya hati-hati nak, itu bukan tempat sembarangan,” ucapnya dengan wajah khawatir.

“Hahaha, ibu masih saja percaya sama yang gituan, itukan cuma rumor orng tua dulu,” sahutku.

“Ya sudah terserah kamu, yang penting kamu dan kakakmu janji akan balik ke sini  dalam keadaan sehat walfiat,” ucapnya.

“oke siap bunda ratu!” jawabku sambil nyengir.

Kami pun meningggalkan rumah dengan perlahan, sambil melambaikan tangan kepada ibuku yang masih berdiri mematung di depan pintu dengan wajar yang sangat khawatir.

***

Satu jam lebih kami menempuh perjalanan yang sepi, terjal dan berbatu. Akhirnya sampailah kami di sebuah tempat yang tandus dan tampak sunyi. Saking sunjunya, seperti tidak ada kehidupan di sana, kecuali dari hewan-hewan kecil di balik semak-semak seolah memcibir kehadiran kami.

Abang memarkirkan motornya di depan sebuah rumah panggung bercat hijau kusam. Rumah itu tampaknya sudah berdiri puluhan tahun lalu.

“Ini tempatnya bang???” tanyaku memastikan pada abang yang dari tadi hanya diam seribu kata.

“Sepertinya sih gitu, Wan,” ujarnya.

Tiba-tiba terdengar suara derap kaki dari atas rumah panggung tersebut. “Dug duuug duuug” Suara yang membuat kami mendadak gelisah. Tak lama kemudian, pintu rumah itu terbuka. Tampak seorang laki-laki tua bertopi petani muncul dari balik pintu.

“Ada apa kalian kemari???’’ tanya dengan nada berat.

“Eee… eh… i.. ini kek, ka….. ka…kami mau berpetualang,” jawabku terbata-bata.

“Apa kalian tidak takut?” tanyanya dengan nada mengintrogasi dan mengintimidasi.

“Justru kami penasaran, Kek,” kataku mantap.

“Baiklah, naiklah ke sini!,” perintahnya kepada kami. Aku melirik ke arah abang. Dia masih diam seribu bahasa.

Tak lama, kami sudah berada di dalam rumah yang tampaknya sudah lama tidak dibersihkan. Banyak lumpur kering di sana sini, udaranya pun pengap dan gelap.

Tiba-tiba secercah cahaya merah menyilaukan mataku datang di tengah gelapanya ruangan. Ah, sungguh suasana yang absurd!

Aku segera melepas ransel abu-abuku, meletakannya di sudut ruangan, lantas bersandar padanya. Lalu hembusan angin terasa menerpa wajahku, memebuatku ngantuk luar biasa. Beberapa detik saja aku jatuh tertidur.

***

“Aaaaaaahhhh!”

Terdengar teriakan dari bagian bawah rumah dan membuatku terbangun sembari merinding dan terkaget-kaget. Sayangnya, gelap ruangan membuatku tidak bisa melihat apa-apa. Segera kuambil senter dari ransel, menyalakannya dan mulai mengendap-endap munuju pintu.

Tapi langkahku terhenti ketika melihat bayangan sosok hitam dan tinggi berjalan ke arah pintu.

“Kreeeeeeck,” suara pintu terbuka dengan perlahan, aku lansung mundur dan pasang posisi siaga jika ada serangan.

“Duubraak!!” pintu tiba-tiba ditendang. Kuarahkan senter ke arahnya, dan kudapati sosok laki-laki kekar yang memegang pisau terhunus di tangannya.

“Siapa kamu???”

Laki-laki itu tak menjawab, tapi langsung menyerang ke arahku. Refleks, aku segera berlari sambil ketakutan karena sekilas aku melihatnya TIDAK MEMILIKI KEPALA.

Laki-laki misterius itu mengejarku dengan membabi buta. Hentakan kakinya terengar cepat dan keras hingga mampu membelah kesunyian, mengubahnya manjadi ketegangan.

“ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR,” hanya itu dzikir yang bisa kulantunkan di tengah kepanikan. Aku terus berusaha mencari jalan keluar, sementara laki-laki tak berkepala tadi semakin dekat.

“Ya Allah lindungi aku Ya Allah,” batinku.

Dzikir memang merupakan senjata terbaik. Dalam kepasrahan, aku melihat seberkas cahaya putih muncul. Cahaya itu seolah memberi petunjuk jalan keluar. Tanpa pikir panjang aku segera menghampiri cahaya itu menyentuhnya, dan … Ajaib, sebuah jendela terbuka lebar di depanku. Segera aku melompatinya dan mendarat tepat di belakang rumah.

Rupanya laki-laki tak berkepala itu tidak menyerah begitu saja. Ia masih melanjutkan pengejaran. Sebelum ia mendarat dari jendela, aku dengan sigap bangkit dan berlari secepat mungkin tanpa arah sembari terus melantunkan dzkir dalam hati.

*Penulis adalah santri di Pondok Pesantren Agribisnis Kumala Lestari Cianjur, ditulis pada 2018

Cerpen 18: Mimpi Syahid

 

Oleh Fadli Amrillah

Syahid merupakan seorang anak desa berusia 14 tahun yang terbiasa hidup dengan penuh kesederhanaan. Ia selalu termotivasi menjadi pribadi yang baik dari hari ke hari, tapi bingung bagaima caranya.

Syahid pun berinisiatif menemui Ustad Shalih, seseorang yang dinilainya bijak dan sangat menginspirasi. Kepada Sang Ustad, ia bertanya bagaimana agar bisa menjadi pribadi yang baik. Bukannya langsung dijawab, Ustad malah balik bertanya.

“Apakah kamu punya mimpi?”

Syahid menggeleng, saat ini ia memang tidak punya mimpi.

“Kalau begitu, lebih baik kamu tidak perlu bertanya seperti itu,” kata Ustad Shalih.

“Loh, memangnya ada hubungannya antara mimpi dengan menjadi pribadi baik?” tanya Syahid lagi.

“Jika kamu ingin menjadi pribadi yang baik, maka jadikanlah hal tersebut sebagai sebuah mimpi bagimu,” jawab Ustad Shalih sambil menepuk dada Syahid.

Ucapan ustad sangat mengena ke relung hatinya. Setelah pertemuan itu, Syahid pun tergerak untuk memiliki mimpi yakni menjadi pribadi yang baik.

***

Di tengah perjalanan pulang, Syahid melihat seorang remaja yang sedang memukuli adiknya. Syahid yang memang sedang bertekad menjadi pribadi yang baik pun segera mencegahnya. Alih-alih mencegah, ia malah terlibat perkelahian dengan remaja tadi. Alhasil, Syahid pulang ke rumah dalam kondisi kesal, ketakutan, juga sangat berantakan.

Sesampainya di rumah, ibunya kaget lalu bertanya tentang penyebab kondisi Syahid yang tak keruan. Syahid beralasan, itu semua disebabkan ia yang berlari dikejar anjing.

“Syahid, mana mungkin di kampung kita ada anjing, warga desa kita sangat sangat benci kalau ada anjing di kampung kita!” sanggah ibunya seraya mendesak Syahid agar berkata jujur.

Akhirnya Syahid pun menceritakan apa yang telah dialaminya di perjalanan pulang. “Aku berkelahi dengan terpaksa dan dengan niat ingin menjadi pribadi yang baik,” tegas Syahid.

Mendengar penjelasan Syahid, ibunya pun tersenyum dan menasihati. “Jika kamu ingin  menjadi pribadi baik, bukan begitu caranya, dan kenapa kamu membohongi ibu? Apa itu bisa termasuk sebagai pribadi yang baik?” Syahid pun menyesal hingga meneteskan air mata.

***

Keesokan harinya, ia kembali menemui Ustad Shalih.

“Ustad, saya sudah punya mimpi, tapi sangat sulit bagi saya untuk menahan amarah?”

“Sabarlah dan tahan emosimu, ingatlah! Kesabaran itu sulit dan pahit, akan tetapi percayalah bahwa buah dari kesabaran itu lebih manis dari pada madu,” jawab Ustad sambil menepuk dada Syahid lagi.

Nasihat itu membuat Syahid bergetar dan makin mengatkan tekadnya mewujudkan mimpi.

Di tengah perjalanan, lagi-lagi ia mendapati seorang remaja yang tengah memukuli anak yang lebih muda. Syahid ingin marah, tapi ia berusaha menahhan emosinya.

Dengan berani, Syahid pun mencoba menasihati. “Apakah pukulan kalian bisa menghentikan masalah? Apa agama kalian? Jika kalian Islam, mengapa kalian memukuli saudara seagama? Kita itu harus saling menyayangi!”

Rupanya nasihat Syahid mampu membuat remaja itu segera menyadari kekeliruannya. Perbuatan semena-mena memang harus dihindari.

Tanpa sadar, mimpi Syahid untuk menjadi pribadi yang baik tercapai. Di kampungnya, Syahid pun dikenal sebagai pribadi yang baik dan tauladan ideal orang-orang di sekitarnya.

*Penulis adalah santri di Pondok Pesantren Agribisnis Kumala Lestari Cianjur, ditulis pada 2018

 

Cerpen 19: Gerimis Itu Menceritakan Sepotong Kenangan

 

Oleh Sonia Fitri

Gerimis pagi ini terlihat seperti salju yang bening. Ia datang bergerombol, turun ke bumi dengan bulirnya yang halus, tapi banyak. Pelan-pelan, ia membasahi dahan, ranting, tanah, atap, kepala dan bahu. Dinginnya menyenangkan.

Saat ini, jalanan kampus memang selalu becek kalau hujan. Situasinya masih berantakan akibat proyek pembangunan yang belum kunjung rampung sejak lima tahun yang lalu. Menurut kabar dari wartawan kampus, terdapat beberapa kendala—tak begitu jelas—yang menjadi penyebabnya. Tapi isu korupsi merebak dan membangkitkan kecurigaan di benak mahasiswa.

Seolah tak menghiraukan keresahan yang ada, para petinggi kampus malah bersikap santai seolah tanpa beban. Ketimbang memberi kabar kepastian, mereka malah tak bosan-bosan memberi pesan, agar mahasiswa dan segenap warga kampus menerapkan salah satu akhlak baik agar disayang Tuhan, yakni rajin bersabar.

Kalau begitu, kita benar-benar beruntung, ya. Bukankah sabar akan mendatangkan pahala dan kasih sayang dari Tuhan? Ya sudahlah, berprasangka baik saja.

Gerimis pagi ini mengingatkan saya pada kejadian sekitar empat tahun yang lalu. Ketika itu penampilan saya masih culun ala-ala anak SMA kurang gaul. Diantar bapak, saya pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini. Melintasi jalanannya, memasuki gedungnya, mesjidnya. Semua tempat itu dipenuhi manusia: mahasiswa, dosen, orang tua mahasiswa, pegawai kampus, orang yang sekadar numpang lewat, tukang dagang asongan, pengemis, pedagang pensil dan alat-alat tulis. Hari itu memang sedang dilaksanakan tes alias ujian masuk bagi calon mahasiswa baru.

Singkat cerita, saya lulus dan menyandang titel mahasiswa. Pasti ada gerimis di  tahun 2009. Saat itu saya sudah jadi mahasiswa, katanya. Semua orang kelihatannya bangga, tapi saya malah biasa-biasa saja. Saya teringat waktu dulu hari pertama masuk SD kelas 1.

Saya benar-benar polos dan tidak mengerti. Maksudnya, saya tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik dan benar. Yang saya tahu, sebagaimana kata Emak, saya menjadi anak SD karena sudah bisa baca tulis. Lalu, saya terima setiap hari berangkat ke sekolah naik angkot dan duduk bersama anak-anak lain di kelas. Ketika guru memberi materi pelajaran, si kecil “Nia” malah anteng duduk di bangku paling belakang, di pojokan, sibuk dengan pikirannya. Waktu pulang sekolah, Emak bertanya, kenapa buku tulis saya masih saja kosong saja. Padahal, sudah hampir tiga minggu mengikuti KBM sekolah. Dan saya hanya tertawa. Bingung.

Kejadian serupa terulang lagi. Tak banyak yang berubah pada saat awal-awal masuk kuliah. Saya masih suka anteng dengan pikiran-pikiran sendiri, sehingga akhirnya bertemu dan terkesan dengan sekelompok orang yang menamakan dirinya “Strikam”. Saya tak ingat, bagaimana kami bertemu satu sama lain. Waktunya tak jelas, entah ketika panas atau sedang hujan gerimis. Tidak ada momen seremonial yang mempertemukan kami. Awalnya, kami hanya teman satu kelas. Lama-kelamaan berkembang jadi teman bermain, belajar, makan, jajan, dan jalan-jalan.

Makan: istirahat sambil menunggu jadwal kuliah selanjutnya, kita habiskan dengan makan di pinggir jalan, di bawah pohon, di depan teras mesjid, di sekre SUAKA, di depan kelas. Selama ada makanan, kita akan anteng makan apa pun dan di manapun.

Main: maksudnya, main ke kosan saya, ke kosan Ami, teh Ulfah, Ani, atau Yane. Kita suka bermain dan menginap di tempat-tempat itu secara bergiliran sambil ngobrol, ngerjain tugas kuliah atau Suaka, atau nonton DVD bareng. Ingatkah, waktu kita kehabisan film yang menarik. Lalu kita sengaja iuran, beli DVD untuk nonton di kosan Yaneu. Seusai nonton, kita tak berhenti menyerapah karena film yang ditonton ternyata didominasi oleh adegan “geje”. Ingatkah juga tentang pembuatan video di kosan teh Ulfah. Kita menari cap guricapnya Agodi, lalu merekamnya. Kalau ingat adegan itu, benar-benar kekanak-kanakan, tapi keren saja lah.

Jajan: sebenarnya saya hampir tidak bisa mendeteksi perbedaan antara makan dan jajan. Kelihatannya hampir sama saja. Kalian harusnya masih ingat dengan Mang Cecep tukang jualan Baso Cuanki. Hampir setiap hari kita beli dagangannya. Pasca Kopma dtutup, si Emang beralih jadi pedagang keliling yang suka nongkrong membawa tanggungan. Kita pun masih suka mengerubungi dia. Sambil makan, sambil SKSD, sambil tanya-tanya ini itu. Untungnya, Si Emang baik. Sambil jajan, dia kelihatannya senang-senang aja ditanya-tanya sama kita. Sampai kita kenal adiknya, istrinya, sampai alamat rumahnya. Ingatkah ketika kita ngabring nyamperin rumahnya. Waktu itu, istri si Emang baru lahiran. Ada Dede Bayi lucu yang senang dijenguk Strikam.

Ada juga Mang Asep tukang somay. Tukang dagang yang satu ini, Teh Ulfahlah yang memperkenalkannya. Tapi kita tidak banyak ngobrol sama dia, soalnya di dekat tempat dagangnya tidak ada tempat nongkrong. Jadi setelah beli, kita langsung pergi. Ada juga Teteh gorengan bumbu, Aa warteg biru, ibu sop buah, tukang fotokopi yang mirip salah satu senior Suaka, Emang lumpia basah, dan masih banyak lagi. Kampus kita memang surganya tukang dagang. Kita bisa tiap hari jajan, dan berwisata kuliner Cibiru.

Jalan-jalan: Ini berkaitan dengan Suaka, organisasi pers yang kita ikuti sejak kuliah di tahun pertama. Namanya juga wartawan kampus, ya harus mau jalan dan liputan. Dengan berbekal pulpen, buku catatan, surat tugas atau kartu pers, serta kamera bila perlu, kita pun mulai memberanikan diri untuk nanya-nanya ke mahasiswa, para dosen dan pejabat kampus, guru besar, tukang bandros, pengemis, pembantu rektor, rektor, dan pemulung. Menanyakan banyak hal, untuk kebutuhan berita.

Itu semua menyenangkan. Dari jalan-jalan itu, kita sering terkesan dengan banyak  orang, lalu sambil rehat, sekalian juga ngecengin narasumber. Ayo ngaku! Siapa yang suka bertingkah begitu? Kalau lupa, mari saya ingatkan. Ada A Jepang, A Sastrawan, A Subha, A*** dan Aa Aa lainnya. Untungnya cuma ngeceng saja, jadinya kita bisa menertawakan semuanya.

Kita juga menggarap buletin, tujuan idealisnya sih ingin berbagi ide dan gagasan keren. Tapi aslinya, buletin itu jadi ajang penyaluran energi narsis yang kita punya. Sama sekali tidak merugikan. Kita belajar nulis, layout, berdebat, berdiskusi, lalu begadang sambil nonton DVD.

Oiya, kita ternyata sempat juga menjadi manusia-manusia kurang kerjaan. Ini salah satu contohnya. Ingatkah ketika kita kita duduk di teras gedung LPM di sore hari yang lengang. Di depannya ada semak-semak tinggi sekaligus celah menuju jalanan beraspal. Kita sering iseng manggil-manggil orang yang lewat. Lalu kalau orang-orang itu menoleh, kita segera bersembunyi di semak-semak, atau pura-pura tidak melihat. Orang-orang yang kena jebakan itu, ada yang senyum-senyum malu, tapi ada pula yang marah. Tapi kita tidak peduli. Tertawa saja.

***

Ada gerimis di tahun kedua. Saya sadar tengah mengabaikan sekitar. Di tahun ini, saya mulai menyadari ada banyak sebutan yang dialamatkan pada kita, bahkan sejak di tahun pertama. Geng liliput, geng masjid, geng tarbiyah, gengster, gerombolan, dan lain-lain. Awalnya, kita kesal, marah, merasa aneh. Mungkin karena terlihat mengekslusifkan diri. Tapi kita mengaku-aku bisa berbaur dengan yang lainnya.

Lalu kita sadar, bahwa kita sama sekali tak punya kuasa mengatur apa yang harus dan tak harus dipikirkan orang terhadap kita. Kita harus menghargai otoritas masing-masing orang tentang ini dan itu, terhadap sekelilingnya. Salah satu tugas kita adalah berprasangka baik, dan berniat menjadi baik, dan melakukan hal-hal baik. Semoga Tuhan menunjukkan jalan kebaikan untuk kita semua (super sekali).

Lagipula, nyatanya kita tak lebih baik daripada mereka. Berkaca pada diri, sudah berapa banyak waktu kita habiskan untuk iseng membicarakan kejelekan orang. Bukankah sikap orang lain terhadap kita adalah cerminan diri? Maka, tak ada cara lain selain banyak-banyak introspeksi. Terlepas dari semua itu, kita pun sepakat. Kita masih keren. Jadi, santai saja.

***

Kenapa saya ketemu dengan orang-orang seperti kalian? Yang selalu mengingatkan agar tidak telat masuk kelas, mengingatkan tugas-tugas kuliah. Ada Opiw yang nada bicaranya terkadang seperti marah-marah, padahal aslinya dia itu perhatian, kuat, mandiri, dan punya bakat bisnis. Akhir-akhir ini saja, dia suka mengirimkan SMS-SMS tausiyah, terima kasih. Semoga Dede bayinya lahir dengan sehat dan ibunya selamat. Saya kangen sama seblak buatannya.

Kepada Ami saya juga kangan. Kepada gaya santainya, rencana-rencana barunya, juga celetukan-celetukan “jleb” nya. Tapi, dibalik itu semua, dia selalu bisa berpikir logis dan realistis dalam menghadapi masalah atau situasi genting. Tetap semangat sama revisian skripsinya!

Saya kangen juga kepada Ani yang lucu, beserta curhatannya sepanjang malam, sampai saya ketiduran. Ani yang punya banyak mimpi-mimpi keren, dan punya kekuatan untuk meraihnya. Ani yang entah bagaimana kabarnya sekarang?

Saya kangen perhatian sekaligus sikap manjanya bu Ulfah. Terakhir kali, saya dan Ami kontrol ke Nangor, ternyata dunianya semakin berseri-seri. Ada Dede Nayla yang meramaikan hari-harinya.

Ada juga saudara bobotoh Suke Ri(y)anti, dan “si beuleum” yang belum juga mengajak saya keliling Bandung. Ratih itu orangnya simpel alias enggak suka ribet. Isu yang beredar menyebutkan kalau dia sedang dilibatkan dalam bisnis keluarga. Sepertinya, ada yang siap bagi-bagi angpau lebaran, nih!

Saya juga kangen dengan obrolan perihal kartun, korea, dan dunia fantasinya teh Kiki. Dia itu IT banget. Sekarang,  yang saya tahu dia sedang merintis bisnis online, juga sukses bikin status-status lucu di FB.

Ada juga Aneu sang juru koordinasi. Dia punya nama lain “Miss ColdorMiss Coolwhatever. Meski yang paling banyak diam, sekalinya bicara kadang gokil dan mengejutkan. Aneu yang dari luar kelihatannya damai, padahal  pikirannya ramai. Akhir kata, semoga proyek penelitiannya dilancarkan.

Kita juga punya Umi Sipat yang selalu sibuk. Tapi jika sedang bersama-sama, dia banyak berbagi tawa, nasihat, inspirasi, dan contoh baik. Sekarang, kabarnya dia sudah kerja di media. Keren.

Ami, Ratih dan Ani, mereka juga kompak dalam urusan wiraswasta. Mereka menggagas buka lapak foto strikam untuk acara wisuda. Meski kadang sepi, kadang juga ditipu olep pedagang yang lebih tua. Kepolosan kita lalu dimanfaatkan dan dijajah oleh pedagang lain. Dunia bisnis memang menyeramkan. Siapa yang keras, dialah yang menang. Tapi, karena tujuan kita itu kebersamaan, keuntungan yang minimalis pun kita terima dengan senyuman.

Asalkan bersama, pasang tenda bersama, angkat-angkat karpet bersama, difoto narsis bersama, itu sudah lebih dari cukup. Hasil bisnis itu kita pakai buat modal beli kado kelahiran para keponakan, Dede Nayla, dan calon dede bayinya Sopi. Terima kasih buat Ami yang sudah apik menjaga keuangan Strikam. Itu keren.

Intinya, saya ingin berterima kasih kepada Allah, atas keberadaan kalian semua.

***

Langsung saja menuju tahun keempat. Pada tahun ini, saya mulai menyukai gerimis di pagi hari. Saya masih jadi manusia kurus yang tidak tahu apa-apa, tapi terkadang sok tahu. Tugas akhir yang kita lalui dengan ceritanya yang masing-masing, membuat kita berpencar-pencar. Bahkan ramadhan tahun ini, kita belum sempat buka bersama dengan personel lengkap.

Mari menggenapkan waktu. Empat tahun. Kelihatannya sudah banyak yang berubah. Dari mulai pola interaksi di antara kita, gaya bicara kita, pikiran dan hati kita, semuanya. Sedang apa kalian di sebelah sana? Ketika tak ada alasan lagi untuk bertemu, semoga pertemuan itu selalu diupayakan.

Waktu yang terus berlalu, dalam gerimis-gerimis selanjutnya, masing-masing dari kita akan bertemu dengan orang-orang yang baru, lingkungan baru, pola interaksi yang baru. Gerimis itu selalu menceritakan sepotong kenangan. Dan, kebersamaan ini akan selalu dirindukan. Kebersamaan yang katanya “tanpa Hipokrisi” itu. Baiklah, jika sudah mencapai bagian ini, bernyanyilah. Ini lagunya Letto.

And you are my friend, charmingly sentimental brain. Theres truth behind a cry. And theres a cry behind a lie. On every words that come out strong. Just let them go and lets get along. On every grudge and every fight
I miss u all day and night. Have you had your time off today. To bring a cup of tea and smile away

Bandung, 2013

Cerpen 20: Wasiat Terakhir

oleh Pradipta Maulana

Tepatnya 28 Juli 2017, aku sudah resmi menjadi santri di sana. Pada pukul empat dini hari, seluruh pengurus asrama membangunkan seluruh santri yang masih terlelap dalam tidurnya.

” قم! قم! ”

Aku tidak mengerti apa yang dikatan pengurus kamar kepadaku.

“Ada apa Kak?” Aku masih menutup diriku dalam selimut.

“قم itu artinya bangun,” Pengurus asrama memberitahukanku sambil perlahan-lahan mencoba membuka selimutku.

“Ummm,” aku kembali mencoba untuk tidur.

“Hei bangun!” aku tersentak kaget mendengar teriakkan tersebut.

“Maaf, ini adalah tugas saya sebagai pengurus asrama, jadi tolng patuhi kami. Ini demi kebaikan kita semua,” pengurus asrama tersebut mengusap kepalaku.

“Baik, Kak,” jawabku pasrah.

Aku bangun dan langsung berjalan keluar kamar. Aku bingung terhadap apa yang harus aku lakukan. Biasanya aku terbangun hanya karena lapar.

“Dik, ganti baju dulu persiapan shalat tahajjud dan subuh berjamaah di masjid,” seseorang yang tak kukenal menyapaku, mungkin dia santri yang sudah lama di sini.

“Eh, iyah,” aku malu karena hanya aku yang keluar kamar menggunakan pakaian tidur. Aku langsung berlari menuju kamar tempat dikumpulkanya santri-santri yang masih baru sepertiku. Hanya butuh beberapa detik bagiku untuk berganti pakaian. Karena semenjak di rumah, ibu selalu mengajariku untuk menghargai waktu.

Aku berlari ke tempat wudhu dengan tergesa-gesa. Setelah enam fardhu wudhu itu aku selesaikan, aku langsung berlari kecil menuju masjid. Shalat tahajjud baru saja dimulai ketika aku datang. Tanpa fikir panjang, aku langsung mengambil shaf yang tersisa. Imam membaca al-fatiha dengan lantang. Sesampainya di rakaat kedua, aku tertidur ketika sujud terakhir. Para santri mentertawakanku ketika aku sadar bahwa shalat telah usai.

Setelah shalat tahajjud usai, salah satu santri mengumandangkan adzan dengan suara yang indah dan lantang. Takut kejadian tadi terulang lagi, aku langsung mengambil wudhu untuk kedua kalinya. Mungkin ketiduran hal yang wajar bagiku. Mengingat ketika di rumah aku selalu bangun terlambat. Hingga waktu tidurku lebih banyak dari pada waktu belajarku.

“Allahuakbar..Allahuakbar..” aku langsung berlari menuju masjid dan mengambil shaf paling depan. Karena sepengetahuanku, shalat di shaf terdepan pahalanya sama dengan orang yang berkurban dengan unta.

“Assalamualaikum..assalamualaikum..” Alhamdulillah kejadian tadi tidak terulang lagi. Aku khusyuk mebaca do’a setelah shalat. Ketika membacakan do’a untuk kedua orang tuaku, aku mengingat wajah ibu yang lusuh akibat lelah bekerja. Kristal di mataku pecah tanpa aku sadari. Aku ternyata rindu ibu. Aku menyesal sering kali membuatnya menangis.

Semakin lama aku berdo’a, air mataku semakin meleleh.

“Kamu kenapa?” seorang santri ternyata melihatku. Aku segera mengusap air mata yang masih mengalir di pipi.

Nggak apa-apa kok!” aku mencoba mengelak.

“Santai aja, bukan cuma kamu yang nangis, itu coba kamu lihat!” Ia mengarahkan telunjuknya ke beberapa santri baru yang sedang menagis terisk-isak.

“Itu hal yang wajar bagi setiap santri yang baru masuk pondok,” ia tersenyum kepadaku.

***

“Untuk santri baru, sekarang adalah saatnya kalian ber-ta’aruf atau memperkenalkan diri masing-masing beserta cita-cita kalian ke depanya. Dan jangan lupa pula sebutkan asal kalian dari mana,” aeorang ustad mempersilakanku beserta teman-teman lainya untuk memperkenalkan diri.

Satu per-satu santri baru maju untuk memperkenalkan diri. Anak bertubuh gempal maju paling awal untuk memperkenalkan diri, dimulai dengan mengucap salam.

“Perkenalkan nama saya Fauzan Karim. Saya berasal dari Bogor dan cita-cita saya menjadi ustad,” salah seorang santri baru memperkenalkan diri.

“Hai Fauzaaannn!!” Lagi-lagi para santri senior menanggapinya dengan sangat antusias. Antusias menjawab salam dan menyapa terus berlanjut hingga tiba giliranku memperkenalkan diri. Aku berdiri tepat di depan puluhan santri senior dan juga yang baru. Ini adalah kali pertama aku merasakan grogi yang sungguh luar biasa membuat perutku sakit.

“Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh!” aku berteriak sejadi-jadinya untuk menghilangkan rasa grogi yang menggangguku.

“Waalaikumsalam warahmatullahiwabarakaaaattuuhh!!” Teriakan santri senior malah semakin keras dan menggema di ruangan masjid, dan malah membuat grogiku semakin menjadi-jadi.

“Nama saya Pradipta Maulana. Saya berasal dari Sumbawa dan saya punya cita-cita menjadi seorang dokter,” kataku lantang.

“Haaiii!! Adiiippp!!!” Mukaku bersemu merah seperti kepiting rebus karena tak kuasa menahan malu. “Assalamualaikum Warahmatullahiwabarakatuh” Aku menutup tradisi dengan mengucapkan salam. “Waalaikumsalam Warahmatullahiwabarakaaatuh”. Seluruh santri mentertawakanku.

***

Hari perkenalan diri dan perkenalan lingkungan pesantren berjalan begitu saja. Keesokan harinya, lonceng yang berada di area pesantren berdentang empat kali. Aku tak tahu makna apa yang terkandung dalam pukulan itu. Tepat lima detik setelah lonceng itu berbunyi, terdengar suara teriakan yang berjalan di area asrama santri baru.

“Santri baru kumpul! Santri baru kumpul! Di depan kamar!” teriak salah satu kakak kelas.

Lima menit berlalu, semua satri telah berkumpul dan duduk rapi, menghadap kakak kelas yang saat itu sedang berdiri di depan kami. Aku mengenali kakak kelas itu. Ia memiliki badan yang besar dan tinggi. Tak salah lagi itu adalah Kak Rifqi. Ia juga berasal dari Sumbawa.

Ia membuka perkumpulan dengan mengucapkan salam. Tradisi Pondok. Setelah itu, ia mengabsen kami satu persatu. Memastikan bahwa tak ada santri yang alfa. Semuanya lengkap, tanpa kurang satu pun. “Hari ini, saya mendapat intruksi dari bagian pengasuhan santri untuk membagikan zona pembersihan sementara untuk kalian. Di sini, kami tidak punya yang namanya pembantu atau pekerja kebersihan. Karena di sini, kita belajar untuk hidup mandiri. Seperti nama sekolah kita, Pondok Pesantren Mandiri Kumala Lestari. Bukan mandiri namanya, jika kebersihan pesantren dilakukan oleh orang lain.

“Pada intinya, jika kalian tidak ingin bersusah payah untuk melakukan kegiatan pembersihan, maka, jagalah kebersihan pondok. Jangan buang sampah sembarangan!! Pondok kotor, kalian yang akan capek. Bisa dipahami semuanya???” Ia menyampaikan dengan tegas.

“Siap paham,” kami menjawab dengan kompak.

Setelah ia membagi kami dalam beberapa bagian. Dengan semangat yang masih baru, kami menjalankan perintah tersebut.

Aku baru menyadari suatu hal setelah beberapa hari di sana. Menyadari bahwa, Kak Rifqi merupakan ketua dari organisasi di Pondok. Inilah hebatnya Kumala Lestari. Padahal, ia baru mendapatkan pendidikan selama kurang lebih satu tahun, tapi gayanya yang tegas dan santai dalam menyampaikan informasi membuatnya seakan-akan telah belajar lima tahun lamanya.

Inilah sistem yang dibuat oleh para pengasuh Pondok Pesantren Mandiri Kumala Lestari. Semua santri dipercaya untuk menjadi pengurus sebuah organisasi. Mereka harus     bertanggung-jawab, tegas dan amanah serta berani berbicara di depan umum tanpa rasa malu dan takut. Inilah ilmu yang akan dijaga secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Setelah berhari-hari aku membersihkan tempat yang itu-itu saja, aku pun mulai bosan. Bukan hanya aku, tetapi teman-teman yang lain pun malah lebih bosan dari pada aku. Wakil pimpinan yang melihat kita mulai jenuh bekerja, segera mengumpulkan seluruh santri baru di depan asrama. Beliau memberikan kita motivasi layaknya seorang Chairil Anwar yang sedang membangkitkan semangat pejuang-pejuang Indonesia saat zaman penjajahan.

Beliau tentu saja bukan Chairil Anwar melainkan Ustad Muslim Rasyid. “Kalian semua adalah orang-orang yang ALLAH kirim untuk menjadi seorang pejuang di jalan-Nya. Jika mengurus hal kecil saja tidak bisa, apalagi mengurus umat!“.  Kami semua yang mendengar ucapan tersebut menjadi sakit hati tetapi makin bersemangat.  Setelah pemberian motivasi itu berakhir, kami semua kembali ke tempat masing-masing.

Seperti baru saja disulap, hari-hari setelahnya, tak nampak lagi wajah lesuh, mengangkat tong sampah sambil ngomel-ngomel, atau pun bersembunyi ketika waktu pembersihan tiba. Sungguh motivasi kemarin telah masuk ke jiwa kami.

***

10 Agustus 2017

Setelah shalat isya’. Kak Rifqi maju ke depan dan berbicara menggunakan Bahasa Arab. Kebetulan di Pondok Pesantren Mandiri Kumala Lestari, santri diwajibkan menggunakan bahasa Arab dan Inggris. Tidak boleh berbicara dengan bahasa Indonesia. Apalagi dengan bahasa daerah. Seluruh santri baru hanya berkata “”نعم!نعم! Karena hanya kosakata itu yang baru diajarkan kak Rifqi beberapa hari lalu.

Setelah pengumuman selesai, aku langsung bertanya kepada Kak Ali. Selaku santri yang sudah lama di sini, ia pasti sudah lumayan memahami Bahasa Arab.

“Oh, tanggal 17 Agustus nanti, pengurus pondok akan segera mengadakan Khutbatul Arsy bersamaan dengan hari kemerdekaan,” katanya.

Aku tidak mengerti tentang hal yang dikatakan Kak Ali. “Khutbatul Arsy itu apa kak?”

Kak Ali mengulum senyum. “Itu pekan perkenalan. Di hari itu dilaksanakan banyak perlombaan. Mulai dari sepak bola, volley, dan olahraga-olahraga lainya.”

“Oh, begitu ternyata.”

Kak Ali mengacak-acak rambutku.

***

Hari-hari menjelang Khutbatul Arsy adalah hari yang sangat melelahkan. Seluruh santri menyiapkan hal-hal yang diperlukan sebelum acara Khutbatul Arsy berlangsung, mulai dari membuat panggung, penampilan-penampilan, mengecat tiang gawang, memasang net voley dan kesibukan lainnya. Suasana pondok sangat ramai. Seluruh santri tidak sabar menunggu hari H datang. Karena di hari itu, Setiap kamar dituntut untuk bersaing menjadi yang nomor satu dalam setiap bidang perlombaan yang diadakan oleh panitia khutbatul arsy yang diketuai oleh kak Rifqi langsung.

***

17 Agustus 2017

Lapangan masih basah setelah seluruh santri menyiramnya semalaman. Sound system terjejer rapi di sudut lapangan. Balon bewarna-warni menghiasi langit pondok. Seluruh santri menggunakan baju olahraga yang telah disediakan pondok. Pukul 8 pagi, acara pun dimulai.

Setelah upacara kemerdekaan telah usai, kegiatan khutbatul arsy dibuka dengan acara memukul gong oleh pimpinan pondok. Riuh teriakan terdengar bersahut-sahutan. Setelah acara pembukaan usai, santri senior menampilkan beladiri yang berasal dari Jepang. Jiu-jitsu. Setelah itu, lomba antar kamar pun dimulai.

Ternyata, kamar tetangga yang berhasil memenangkan setengah dari perlombaan yang diadakan oleh panitia. Kamar tersebut adalah kamar yang ditempati Fauzan, Farid, Luthfi, Renaldy, Fariz dan teman-teman lainya. Mereka berhasil mengalahkan kamar-kamar yang dihuni para santri senior. Sehingga kamar tersebut menjadi pemenang lomba Khutbatul Arsy.

***

Hampir genap dua bulan aku menjadi santri di Pondok Pesantren Mandiri Kumala Lestari. Sedikit demi sedikit aku dan teman-teman mulai menguasai bahasa Arab seperti

إلى أين أنت؟,ماذا تعمل؟,من في داخل؟ dan banyak kosakata baru lainya. Ustad-ustad mulai aktif mengajari kami berbahasa Arab dan Inggris. Belum lagi, setiap malam rabu seluruh santri bergilir untuk berpidato menggunakan bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia. Kegiatan pidato tiga bahasa itu disebut Muhadarah. Giliranku sudah selesai dua hari yang lalu. Aku merasa senang karena pidato pertamaku berjalan dengan lancar walaupun aku sedikit nerveous ketika berada di atas panggung.

***

Selain ilmu, adab lebih ditekankan di Pondok Pesantren Mandiri Kumala Lestari.

“Sesungguhnya para ulama itu, lebih lama belajar adab dari pada belajar ilmu. Percuma kalian belajar ilmu jika kalian tidak beradab terhadap guru-guru kalian!” kata salah seorang pengurus pondok pada kami.

Pondok Pesantren adalah suatu lembaga yang mana di dalamnya setiap apa yang kita lihat, kita lakukan, kita rasakan semuanya adalah pendidikan. Desas-desus tentang pondok pesantren adalah lembaga tempat memperbaiki anak-anak nakal adalah suatu perkiraan yang salah. Anak-anak yang datang untuk belajar di Pondok Pesantren adalah anak-anak yang dipilih oleh Allah untuk menjadi pejuang-pejuang fisabilillah.

Menjadi anak pondok adalah suatu kebangaan. Menjalani kehidupan di dalamnya sungguh penuh dengan makna. Bagaimana kita harus antri untuk hal-hal yang sepele, bagaimana kita harus mencuci pakaian sendiri, bagaimana kita harus ikhlas berbagi, bagaiman kita harus menahan rindu yang sering datang hingga membuat kita biasanya menangis di kamar mandi dan banyak bagaimana-bagaimana yang lainnya.

***

Satu tahun kemudian…

20 Mei 2018

Aku turun dari atas bus membawa sebuah koper yang berisi sebagian baju yang aku bawa dari pondok pesantren. Aku berjalan dari terminal menuju rumahku, kebetulan rumahku tidak terlalu jauh dengan terminal tempatku berhenti. Setelah sampai di pekarangan rumah, aku melihat seorang wanita sedang melamun di depan warung kecil di depan rumah. Ketika melihatku datang, wanita tersebut langsung berlari menuju ke arahku.

”Anakku!!” Ibu memelukku begitu erat. Air matanya meleleh membasahi bajuku. Sekian lama setelah kepergianku, aku selalu merindukan ibu. Aku mencoba menyesali kecerobohanku, kebodohanku, kenakalanku, dan yang pasti kelalaianku menjaga ibu sehingga membuatnya lesuh dan menangis berkali-kali. Aku mengecup kening ibu.

“Maafin Adip bu!” aku mencium kaki ibu.

“Kamu belum minta maaf, ibu sudah maafin kamu,” ibu menarik tanganku ke dalam rumah. Nampak adiku Sultan juga bahagia menyambut kedatanganku.

***

Tidak seperti tahun lalu, kali ini, langkah kaki berjalan menuju masjid menjadi sangat ringan. Tak ada lagi pulang larut malam, bersenang-senang hingga lupa waktu, meninggalkan ibu sendirian di rumah, dan tidur sesuka hati di rumah teman. Di jidatku telah ter-stempel label santri. Aku adalah pejuang agama. Bukan anak yang kebetulan lahir dan menjadi perusak.

Tampaknya Pondok Pesantren telah mengajarkanku banyak hal. Aku yang dulunya sangat sulit untuk diatur, kini sudah mulai sadar bahwa hidup itu hanya sekali. Aku yang dulunya sangat malas membaca Al-qur’an, kini sudah mengetauhi bahwa suatu hari nanti Al-qur’an akan datang menjemput orang-orang yang sering membacanya.

Kita terlahir di dunia bukanlah sebuah kebetulan. Garis-garis takdir terbaik telah Allah sediakan untuk kita. Kita tinggal memilih untuk tetap mengikuti garis tersebut atau memilih jalan lain yang bisa membuat kita jauh dari Sang Pencipta. Berfikirlah terhadap apa yang telah engkau berikan, bukan terhadap apa yang telah engkau dapatkan.

*Penulis adalah santri di Pondok Pesantren Agribisnis Kumala Lestari Cianjur, ditulis pada 2018

                                               

Cerpen 21: Mengeja Waktu, Menua Bahagia di Majelis Ilmu

oleh: Muhammad Rifqi

Apakah yang penting dari sebuah perjalanan waktu dalam rangka menuntut ilmu? Dalam proses tersebut, sudah pasti usia akan semakin menua. Tapi dalam prosesnya, harus ada wawasan dan ilmu pengetahuan yang bertambah, pun tingkat pendidikan yang makin tinggi sebagaimana aturan yang ditetapkan pemerintah.

Pada awalnya, aku menempuh pendidikan formal dengan biasa-biasa saja. Orang tuaku menyekolahkan dari tingkat SD selama enam tahun, lalu berlanjut ke SMP selama tiga tahun. Rupanya orang tuaku masih punya dukungan moral dan finansial untuk menyekolahkanku di tingkat SMA, dipesantrenkan pula.

Kupikir perjalananku dalam menuntut ilmu akan dilewati dengan normal-normal saja. Tapi rupanya Allah berkehendak lain. Aku harus menerima kenyataan bahwa masa pendidikanku di SMA harus dilewati dengan durasi waktu yang tidak wajar. Seharusnya tiga tahun lantas lulus dan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Tapi aku punya kisah berbeda, sebab masa-masa SMA diprediksi akan terlewati dengan masa yang lebih panjang: enam tahun.

Bagaimana bisa begitu lama? Mungkin kalian akan bertanya-tanya. Sebagian dari kalian mungkin akan menduga, apakah aku kelewat bodoh dan harus tinggal kelas berkali-kali? Siswa bermasalah? Sekolah bermasalah? Ah, tenang saja, sebab itu hanyalah prasangka. Aku ini anak pintar, baik hati dan tidak sombong yang siap memberikan penjelasan.

Silakan duduk manis dan sabar sejenak. Melalui kisah ini, akan kuceritakan sebuah pengalaman tentang perjalanan menuntut ilmuku yang tak biasa, di mana aku banyak belajar mengeja waktu agar tak berlalu sia-sia.

***

Sebelumnya perkenalkan, namaku Aby. Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Bapakku seorang kepala sekolah di salah satu sekolah menengah pertama di Sumbawa. Tepatnya di SMPN 04 Sumbawa. Sedangkan ibuku adalah seorang PNS yang bekerja di Dinas Peternakan Sumbawa.

Memasuki usia 15, badanku tumbuh dengan sehat, masuk kategori ukuran yang tinggi dan besar. Aku duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tingkat dua, menuju kelas tiga. Sekolahku berbeda dengan SMK lainnya di Sumbawa, sebab ini merupakan SMK satu-satunya yang berbasis pesantren.

Jadi, selain mendapat ilmu kejuruan khususnya bidang pertanian dan peternakan, aku juga mendapatkan ilmu keislaman yang berharga. Ah, belajar di sana semacam paket lengkap. Ilmu dunianya dapat, akhiratnya apa lagi. Sungguh keren.

Pada usia 15, aku sangat bahagia sekaligus bangga karena sudah dapat dipastikan bahwa kala itu aku akan naik kelas, sebab nilai raporku semuanya tersenyum di kisaran tujuh sampai sembilan. Artinya, setahun lagi aku seharusnya lulus SMA, lalu lanjut sekolah ke Universitas ternama.

Namun takdir berkata lain. Aku tak mampu melanjutkan pendidikan di sana karena suatu alasan.

***

Saat itu Ramadhan, sekaligus momen liburan sekolah. Otomatis, aku meninggalkan pondok untuk sementara, dan menjalani libur panjang di rumah. Rasanya cukup canggung ketika pulang kampung. Aku jadi jarang ke luar rumah untuk bermain dengan sahabat-sahabatku di kampung. Mungkin karena malu ya. Karena setiap aku keluar rumah, selalu saja masyarakat sekitar memanggilku, dengan panggilan “ustad”.Ya, aku jadi malu sendiri. Kamu yang jadi santri baru pasti tau rasanya.

Padahal, sebelum masuk pesantren, kelakuanku di kampung cukup“nyeleneh”. Misalnya, kalau main tidak tahu waktu. berangkat pagi, pulang jam sebelas atau jam dua belas malam, bahkan pernah juga aku sekali tidak pulang karena keasyikan nongkrong dengan teman-teman.

Tapi setelah jadi santri, kelakuanku berubah drastis. “Ingat!! Ketika liburan jangan macam-macam. Karena di jidat kalian ada tulisan SANTRI besar-besar,” kata-kata dari ustad di ponduk selalu terngiang di telingaku. Memang aneh kedengarannya. Tapi insting merekam pesan baik, bagiku adalah azimat yang luar biasa.

Waktu liburan banyak aku habiskan untuk membantu orang tua. Pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mengepel, menjemur pakaian kulakukan dengan senang hati. Mungkin kalian bertanya-tanya. Kok anak cowok kerjaan seperti perempuan? Mari aku luruskan. Pekerjaan rumah tangga yang barusan kusebutkan bukanlah pekerjaan cewek. Semua orang bisa dan harus melakukannya.

Terlebih para santri. Di pesantren kami diajarkan mandiri. Kami harus bisa mencuci pakaian sendiri, menyetrika sendiri, mencuci piring sendiri, dan semua yang bersifat pribadi, dilakukan sendiri. Untuk pekerjaan rumah tangga yang bersifat umum, misalnya menyapu kamar, ruang kelas dan urusan publik lainnya juga harus dikerjakan sesuai jadwal piket.

Jika pekerjaan kebersihan itu tidak dilakukan, silakan tanggung risikonya masing-masing. Selain akan mendapat hukuman dari pengasuh atau ustad, ada jenis hukuman lain yang mesti ditanggung. Hukuman apakah itu? Di kalangan santri, hukuman tersebut bernama “Jarban”. Ia merupakan penyakit yang sangat populer di kalangan santri.  Saking populernya, ada yang mengatakan, kalau belum jarban, belum afdhol jadi santri.

Dari segi fisik, jarban sepertinya bukan penyakit kronis. Hanya ruam merah biasa yang terasa gatal. Tapi kalau kamu merasakannya, terutama jika jarban menyerang anggota tubuh yang bital, pasti rasanya sangat menyakitkan.

Gejala awal jarban yakni kenikmatan menggaruk-garuk seperti orang bermain gitar dengan lima jari. Hasil garukan menghasilkan luka, lantas infeksi. Kalau jarban di kaki, kamu akan sulit berjalan. Kalau hinggap di tangan, kamu jadi susah untuk makan. Kalau nempel di paha kiri atau kanan, beueh, rasanya seperti sunat dua kali. Rasanya tidak mau pakai celana atau sarung saking perihnya.

Tapi tenang saja, jarban katanya hanya dialami sekali seumur hidup. Setelah siksaan itu terlewati, kamu akan lulus dan resmi mendapat gelar santri.

***

Mari kembali ke kisah liburanku di rumah, dan klarifikasi mengapa aku tidak bisa lanjut ke kelas tiga SMK. Pada suatu sore, ibu menyuruhku untuk membakar ikan. Ikan bakar itu nantinya akan ibu sulap menjadi makanan khas Sumbawa yang begitu lezat bernama “sepat”. Tapi bukan ikan sepat yah.

Ketika sedang asyik membakar ikan, ibu tiba-tiba datang menghampiriku.

“Malam ini sholat terawih di mushola dekat rumah saja, ya, Nak, ibu pingin ngobrol berdua sama kamu,” kata ibu dengan wajah serius. Sementara aku menyimak dan terpaku.

“Tapi jangan kasih tau bapakmu. Kalau ibu ngobrol sama kamu,” lanjutnya.

“Ya, bu,” hanya itu jawabanku, sembari mempersilakan rasa cemas dan takut menyelinap ke dalam benak. Tidak seperti biasanya ibu seperti ini. Sangat jarang sekali aku dan ibu, atau dengan anggota keluarga yang lainnya, ngobrol dengan serius seperti itu, sampai janjian terlebih dahulu. Biasanya hanya kumpul-kumpul biasa. Cerita ini dan itu, sambil canda. Tapi kali itu sangat berbeda.

Karena “undangan ngobrol” ibu, aku jadi tidak bisa tenang. Aku terus berfikir, mencari kesalahan-kesalahan yang telah aku perbuat di hari itu dan hari-hari sebelumnya. Aku pun mencoba menebak-nebak.

Mungkinkah karena aku berpacaran? Jujur pada saat itu, aku pacaran dengan teman satu angkatanku. Beberapa hari lalu, dia sering datang ke rumah dan main bersama adikku. Tapi aku bilangnya dia bukan pacarku, cuman teman. Mungkinkah gara-gara itu ibuku pingin ajak aku ngobrol?

Ah, tak tahulah. Aku hanya bisa pasrah dan menerima apa yang akan ibu katakana nanti.

Sementara itu, waktu berputar begitu cepat. Bagiku, waktu empat jam rasanya seperti empat menit. Pikiran ini tidak bisa tenang, memikirkan hukuman apa yang akan diberikan ibu kepadaku pada hari itu.

***

Pulang tarawih, aku segera pulang untuk memenuhi undangan ibu. Di ruang keluarga kami bertemu. Ibu sebelumnya sempat menawariku kue dan makanan manis lainnya. Aku dengan pasrah merebahkan diri di atas karpet. Jarakku dengan ibuku sekitar satu setengah meter. Tapi kita saling berhadapan.

Sebelumnya, aku sengaja membawa handphone dan membuka facebook. Bukan apa-apa, hanya ingin mengalihkan fokus agar tak terlihat seperti orang ketakutan. Aku tak berani menatap wajah ibuku saat itu. Aku hanya menunduk, main handphone.

“Bagaimana di sekolah, baik-baik saja kan?” ibu memulai obrolan.

“Baik, sih, Bu,” jawabku singkat.

“Sudah tidak ada lagi teman-temanmu yang nakal?”

“Ya, paling satu, dua. Tapi tidak terlalu nakal. Biasa anak muda,” kataku diplomatis. Obrolan ini sungguh terasa kaku dan tidak nyaman. Ibu seperti sengaja berbasa-basi dulu, tidak langsung ke inti, yang sebenarnya beliau ingin sampaikan. Tapi aku sabar saja. Bagaimanapun, aku harus hormat dan taat kepadanya.

“Ibu sengaja menyampaikan ini….” Beliau akhirnya mulai to the point.

“… supaya kamu bisa berfikir, dan tidak kaget, ketika nanti bapakmu menyampaikannya. Tapi kamu ingat, jangan sampai bapakmu tahu. Kalau ibu ngobrol begini sama kamu,” cara bicara ibu sangat hati-hati, membuatku makin panik, tapi hanya bisa meyimak.

“Di Cianjur sana, ada sekolah baru…”.

Ternyata tebakanku salah. Ibuku tidak membahas masalah pacarku, ataupun maslaah aku pacaran. Tapi beliau membahas hal yang lain. Tapi apakah itu??

“… sama kayak yang di sini, SMK tapi Pesantren. Jurusannya juga sama pertanian dan peternakan. Tapi katanya, sekolah itu jauh sekali dari perkampung. Lebih jauh lagi dari sekolahmu yang ini. Pokoknya di tengah hutan,” beliau menjelaskan dengan serius. Sesekali aku mengangkat kepala, melihat wajah ibu.

“Itu sekolah baru, belum ada siswanya, terus…” ibuku menghentikan pembicaraannya.

Aku pun terheran dan kembali aku mengangkat wajah untuk melihat ke arah ibuku. Kulihat, pipi ibu basah oleh air matanya. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa ibu sampai nangis seperti ini? Aku jadi ikut-ikutan sedih tanpa sebab.

“… bapakmu ingin kamu pindah ke sana. Tapi, kamu harus mengulang lagi dari kelas satu”. Setelah itu ibu terdiam. Mungkin menunggu reaksiku.

Bagaimana denganku? Aku sangat terkejut dengan apa yang beliau sampaikan. Aku tak tau harus berbuat apa. Hati ini sudah sangat sesak rasanya. Ingin rasanya, hari itu aku langsung pergi, berharap dapat ketenangan.

“Bagaimana, kamu mau???” kata ibu lagi.

“Hmmm,, jawabannya nanti saja, Aby pikir dulu” jawabku spontan.

“Ya sudah, tidak apa-apa. Tapi, bapak berharap sekali kamu mau ke sana. Kamu pikir-pikir dulu, mungkin kalau kamu tidak mau, bapakmu bisa membatalkannya,”. Ibuku terlihat lebih tenang. Air matanya berhenti mengalir.

Setelah ibu mengakhiri obrolannya, aku kemudian minta izin untuk pergi berkeliling-keliling dengan niatan menyegarkan pikiran. Ibu mengizinkan. Segera aku menuju kamar, mengambil jaket, lantas bergegas mengambil kunci motor dan pergi.

Sambil mengendarai motor, kata-kata ibu masih terngiang di telingaku. Aku pun segera menepi di salah satu taman yang ada di Sumbawa. Tapi kata-kata ibu tentang pindah sekolah itu masih terus membuntuti. Ditemani secangkir kopi yang kubeli dari pedagang asongan sekitar taman, aku merenungkan nasibku. Aku bertanya pada dirikun sendiri. Apa yang harus aku lakukan. Apakah aku akan menolak tawaran tersebut? Atau aku terima?

Kali ini diriku serasa terbagi menjadi dua. Keduanya bertengkar. Di satu sisi aku menolak tawaran orang tuaku. Aku gengsi. Bagaimana mungkin aku mau mengulang dari awal lagi. Apa kata teman-temanku nantinya. Aku baru lulus SMA sedangkan mereka telah mendapatkan titel sarjana di nama mereka. Di sekolah baru tersebut, program pendidikannya lima tahun. Dan umurku, kira-kira 21 tahun setelah lulus dari sana nanti. Belum lagi keinginan kuatku untuk kuliah. Ah, pokoknya aku tidak mau!

Sisi lain diriku melawan, mendukung agar aku menerima tawaran orang tuaku. Ia mengubur dalam-dalam rasa gengsi  dan malu yang aku punya. Karena ia memiliki dalil yang begitu kuat.

Ridho Allah ada pada ridho kedua orang tuamu. Orang tuamu telah memberikan segalanya untukmu. Kamu mau ini dan itu mereka penuhi. Kamu sakit mereka rawat. Kamu lapar, kamu kehausan mereka beri kamu makan dan minum. Kamu pingin jajanan, mereka beri kamu uang. Mereka tidak pernah berfikir, uang mereka akan habis karenamu. Mereka hanya ingin kamu bahagia.

Apalagi pengorbanan ibumu. Ingat!! Kamu lahir ke dunia ini melalui perantar kedua orang tuamu. Terutama ibumu. Ia rela membelah perutnya. Ia rela darah mengalir begitu banyak dari perutnya. Demi mengeluarkan kamu dari dalam sana. Demi kamu tumbuh besar hingga saat ini.

Untung saja, aku memilih tempat yang sepi. Jadi orang-orang tidak akan tahu bahwa saat itu, baju yang ku kenakan telah basah dengan air mataku sendiri.

***

Bismillah, aku bergumam dalam hati. Aku akan menerima tawaran itu. Sejak itulah, aku memiliki prinsip hidup yang kokoh. Apapun yang mereka minta, akan aku penuhui, akan aku turuti semampuku.

***

Singkat cerita aku pun pindah. Keyakinanku diperkuat dengan ikutnya kedua sahabatku, yaitu Fahrul dan Irwansyah. Mereka juga sama seperti diriku. Kami satu sekolah dan satu angkatan. Kami memilih pindah dan mengulang semuanya dari awal.

Kurang lebih, jarak tempuh dari rumah menuju sekolah baru di Cianjur sekitar lima belas jam perjalanan. Aku harus menempuh perjalanan udara, laut dan darat. Mendekati area pondok baru Cianjur, mobil yang aku tumpangi bersama dengan calon santri yang lainnya bergoyang begitu kuat. Ternyata jalan yang kami lalui adalah jalan yang begitu parah.

Benar seperti apa yang telah dikatakan oleh ibuku. Sekolah itu jauh dari perkampungan. Benar sekali, ini benar-benar di tengah hutan. Aku sedikit ragu dengan tempat tersebut. Sesekali pikiran aneh mengganggu diriku, berusaha membuatku menyesali keputusan yang telah aku pilih. Sekitar setengah jam menjauhi pekampungan, aku tak melihat lagi tanda-tanda kehidupan di sana. “Ini tempat gila,” pikirku. Apakah ada kehidupan di tempat seperti ini.

Setelah melewati Hutan Jati, mataku tertuju pada sebuah ukiran berwarna putih yang terpampang di seberang jalan sana. PESANTREN KUMALA LESTARI. Begitulah bentuk ukiran tersebut. Sanagat indah. Karena di depan ukiran itu, terdapat taman yang berwarna warni. Akhirnya, ini dia tujuanku.

Seketika, hatiku dipenuhi rasa bahagia. Amazing. Ini tidak seperti yang aku bayangkan. Ini bukan pesantren. Ini lebih cocok dikatakan sebagai vila ataupun hotel bintang. Bangunan di sekolah ini bergaya tradisional tapi bernilai tinggi. Aku tak percaya, di tengah hutan seperti ini ada banguna mewah seperti ini. Seakan-akan, aku sedang tidur dan bermimpi.

Ternyata tidak sia-sia aku menyia-nyiakan dua tahun. Aku tak tahu kalian mengerti atau tidak maksud dari perkataanku ini.

***

Di tempat inilah aku belajar untuk mengerti tentang kehidupan. Di tempat inilah, perjalanan mencari jati diri dilanjutkan dengan mantap. Untuk tempat inilah, doa-doa dari ibu dan bapakku makin mengalir deras untuk kelancaran belajarku. Di tempat inilah, Kumala Lestari, aku akan melakukan yang terbaik untuk diriku, keluargaku, agamaku.

Selama dua tahun mondok, aku belajar ilmu umum, agama serta ilmu tentang kehidupan yang lainnya. Salah satu yang menarik yakni media pembelajaran kami berupa kitab kuning. Ia merupakan kitab karangan ulama zaman dahulu, menggunakan kertas berwarna kuning.

“Ya ustad mengapa disini kita belajar menggunakan kitab kuning. Tidak menggunakan kitab-kitab yang ada pada saat ini. Yang lebih bagus. Dan kata-katanya lebih mudah,” pernah aku bertanya begitu kepada salah satu ustad di sana.

“Sebenarnya semua kitab sama. Memang benar kitab-kitab saat ini lebih bagus dan jelas. Bukan berarti kita belajar kitab kuning, lalu kita disebut orang kampungan, bukan?” tegas beliau.

Lebih lanjut, ustad bercerita bahwa ada banyak sekali keutamaan ketika kita belajar kitab kuning. Ruh dari pada ulama-ulama mengalir melalui tulisan-tulisan mereka. Memang pada zaman sekarang ini banyak sekali orang yang menganggap remeh masalah ruh ini. Tapi ingatlah ruh itu sangat penting bagi kehidupan manusia.

Para ulama, lanjut beliau, belajar tidak ada hentinya. Malam yang gelap gulita, tak ada lampu, bukan menjadi penghalang semangat mereka untuk belajar. Seandainya saja, mereka tidak mau menulis ilmu yang mereka tulis, mustahil kitab-kitab yang sekarang ini bisa ada.

***

Di Pondok Kumala, aku juga lebih faham tentang awal sejarah adanya pondok pesantren. Wakil pimpinan pesantren yang merupakan alumni gontor, Ustad Muslin, pernah menjelaskannya kepada kami.

Kata beliau, pondok pesantren yang kita rasakan saat ini merupakan bentuk revolusi dari sistem belajar mengajar yang dipelopori para alim ulama. Pada awalnya ia hanya belajar dan mengajar kepada tetangganya. Karena keilmuannya yang begitu luas, ia pun menjadi terkenal dan banyak pula orang jauh yang ingin belajar bersamanya.

Pelajar-pelajar yang berasal dari daerah yang jauh pun memilih untuk membangun pondok-pondok kecil di sekitaran rumah orang alim tersebut, untuk mereka tempati. Agar waktu mereka tidak habis untuk melakukan perjalanan. Lambat laun, jumlah pemondok yang belajar agama makin bertambah.

Lantas, guru dan masyarakat pun berinisiatif membangun sebuah tempat yang nyaman dan luas namun sederhana, untuk dijadikan tempat tinggal para warga yang ingin belajar. Itulah mengapa hingga saat ini, di pondok pesantren terkenal dengan sistem menginap di asrama.

Sungguh perjuangan dan sejarah yang luar biasa. Zaman ini kita hanya mendapatkan bagian enaknya saja. Tak perlu bersusah payah, membangun yang namanya pondok-pondok kecil disekitaran rumah-rumah orang alim ataupun ustad-ustad. Tinggal niat dan datang ke sekolah. Ilmu akan segera kita dapatkan. Bersyukurlah.

Itulah sekilas tentang kehidupanku. Bernyali mengeja waktu, menua bahagia sebab merangkul ragam ilmu dan pengalaman, berharap senantiasa diiringi restu bapak-ibu, menuai berkah di Majelis Ilmu. Amin.

*Penulis adalah santri di Pondok Pesantren Agribisnis Kumala Lestari Cianjur, ditulis pada 2018

 

Cerpen 22: Perihal Infertil

Oleh Sonia Fitri

Kelana, apakah sesungguhnya tujuan pernikahan? Tradisi purba ini terus dipelihara dari generasi ke generasi, atas nama adat dan moralitas. Dalam pernikahan, ada ritual tertentu, melibatkan institusi masyarakat, yang harus dijalankan sebagai syarat sah. Dengan begitu, laki-laki dan perempuan direstui semesta untuk bersenang-senang lewat kegiatan seks dan lain-lain.

Tentu saja tujuan pernikahan lebih kompleks dari yang saya sebut di atas. Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, pastinya itu disebabkan beberapa faktor pendukung. Pertama, orang itu sudah memeroleh pasangan yang “mau”. Kedua, dia harusnya sudah siap untuk berbagi cerita hidup dengan manusia lain. Ketiga, alasan yang lainnya yang tidak perlu saya rinci di sini.

Kelanaku tersayang, pastinya masing-masing orang memiliki alasan yang sangat spesifik dan eksklusif ketika ia menyelenggarakan pernikahan. Apapun alasannya, itu akan berimbas pada ragam tujuan orang melangsungkan pernikahan.

Namun ada satu tujuan yang terdengar sangat realistis, pun sangat sering digaung-gaungkan orang-orang. Yakni tujuan pernikahan untuk memeroleh keturunan. Semua orang lantas beramai-ramai mengamininya, mendukungnya, bahkan membawa-bawa nama agama. Katanya dengan pernikahan, kuantitas umat agama tertentu akan semakin banyak, semakin makmur, dan semakin kuat.

Dengan pernikahan untuk tujuan melestarikan keturunan pula, sebuah pernikahan akan menjelma jadi rumah tangga yang sempurna. Di mana, ada bapak yang menjadi leader, lantas ia punya anggota berupa istri (atau istri-istri) dan anak-anak yang banyak. Peluang terbangunnya generasi tangguh pun akan menjadi nyata.

Kelana lantas mengajukan saran, “Bagaimana jika kita langsung membicarakan hal yang langsung berkaitan dengan judulnya, perihal perempuan infertil, apa yang kamu pikirkan tentang ini, Kumala?” 

Perihal tujuan pernikahan yang sangat populer itu, tampaknya mudah dan indah sekali, bukan? Kamu tinggal menikah, lalu hasilkanlah banyak anak yang ganteng dan cantik, lalu didik mereka agar nantinya bisa menjadi orang yang berguna untuk nusa dan bangsa.

Tapi benarkah tujuan populer pernikahan itu (untuk menghasilkan keturunan) adalah benar-benar menjadi tujuan utama terselenggarakannya pernikahan? Tidakkah kamu ingin mempertanyakannya kembali, Kelana. Saran saya, janganlah buru-buru mendukung apalagi mengimaninya.

Mengapa? Sebab realitanya, tidak sedikit laki-laki dan perempuan yang ditakdirkan untuk tidak bisa memiliki keturunan hingga ajal menjemput mereka. Ada juga yang masih hidup, tapi sudah divonis dokter akan sulit memeroleh keturunan karena kondisi tertentu. Nah, apakah lantas keinginan mereka untuk menikah (bagi yang belum menikah), atau status mereka sebagai istri atau suami seseorang (ketika sudah menikah) harus diakhiri?

Jika benar tujuan pernikahan yang utama untuk mendapatkan keturunan, mengapa harus ada kejadian takdir infertil alias mandul alias sulit memiliki keturunan? Adakah Tuhan sengaja memojokkan seseorang dengan menakdirkannya tidak bisa memeroleh keturunan? Bahkan saya mendapati keterangan yang mengatasnamakan utusan Tuhan, bahwa ada larangan atau anjuran untuk tidak menikahi orang infertil.

Kelana, dalam keyakinan saya, berdasarkan pemahaman yang terbentuk dari ragam upaya pengenalan saya dengan Allah dan Rasul-Nya, saya merasa bahwa pertanyaan di atas menghasilkan jawaban “tidak”. Yang saya tahu, Allah adalah sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang juga saya tahu, Muhammad Rasulullah berhati lembut dan tidak akan memojokkan suatu kelompok terhadap kelompok lain atas segala pernyataan maupun perilakunya.

***

Kelana, saya bukan ahli agama yang jago berdalil naqli. Makanya, saya juga sama sekali tak punya kuasa untuk menafsirkan ayat-ayat tertentu tentang pernikahan dalam Alquran, pun tak mampu menyebut hadits A atau B itu shohih atau dhaif. Jadi tulisan di sini bukan untuk memprotes popularitas “tujuan pernikahan untuk keturunan” (Siapalah Kumala ini!).

Saya hanya ingin memberikan pandangan lain tentang pernikahan, sekaligus menandai waktu di mana pikiran saya belakangan ini terganggu dengan topik tentang perempuan infertil, mandul. Saya juga hanya ingin kamu percaya, bahwa tujuan utama dan sebenar-benarnya dari pernikahan adalah untuk menenteramkan jiwa pelakunya.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang (Ar-Rum-21).

Di sisi lain, ketika kamu menemukan pasanganmu kelak, kamu berpeluang mendapatkan seseorang yang menyejukkan dan menenteramkan hatimu, juga di antara kalian bisa saling menjaga dan mengingatkan agar sama-sama dapat ridha Allah Swt (Al-Furqan: 74, At-Tahrim:6, Al-Hujurat: 13 dll).

Bukannya saya menampik soal keturunan. Tapi lah tujuan semacam itu tak perlu diumbar-umbar. Semua orang juga sudah tahu kalau dampak dari pernikahan adalah akan terbukanya peluang kehadiran anak. Tapi tanpa menikah pun, kamu bisa melakukannya, kok. Lagi pula, adalah hak Allah untuk memberi kamu anak kapan pun dan di situasi apapun, sama sekali bukan karena pernikahan.

Kelana, ketika orang-orang mengumbar-umbar soal tujuan pernikahan untuk memeroleh keturunan, saya tidak mungkin menampiknya. Suatu saat nanti saya juga berharap bisa menikah dan dititipkan anak yang lucu oleh Tuhan. Tapi bagi saya, itu bukan tujuan, melainkan bonus sekaligus cobaan.

Maksud saya, kehadiran anak dari hasil pernikahan merupakan hal yang membahagiakan. Istri akan menjadi ibu, suami akan menjadi bapak. Orang tua akan senang hatinya karena aka nada penerus keturunan mereka, akan ada kenangan dan lantunan doa sepeninggal mereka tinggal di dunia.

Kehadiran anak juga menjadi cobaan. Sebab dalam prosesnya, kamu pasti harus merasakan susah senangnya mendidik dan membesarkan anak. Akan ada masalah demi masalah yang mengiringi, tapi tetap ada pula jalan keluar yang disediakan tuhan untuk pembelajaran dirimu. Cerdas-cerdaslah mengambil hikmah.

Jika kamu masih meyakini bahwa tujuan utama pernikahan adalah untuk memperbanyak keturunan semata, kamu mungkin akan sibuk mencari pasangan yang  subur untuk dinikahi, menjauhi orang-orang yang divonis sulit mendapatkan keturunan, bahkan menceraikan atau melakukan poligami karena pasanganmu sulit memiliki anak.

Jika itu benar terjadi, cobalah berpikir sekali lagi. Bagaimana jika takdir infertil itu yang menimpamu, atau menimpa anakmu, adikmu atau orang yang kamu cintai. Adakah kamu akan tetap meyakini pernikahan itu bertujuan utama untuk keturunan semata?

Faktanya, anak tidak hanya lahir dari rahim perempuan. Anak juga bisa hadir di tengah-tengah rumah tangga karena kamu mengadopsinya. Pilihlah mereka yang yatim dan terlantar untuk kamu tolong, berdasarkan keasnggupanmu, entah kamu itu infertil atau tidak.

Akhir kata, terimalah apapun takdir Tuhan dengan rasa syukur, Kelana. Dengan begitu, diharapkan kamu akan bisa secara jernih menerima titipan rasa cinta kepada siapapun yang nanti jadi pasanganmu kelak. Bagaimanapun keadaanmu dan pasanganmu nanti, kalian diharapkan dapat saling menerima segala kekurangan masing-masing. Selebihnya, nikmatilah momen ketika kalian memiliki hati yang teteram di kehidupan yang fana ini.

Nasihat ini bukan untukmu, Kelana, tapi sepenuhnya untuk diriku sendiri. Semoga kita bisa selalu bersyukur dengan takdir apapun yang ia beri, tanpa perlu repot-repot mendukung popularitas tertentu, tapi malah meredupkan hati orang lain.

Kiranya demikian.

12052018

Cerpen 23: Tangis Nanda

Oleh Sonia Fitri

Bayi mungil itu akhirnya terlelap setelah menangis hampir sepanjang malam. Suasana dini hari jadi kembali hening. Jangkrik dan cicak bahkan tak ingin membuat gaduh, khawatir Sang Bayi terbangun dan menjerit lagi.

***

Aku tidak tahu apa sebab tangisnya yang pilu itu. Ia mungkin kelaparan, atau mungkin merasakan sakit tapi tak bisa diutarakan. Sementara aku sebagai kakaknya belum cukup mengerti tentang bahasa tangisnya bayi berumur sembilan bulan itu. Aku kelimpungan dan gagal menenangkannya, hingga akhirnya lelah menggiringnya menuju lelap.

Bayi mungil itu diberi nama Nanda. Wajahnya putih bersih dan berpipi merah. Setiap orang yang melihatnya pasti langsung berkeinginan mencurahkan rasa sayang. Tapi Nanda ditakdirkan menjadi bayi yang malang.

Emak kemarin pergi begitu saja setelah bertengkar hebat dengan Bapak. Permasalahan dipicu karena Emak memaksa berangkat ke Malaysia, menjadi TKW. Niatnya ingin membantu keuangan keluarga yang faktanya melarat dan kondisinya karut-marut. Maklum, bapak pengangguran, cacat dan sakit-sakitan.

Bapak awalnya bekerja sebagai supir angkot. Dalam sebuah kecelakaan, ia harus merelakan sebelah kakinya diamputasi. Alhasil, sejak dua tahun ini ia hanya berdiam di rumah membantu mengerjakan tugas rumah tangga seadanya.

Nasib Bapak sangat memprihatinkan, tapi hidup harus terus berjalan. Ada perut yang setiap hari harus dikasih makan, Bapak yang harus dibelikan obat sebab sakit-sakitan, serta ada anak-anak yang harus dibiayai kebutuhan sekolahnya.

Emak pikir, ia bisa banyak membantu dengan berjualan keripik singkong sambil membuka layanan jahit. Tapi rupanya kebutuhan sehari-hari lebih besar dari pada yang Emak dapatkan. Utang ke tetangga dan rentenir sudah tak terhitung. Emak lelah, lantas ide bekerja sebagai TKW pun tebersit di benaknya.

“Mengertilah, Kang, Rosid sebentar lagi lulus SMA, kita harus menyiapkan uang biar dia bisa daftar perguruan tinggi,” kata Emak membujuk Bapak yang tak kunjung memberi izin.

“Iyah, Akang juga tahu, tapi tidak perlu jauh-jauh kerja ke sana, ah. Khawatir. Kita bisa mencari penghasilan dari bisnis yang lain di sini. Lagi pula Nanda masih kecil, masih butuh kamu, Sur.”

“Lihatlah tetangga-tetangga kita yang jadi TKI, mereka bisa pulang bawa uang banyak, aman-aman saja, bahkan jadi orang kaya. Percayalah pak, agen penyalurnya profesional,” Emak masih mencoba meyakinkan.

“Jangan dulu berangkat! Setidaknya tunggulah satu atau dua tahun lagi, sampai Nanda bisa berjalan,” jawab Bapak lagi.

Tapi Emak keras kepala. Keinginannya sudah bulat untuk berangkat. Tanpa seengetahuan Bapak, Emak sudah mengisi formulir untuk ikut pelatihan menjadi TKW. Sontak saja kemarahan Bapak meledak. Ia merasa dilangkahi. Harusnya sebagai imam di keluarga, ia mengetahui semua kegiatan anggota keluarganya, agar bisa turut mengontrol dan menagawasi.

Cekcok antara Emak dan Bapak lantas berlangsung berhari-hari, berlarut-larut. Setiap malam aku menguping pertengkaran dan adu mulut mereka, diakhiri dengan Bapak yang emosi lalu seenaknya mengusir emak. Mungkin bapak sudah muak. Emak pun pergi dengan tegar, tanpa linangan air mata.

Emak pergi tanpa meninggalkan pesan. Ia hanya memberi pelukan dingin yang singkat sehingga menyisakan kebingungan di hatiku. Emak meninggalkan tangis untuk Nanda. “Rosid, tolong jaga Nanda sebentar. Emak janji, tahun depan kamu bisa melanjutkan pendidikan, untuk sekarang sabar dulu, Emak pamit,” begitulah pesan Emak sebelum meninggalkan rumah.

Sepeninggal Emak, penyakit Bapak semakin parah. Kemarin malam, setelah Emak meninggalkan rumah bapak batuk-batuk disusul muntah darah. Aku panik dan meneriaki para tetangga. Minta bantuan. Untungnya pak RW datang. Para warga melarikan bapak ke rumah sakit terdekat. Bapak tak pulang-puang. Katanya Bapak harus dirawat.

Emak pergi, Bapak dirawat. Yang tersisa di rumah ini hanyalah aku dan Nanda, serta tangisannya yang berisik. Mungkin adik kecilku ini kelaparan. Apa yang harus kulakukan? Kompor kering tanpa minyak tanah. Tak ada beras apalagi nasi.

Tetangga yang iba mendengar jerit Nanda kemudian datang memberi sepiring nasi dingin serta tumis kangkung. Meski tidak banyak, makanan itu bisa mengganjal rasa perih di perut. Tapi celakanya, Nanda tak mau makan. Aduh, berarti tebakanku salah, kukira Nanda menangis karena lapar. Nanda, andaikan kamu bisa bicara, aku ingin dengar apa yang sebenarnya kamu inginkan.

Aku lega akhirnya ia capek dan tangisnya reda. Akhirnya ia tertidur juga. Gantian, giliran aku yang menumpahkan tetesan air mata tanpa suara. Aku tak mau membangunkan Nanda. Berusaha sekuat tenaga agar tak mengusik tidurnya Nanda. Karena jika ia bangun bisa repot lagi urusanya.

Kutatap Nanda lekat-lekat. Kubayangkan betapa cantiknya ia kelak, sepuluh atau sebelas tahun lagi. Saat ia beranjak dewasa. Kulitnya putih kemerahan dengan mata yang bulat, seperti mata bapak. Hidungnya yang mancung adalah warisan dari emak yang juga ia wariskan padaku. Nanda akan menjadi kembang desa. Ia akan menjadi satu-satunya adik yang akan kujaga siang dan malam, agar terhindar dari segala yang membahayakan.

Kata orang-orang, Emak punya darah arab, makanya ia cantik dan berhidung bangir. Aku pernah sekali melihat foto Emak saat gadis. Dengan baju kembang-kembang berwarna oranye, lengkap dengan rok yang mengembang. Emak di foto itu memakai sepatu kets berwarna cokelat sewarna dengan pita yang menghiasi rambutnya yang ikal panjang tergerai. Emak sangat cantik dalam foto itu. Kubayangkan Nanda ketika dewasa dan sangat mirip dengan Emak, bahkan mungkin jauh lebih cantik.

Sayangnya, kecantikan emak tertutupi debu jalanan dan noda kemiskinan yang dialaminya selama bertahun-tahun dengan kami sekeluarga. Bencana alam berupa gempa yang terjadi saat awal pernikahannya membuat keadaan memburuk. Tak ada lagi rumah megah yang mereka cita-citakan untuk membangun keluarga bahagia, serta dua mobil milik bapak yang rencananya digunakan untuk tamasya keluarga. Semuanya hancur terkubur reruntuhan.

***

Hening masih mendekap. Tangis Nanda konsisten lenyap, betah dalam senyap. Ia pasti sangat kelelahan.

Nanda sayang, jika suatu hari kau beranjak dewasa, mungkin mungkin situasinya akan lain. Bukankah takdir adalah stuasi yang tidak pernah bisa di duga? Roda kehidupan terus berputar. Jika sekarang kita miskin dan melarat, pasti aka nada saatnya kita akan menikmati keadaan serba berkecukupan. Kuncinya adalah sabar dan tetap berusaha. Jangan menyerah apalagi marah pada Tuhan.

Adikku sayang, bertahanlah! Sampai saat ini, Abang masih menunggu panggilan kerja. Abang tak akan masuk ke perguruan tinggi dulu. Biayanya mahal. Abang akan cari uang yang banyak agar kamu bisa makan kenyang dan minum susu berkualitas.

Nandaku sayang, kalau nanti sudah masuk usia sekolah, aku akan menanggung semua biaya pendidikanmu, hingga jenjang tertinggi. Lantas nantinya kamu akan tumbuh jadi seorang intelek cerdas yang cantik.

Pada usia tiga, aku akan mulai mengajarkanmu membaca huruf-huruf hijaiyah yang bentuknya keriting itu. Huruf Arab. Dengan mempelajarinya, kamu akan punya bekal awal untuk membaca Alquran. Kuharap, ketika umur dan kewarasanmu makin berkembang, kamu bisa makin penasaran dan tergugah untuk memahami pesan-pesan Tuhan dalam Alquran, lalu istikomah melaksanakan apa yang membuat Allah senang. Dengan begitu, semoga Allah menjauhkanmu dari segala bencana dan penyakit berbahaya.

Nanda si mungil maisku. Kelak jika kau sekolah nanti, jangan sampai kau tertipu dengan rangkaian penilaian dalam selembar kertas. Jangan pula kamu percaya dengan deretan angka aupun huruf yang katanya bisa mengukur baik dan buruknya kualitas intelektual seseorang.

Tahukah kau, Nanda. Mereka yang merasa berhak menilai dengan deretan angka itu akan membuat lembaran sakti bernama ijazah. Lembaran yang sesaat membuatmu melambung dan merasa berharga, jika deretan nilai itu baik. Padahal pada kenyataannya bukan lembaran itu yang mestinya jadi acuan utama untuk menilai kualitas seseorang.

Maka Nanda, jika nanti engkau sekolah, kuharap tujuanmu bukan sehedar ijazah. Kau harus ingat pesan Abang, kau harus menjadi orang yang peduli akan dirimu, dengan kualitas dirimu yang tidak hanya diukur dengan angka-angka yang membisu itu.

Jangan seperti abangmu ini, yang niat sekolahnya dulu karena tujuan gengsi dan ijazah. Padahal hanya menguras isi dompet Emak dan Bapak yang tak pernah tebal. Jangan pula seperti kedua orang tua kita yang terjebak oleh harta, lalu menghancurkan kehidupan rumah tangganya.

Nanda, tidurlah. Kau pasti sangat lelah. Sudah seharian kau tidak makan apa-apa. Kamu harus tetap kuat dan bertahan.

***

Air mataku tak kunjung surut. Padahal mataku sudah bengkak dan perih. Aku ingin tidur tapi aku ingin terlebih dahulu memastikan bahwa Nanda akan bangun lagi. Perlahan kuraba keningnya, terasa dingin dan kaku. Bibirnya membiru. Jantungku mendadak berdetak dua kali lebih cepat. Tanganku gemetar. Dalam hati, aku memohon pada Tuhan agar membuat Nanda bertahan.

Aku tak akan tidur. Aku akan menunggunya menangis lagi. Kupeluk adikku erat-erat. Kudengar, tak ada denyut berdetak dari dadanya. Yang ada hanya degup jantungku yang seperti orang mau berperang. Inilah takdir yang mau tidak mau harus kutelan. Mungkin di mata Tuhan, Nanda kurang cocok jika hanya sekadar menjadi insan intelek cantik. Lebih baih ia menjadi bidadari surga yang selalu berbahagia.

Baiklah…

Aku menyerah. Kubaringkan jasadnya yang kaku dan pucat, sembari menunggu tetangga datang dan membantu mengurus jenazahnya.

[]Senin 17 Januari 2010 sore menjelang maghrib.

Cerpen 24: Menangislah

 Oleh Sonia Fitri

“LEBIH baik tersenyum sambil tutup telinga,” begitu kata Doel Sumbang dalam salah satu lagunya. Lega rasanya jika kita tak mendengarkan apa-apa, ketika semua orang bilang yang jelek dan menyakitkan. Lebih baik kita juga tahu kapan waktunya menutup mata. Yaitu ketika ada orang-orang iseng yang memandang rendah dan bernafsu untuk menjatuhkan kita. Tapi nyatanya, mata dan telinga saya belum cerdas memilah apa yang mesti dan tak mesti kita dengar.

Sul, rasanya sakit ketika semua orang menyadari kita gagal. Ternyata semua kebanggaan dan prestasi itu palsu. Aih, rupanya saya benar-benar begitu bodoh dan bebal. Seperti kapal Black Pearl tanpa kompasnya, saya kehilangan arah. Jika sudah begini, inginnya bersembunyi terus dari dunia. Karena menunggui waktu hanya menambah rasa sakit.

Makanya, Bung Kapsul, coba jawab sekarang juga, bagaimana saya harus bersikap? Bakaimana saya harus bersikap? Haruskan saya sembunyi terus-menerus? Ataukah saya keluar dan menampakkan kebobrokan diri?

 

Kapsul, ketika barusan saya bertanya kepadamu. Tapi kamu malah diam saja. jangan menatap penuh iba begitu. Saya benci. Mari kita sederhanakan pertanyaannya.

“Bagaimana menahan rasa sakit?”

Kali ini, karena saya tak mengijinkanmu untuk diam, kamu pun akhirnya menjawab.

“Diam saja, Ci”.

Kamu mengerti, bahwa inilah maunya saya. Didengarkan. Direspons. Ditanggapi. Saya bertanya, dan kamu harus buka suara, terserah apapun jawabannya. Yang jelas, kamu tak boleh mendiamkan saya. Itu membuat saya merasa tak ditanggapi. Jawab saja sesukamu. Itu akan sedikit mengobati suasana hati.

“Dengan diam saja,” saya ulangi jawabanmu dalam hati. baiklah, Sul, saya akan diam saja dengan syarat kamu sudi berada di sisi saya sepanjang senja. Mendengarkan keluh kesah yang tumpah sambil menepuk-nepuk pundak saya. Sesekali berkomentar jika ditanya. Sehingga meluaplah semua kesal yang mengganjal.

***

Kamu pikir, bagaimana rasanya mengalami kegagalan berulang ulang? Rasanya melelahkan.

Kegagalan pertama membuat napasmu sesak. Apalagi sebelumnya kamu telah berharap banyak. Lalu kamu berusaha menghibur diri dengan berfikir positif terus-menerus. Kamu menoba kembali dengan belajar dari kegagalan yang pertama. Kamu menjadi lebih berhati-hati sambil mengumpulkan rasa percaya diri yang berserakan tadinya.

Kompetisi tiba, dan apa yang terjadi. Kamu gagal lagi. Kali ini kamu mulai ragu pada diri sendiri. Kamu mengganti playlist lagu yang tiap pagi kamu dengarkan dengan sekelompok lagu slow melow yang meratap. Kamu terjangkit galau. Lalu kamu mulai sulit mempercayai kata-kata motivator yang bilang, bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Saya pikir, pernyataan itu hanya untuk menghibur hati sang pecundang, agar ia tak cepat putus asa lantas bunuh diri.

Kamu belum mau menyerah. Kamu merasa semakin keras berusaha dan berdoa, tapi si gagal masih senang menyapa. Meski embusan napas semakin berat dan lelah, kamu tetap menegakkan kepala, meski awan kelihatannya selalu muram. Kamu belum mau menyerah. Lalu, percobaan ketiga dilakukan. Kali ini semoga saja keberuntugan berpihak padamu.

Tapi, dapatlah ditebak apa yang terjadi. Kamu gagal lagi. Lagi dan lagi. Kamu lelah. Kamu ingin menyerah. Kamu ingin menguni diri selama-lamanya di kamar mandi, atau hibernasi hingga sakit dan lelah tak lagi terasa. Mengapa sakit? Karena kegagalan yang berkali-kali membuatmu merasa terbuang, tak berguna, dan hatimu semakin lama semakin mengecil, lalu lebih lama lagi, hati itu menghilang. Kamu tak lagi punya kepercayaan diri.

Baiklah. Respons yang lazim dialami orang-orang gagal seperti saya memang cukup menakutkan. Jika terus-menerus didramatisir, maka kamu akan benar-benar menjadi pecundang. Bukan kamu saja yang sedih. Orang-orang terdekatmu pun akan sedih. Mereka akan memandangmu dengan iba, dan kamu semakin jengkel karenanya. Sungguh melelahkan. Bisakah kamu merasakannya, Sul?

Meski mungkin kamu hanya asal bicara karena sebenarnya tak tahu jawabannya, tapi saya lebih menyukai nasihatmu yang menyuruh saya diam saat ini. Tentu saja, kamu bukan motivator, apalagi psikiater. Kamu lebih berharga dari orang-orang tadi. Karena kamu adalah seorang sahabat yang baik.

Benar katamu. Diam sajalah. Segala kesakitan pasti ada ujungnya. Segala penderitaan pasti ada akhirnya. Bukankah hidup bagaikan roda yang berputar. Terkadang kita merasa galau, terkadang pula kita merasa riang gembira. Karena dunia bukanlah surga ataupun neraka. Jangan bercerita apalagi berteriak-teriak. Itu hanya akan menegaskan bahwa dirimu anak manja yang tukang pamer derita. Jangan pula menjadi psikopat yang melukai orang, agar mereka tahu penderitaan yang kita rasa, tetap saja tak akan bisa. Rasa sakit itu akan semakin sakit jika kita melampiaskannya dengan menyebarkan kesakitan kepada manusia lainnya. Kita hanya akan melukai diri kita lagi pada akhirnya.

Benar katamu. Diam sajalah. Sambil menarik napas yang banyak, lalu embuskanlah napasmu bersama segala keluh kesah. Dengan diam, kamu bisa mengikhlaskan semua yang telah digariskan-Nya. Dengan diiam, kamu juga bisa merasakan kecerdasan Tuhan yang telah menetapkan jalan terbaik yang belum kita tahu. Dialah Dzat yang Mahatahu.

“Sabar saja, shalat saja. itulah cara manusia waras untuk meminta pertolongan kepada Tuhan-Nya,” katamu lagi.

Ya, saya sepakat. Maaf, Sul, karena air mata ini tak mau ditahan. Dia keluar begitu saja. Sembarangan. Tapi tak mengapa. Menangis adalah proses pengeluaran. Seperti berkeringat atau buang air. Tak perlu ditahan-tahan, agar tak lelah, tak juga jadi penyakit. Keluarkan saja sampai puas. Air mata membawa lega.

“Menangislah!” katamu kemudian.

19112013

Cerpen 25: Maya

Oleh Sonia Fitri

Jika Maya pergi malam ini, aku tak tahu lagi apa yang mesti kulakukan. Aku sudah cukup berbuat banyak untuknya, dan ia tak pernah menghargaiku. Ia tercipta untuk membuat luka di hatiku. Luka itu kunikmati. Luka itu menjadi candu. Dan aku tak sudi melepas sang pembuat luka itu.

Sering kali aku merasa aneh, mengapa banyak orang mengawali cerita dengan penggambaran suasana waktu. Misalnya pagi yang mendung, atau sore yang cerah, dan malam yang dingin. Aku tak tahu suasana apa yang bisa kugambarkan saat itu. Aku tak tahu sekarang jam berapa, apakah siang atau malam, apakah tengah mendung atau cerah. Jelas saja, telah beberapa hari ini aku dikurung dalam sebuah kamar kecil tak berjendela.

Saat berniat mengawali cerita dengan penggambaran jati diri, aku kembali ragu. Tak ada yang istimewa tentang itu. Maka dari itu, tak ada yang laik kubagi. Aku hanya seorang anak remaja yang tak jelas asal usulnya. Nasib sial memaksaku tinggal menjadi babu di rumah janda kesepian.

Kesepian? Ya, janda tua itu ditinggal selingkuh suaminya, juga ditinggal anak-anaknya pergi merantau. Semua orang simpati atas nasib rumah tangganya. Sebagian lainya salut atas ketegaran hati dan kebaikan perilakunya. Jelas saja, sebagai seorang pengusaha rumah makan yang laku, setiap semiggu sekali para tetangga dipersilakan makan gratis di rumahnya. Para tetangga itu tambah simpati karena sang janda mengurus seorang bocah cacat sejak belasan tahun yang lalu. Ya, bocah cacat itu adalah aku.

Maya. Langsung saja kusebut namanya. Kupikir, jika terus menerus memikirkan apa yang mesti kumulai, maka cerita ini tak akan pernah selesai, kan?

Maya. Sekali lagi kusebut namanya. Cantik? Tentu saja. Pintar? Jangan ditanya. Tiap semester, dia selalu jadi juara kelas. Segala kesempurnaan, Tuhan anugerahkan untuknya. Maka dari itu aku menyukainya. Alasannya cukup sederhana, aku ingin berpartisipasi dalam keseimbangan dunia. Jika bumi dipasangkan dengan langit, sementara siang dengan malam, maka wajar jika aku berharap dipasangkan dengan Maya, gadis misterius yang punya pandangan mata yang menyelidik. Maya, yang punya sejuta rahasia dalam sikap diamnya.

Sayangnya, Maya adalah adik bungsu si janda. Awalnya, ia sama sekali tak mau bicara denganku. Tatapannya selalu sinis dan menusuk. Tapi mungkin lama kelamaan ia iba dengan seorang anak cacat yang menumpang di rumahnya. Satu-satunya alasan Maya ingin bicara denganku saat itu, karena posisiku bisa dibilang sebagai keponakannya. Ia juga sepertinya telah menganggapku sebagai sahabatnya.

Ada dua kebenaran dari anggapanku ini. Pertama, Maya selalu datang dan menghampiriku untuk meminta tolong mengurus hal-hal sepele. Misalnya, mengikat rambut atau mengguntungkan kuku-kukunya. Kedua, Maya tak punya satu pun teman selain aku. Maka, kebutuhannya akan teman terpenuhi karena kehadiranku, Sosok yang selalu hadir dan memberi perhatian tanpa banyak cingcong.

Aku, Maya, dan janda itu tinggal dalam satu rumah. Si janda berperan sebagai tulang punggung keluarga yang menghabiskan waktunya dengan pekerjaan, Maya sebagai tuan puteri penguasa rumah, dan aku berperan sebagai babu. Berperan mengurus rumah tangga dari mulai cucian kotor, pengadaan sarapan sekaligus cemilannya. Aku juga bertanggung jawab atas kerapian dan kebersihan ruangan serta penataan pekarangan.

Kuakui, pada awalnya, Maya hanya bicara padaku seperlunya. Ia memang seorang gadis pemalu. Tapi suatu hari sikap Maya berubah. Ketika itu kami dalam perjalanan menuju tempat les pianonya. Aku diminta sang janda untuk mengantarkannya naik bus, agar selamat sampai tujuan. Tentu saja, dengan senang hati aku menyanggupinya. Ini kesempatan langka.

Dan perubahan sikap itu pun dimulai. Sebagai tuan puteri, ia mulai memperlakukanku sebagai pelayan pribadinya. Cukup dengan isyarat dan komunikasi telunjuk, Maya memerintahku di rumah. Semua harus serba tersedia dan dilayani. Jujur, aku senang dengan kedekatan yang mulai terjalin ini. Ia pasti telah benar-benar menganggapku seperti sahabat sejati.

Maya, sang putri. Tangan dan kakinya digunakan hanya untuk belajar dan berpikir mengenai penyelesaian tugas dan penelitian sekolah. Sedangkan soal pemenuhan kebutuhan sehari-hari ia biasa dilayani. Seperti balita, makan disuapi, butuh sesuatu tak perlu bangun dari kursinya, cukup perintah, dan semua akan datang seperti di surga. Bahkan dalam urusan perawatan diri—kecuali mandi dan berpakaian—urusan menyisir rambut pun, ia minta tolong padaku. Dan aku selalu mengerjakannya dengan sepenuh hati. Aku tulus melayaninya, karena dalam keyakinanku, aku adalah sahabatnya.

Sayangnya, situasi menjengkelkan selalu tiba ketika si janda datang. Ia akan merusak suasana hati Maya, juga suasana hatiku.  Ia memarahiku, menyalahkan semua pekerjaanku, lalu menganggapku aneh. Ya… aku memang seorang bisu dan bertubuh cebol. Kerjaanku jadi sulit maksimal. Tapi ketika kesalahan itu ditegaskan, aku jadi merasa sangat-sangat hina.

“Apa kau sahabatku, Maya?,” suatu hari aku bertanya padanya dengan bahasa isyarat. Maya sudah paham dengan bahasa isyarat dari Si Bisu. Saat itu, aku berkesempatan berdekatan dengannya karena ia memintaku mengupas apel kemudian menyuapinya. Melihat pertanyaanku, Maya malah terkekeh. Entah apa maksudnya.

Berharap dapat jawaban dari Maya, malah sang janda yang angkat bicara. Ia mendadak marah dan menyebutku sudah kelewatan. Lalu entah kenapa, ia mulai lagi bersikap kasar dan mencoba menyeretku ke kamar hukuman.

Aku, si anak gagu yang malang ini hanya bisa meronta. Tenaga si janda sungguh luar biasa. Ia menarik kedua kakiku menuju kamar mengerikan itu. Untuk berteriak aku tak bisa. Maya masih berdiri di sana. Ia hanya menatapku tanpa sedikitpun bertindak. Matanya menatapku lekat-lekat. Tatapan mata yang tak bisa kuartikan, apakah iba, atau justru bahagia.

Apa mungkin karena terlalu sering dilayani, ia tak bisa memfungsikan kaki dan tangannya untuk sekedar menolong satu-satunya sahabatnya ini? Kucoba mengerti. Biarlah Maya duduk tenang di sana. Aku masih menggenggam pisau yang digunakan untuk memotong apel barusan. Kualihkan fokusku pada si janda. Di matanya kubaca perasaan yang campur aduk. Ada rasa takut, heran dan marah. Lalu gelap sejenak.

Entah mengapa setelah itu, jasadku berpindah ke dalam sebuah bus kota. Maya duduk di sisiku. Saat itu aku berjanji, setelah turun dari bus nanti, akan kuutarakan rasa bahagiaku bisa menjadi sahabatnya. Saat sedang meredam kegelisahan diri, tiba-tiba saja bus oleng, disusul guncangan keras beberaa kali. Lalu semua gelap lagi.

***

Dan beginilah akhirnya. Seperti yang kusampaikan di awal cerita, aku tengah berada di kamar kecil yang gelap dan pengap. Janda tua itu yang mengunciku di sana, menghukumku karena sembarangan menyebut-nyebut nama Maya, bahkan lancang meminta jalinan persahabatan dengannya. Aku diperingatkan untuk tak banyak berkhayal, apalagi membayangkan bisa bersahabat dengan Maya.

Kuhitung, sudah dua hari aku di sini. Meratapi perlakuan kasar si janda, dan masih bertanya-tanya dengan apa jawaban Maya. Selama itu pula, Maya tak kunjung melihatku, bahkan sekedar mengantarkan makanan. Tiap janda itu datang, membawakan makanan, aku selalu bertanya, di mana Maya? Dan ia hanya menggeleng.

Lupakan Maya!!! Katanya. Kulihat lengan dan pipi kirinya diperban. Bekas sayatan pisau yang kemarin kugunakan untuk mengupas dan memotong apel. Pasti Maya yang melakukannya. Rupanya ia telah berusaha menolongku, tapi tetap tak kuasa melawan si janda.

“Maya telah pergi, ia tidak akan pernah ada di sini lagi, selamanya!!!” nada bicara sang janda sungguh tegas dan meyakinkan, ketika aku menanyakan Maya pada hari ke dua. Tapi bagaimana bisa aku percaya. Kulihat dibelakangnya, ada Maya yang tengah tersenyum. Entah apa arti senyuman itu. Ia selalu misterius dan manja. Lalu seenaknya saja dia pergi. Tak mempedulikanku yang terus berteriak sambil menangis, menyuruhnya untuk tak pergi.

Si janda makin ketakutan dan meninggalkanku sendirian. Aku tak peduli, di otakku, gambaran tentang Maya masih terlukis jelas. di antara tangis keputusasaan, aku menulis cerita ini. Cerita tentang sebuah pengakuan tentang keberadaan sosok Maya.

Dengarlah ini, kawan. Akulah yang menciptakan sosok Maya yang pada kenyataannya telah tiada. Sosok Maya yang sesuai dengan harapanku. Aku tak mengizinkan sosoknya pergi. Karena jika begitu,  aku tak tahu lagi apa yang mesti kulakukan. Aku sudah cukup berbuat banyak untuknya, meski ia tak pernah menghargaiku. Memang, ia tercipta untuk membuat luka di hatiku. Maya, tapi tak bisa aku melepaskanmu.

Aku sadar, Maya telah pergi dalam kecelakaan bus setahun lalu, dalam perjalanan menuju tempat les pianonya. Saat itu sang janda memintaku untuk mengantarnya agar selamat sampai tujuan. Guncangan itu merenggut nyawa Maya, dan membuat batinku terguncang. Maya si anak manja pada akhirnya meninggalkanku begitu saja. Padahal jika sekarang ia masih di sini, pasti kita akan jadi sepasang sahabat yang saling mendukung dan menguatkan.

Berawal dari rasa heran dan takut, sang Janda akhirnya jengkel karena aku selalu menyebut-nyebut nama Maya. Ia mungkin tak pernah bisa membayangkan, seorang anak pungut sepertiku bisa punya perasaan yang mendalam pada anaknya, bahkan hingga beberapa lama setelah ia meninggal dunia. Akhirnya pun begini, ia mengurungku dalam kamar pengap, menganggapku gila.

Seperti keberadaan cerita yang tak jelas awalannya ini, seharusnya tak ada yang mesti kumulai. Agar aku tak perlu repot untuk mengakhirinya. Tak lupa kuucapkan terima kasih pada kalian, teman-teman pembaca yang sudi membaca cerita singkat ini. Mohon doanya, semoga Maya tenang dalam peristirahatan terakhirnya.

Cerpen 26: Petak Umpet

Oleh: Sonia Fitri

Ran, lihatlah ke langit! Rembulan memantulkan cahaya terang malam ini. Kita menikmati keindahannya, padahal ia sedang kesepian di sebelah sana. Ah, tapi sendirian bukan berarti sedih, bukan? Mungkin dalam kesendirian itulah ia bahagia, sebab bisa membuat kita bahagia dan menikmati keindahannya.

Rembulan malam ini berdiri sendirian di tengah pekatnya malam. Bahkan bintang pun tak ada yang mau mendekat. Mereka sepertinya sedang berpesta di sisi langit yang lainnya, rembulan tak diajak. Rembulan tidak mempermasalahkannya. Rembulan pasti punya hati yang lega.

Ran, nasibku kira-kira sama seperti rembulan. Sendirian. Sebab kamu nyatanya tak pernah menyadari keberadaanku. Meski aku dekat. Meski aku setia di dekatmu, mengikutimu, memerhatikanmu. Kamu pikir mudah menjalani hidup seperti itu? Kamu selalu tampak tegar dan tersenyum, adakah itu mewakili perasaanmu yang sesungguhnya?

Ran, ingatkah kamu dengan pertemuan pertama kita bertahun-tahun yang lalu. Kamu saat itu menangis, memintaku membantu membuka bungkus permen. Kamu tampak kegirangan ketika aku berhasil membukanya dengan susah payah.

Setelah mengucapkan terima kasih, kamu mengajakku bermain petak umpet. Kamu yang bersembunyi, aku yang mencari. Sungguh hatiku senang bukan kepalang. Kamulah satu-satunya orang yang sudi mengajakku bermain. Kamu memintaku untuk tidak berhenti mencarimu sampai ketemu. Tapi kamu juga sangat terobsesi untuk memenangkan permainan. Aku jadi dilemma, tapi juga telah mempersiapkan solusi terbaik.

Ran, tahukah bahwa kala itu, di hitungan ke sepuluh, aku membuka mata. Segera aku mencarimu ke mana-mana. Tapi kamu tidak ada di mana-mana. Kamu seperti hilang ditelan bumi. Adakah ini disebabkan aku yang terlalu payah di permainan yang satu ini, atau memang kamu yang terlampau pandai bersembunyi?

Ran, jangan terlalu senang karena kenyataannya tidak begitu. Tanpa kamu ketahui, aku sebenarnya mendapatimu tengah sembunyi di balik semak-semak dekat warung Bu Nani. Tapi aku berpura-pura saja tidak melihatmu.

Asal kau tahu, Ran, aku memenuhi keinginanmu untuk menemukanmu, tapi aku juga akan mempersilakanmu sebagai pemenang. Biarlah aku menunggumu untuk menampakkan diri, lalu keluar sebagai pemenang permainan.

Ran, tapi aku sungguh penasaran. Mengapa sejak hari itu, kamu tak kunjung menampakkan diri? Tidak lelahkah sembunyi? Mengapa tak segera mengakhiri permainan, agar kita bisa kembali berbagi senyum dan kisah bahagia?

Tanpa terasa waktu menggiring kita beranjak dewasa. Aku tumbuh besar menjadi seorang pemerhati rembulan. Begitu pula dengan kamu yang menjadi gadis lincah, bersembunyi dari satu tempat ke tempat lainnya. Meski kebersamaanku dengan rembulan tak berkesudahan, aku terus menantimu mengakhiri permainan. Dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, aku menunggumu keluar dari persembunyian.

Ran, tapi tampaknya kamu melupakan permainan yang telah dimulai itu. Kamu senang mencari tempat sembunyi. Bukan hanya di semak-semak, tapi juga di kolong meja, balik pintu, juga di kegelapan. Aku terus memerhatikanmu, caramu sembuyi, serta bagaimana ekspresi bahagiamu ketika bersembuyi dan minta dicari-cari. Tidakkah kamu tahu, bahwa kamu diam-diam berani bersembunyi di lubuk hatiku?

Ran, rupanya Tuhan menyimak kelelahanku mencarimu yang sejatinya telah terdeteksi sejak beberapa tahun lalu. Sinar bulan membongkar persembunyianmu. Sebelum kamu mencari persembuyian lain, aku segera menarik lenganmu, mengajakmu berlari ke pantai, menyapa ombak sambil menikmati cahaya bulan.

“Berhentilah sembunyi, Segeralah akhiri permainan ini, Ran!” aku memohon. Kamu tersenyum. Tak ada satu pun kata jawaban keluar dari mulutmu kecuali gelengan kepala.

“Aku mohon, Ran!”

Kamu tetap keras kepala. Kamu memalingkan wajah dan segera berniat mencari tempat sembunyi yang baru. Kamu berlari ke pantai, tanpa menoleh, terus berlari, hingga laut menyembunyikanmu selama-lamanya.

Ran… jika sudah begini keadaannya, aku tak akan menyusulmu. Aku hanya akan kembali mencari tempat paling nyaman sembari menatap purnama yang kesepian.

Cerpen 27: Pulang Bersama Senja

Oleh: Sonia Fitri

Nanda, musim semi akan datang sebentar lagi. Lihatlah, kuncup bunga di taman kita mulai bermunculan, menjanjikan kembang-kembang yang menawan. Kita seharusnya mempersiapkan diri untuk pergi bersama-sama memetik bunga, lalu berkejaran dengan kupu-kupu liar. Tak perlu cemas, senja akan menjemput ketika kita lelah. Aku berniat mengakhiri perjalanan itu dengan duduk berdampingan di tepi danau. Setelah itu, aku akan mengantarmu pulang sebelum matahari tenggelam.

Ingatkah saat kita pertama kali bertemu? Aku memandangi pipimu yang merona. Kau tampak cantIk dibawah sinar matahari senja, dengan rambut panjang nan legam terikat dua. Saat itu aku langsung jatuh cinta. Tapi perasaan malu melarangku berlaku jujur mengungkapkan isi hati itu. Lalu, entah bagaimana awalnya, kita kemudian saling mengenal dan memutuskan menjalin persahabatan. Hari-hari kita jalani dengan biasa. Kau banyak bertanya banyak hal tentang kegalauan hati. Lalu kujawab dengan banyak bercerita. Tentang petualangan di negeri para bidadari. Tiap kali bercerita, kau terdiam sambil sesekali mengangguk. Kukira kau mengerti dan mendapat jawaban dari ceritaku.

Hingga suatu hari kau bilang ingin menyampaikan sesuatu. Tahukah Nanda, saat itu aku sangat senang sekaligus penasaran. Menduga-duga tentang apa yang akan kau katakan. Mungkinkah pujian atas cerita-ceritaku yang memukau, atau rentetan pertanyaan atas cerita di hari kemarin yang menggantung? Rupanya tidak. Kurasa inilah awal perpisahan kita.

“Berhentilah bercerita. Aku bukanlah seorang bocah yang terus-menerus bisa kau bohongi. Negeri bidadari adalah mimpi.” Nanda, kau menangis saat itu. Membuat hatiku tersentak, tersayat, dan luka. “Bisakah kau menjadikanku bidadari seperti yang kau ceritakan? Yang tak pernah pakai topeng kebusukan? Mengapa pula disana tak ada usik prasangka dan kesepian? Begitu bahagianya menjadi bidadari,” katamu lagi.

Nanda, kau tak tahu bahwa saat itu mulutku tiba-tiba terkunci. Cerita-ceritaku selama ini rupanya membuatmu terus menumpuk tanya dari hari ke hari. Membuatmu makin benci karena memendam iri pada sang bidadari. Aku tak bermaksud begitu. Niat baik terlalu sering disalahartikan. Tapi aku mencintaimu dengan tulus. Maka dari itu, sama sekali aku tak berniat untuk marah karena kau menganggapku seorang pembohong.

Setiap orang punya sisi gelap dan terang. Kuanggap itu adalah salah satu sisi gelapmu, yang harus kuterima sebagai konsekuensi dari rasa cinta ini. Kebanyakan dari kita bersmbunyi dan memakai topeng. Aku, kamu, dan semua orang, menampilkan diri sebagai orang yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung. Lalu apa salahnya pakai topeng? Toh kita bukanlah malaikat. Sisi gelapmu, biarlah kutelan sendiri, agar ia lenyap melewati tenggorokan dan usus besarku.

Aku akan menyampaikan sebuah rahasia padamu, Nanda, bahwa bangsa manusia bisa menjelma menjadi bidadari yang sempurna dengan beberapa tahapan. Inilah langkah pertamanya, yaitu melenyapkan sisi gelap. Maka inilah yang kulakukan. Dengan mengambil sisi gelapmu, aku telah memulai langkah dalam rangka menjelmakanmu menjadi seorang bidadari.

Sayangnya, setelah ini aku harus pergi meninggalkanmu. Aku akan mencari sang ratu bidadari dan menanyakan langkah selanjutnya. Aku berjanji tak akan pergi terlalu lama. Pesanku Nanda, jangan terlalu cepat menyerah. Meski tak beruntung karena tak dilahirkan sebagai bidadari, tak perlu takut dengan semua prasangka itu. Jelas saja, kau bukan siluman mimpi atau sang pengendali pikiran. Biarkanlah semua orang berpikir apapun tentangmu. Itu tandanya kau diperhatikan. Kenapa pula merasa sendiri? Apa kau meragukan kesetiaanku? Percayakah, bahwa aku akan selalu ada mendampingimu.

Nanda, mengapa kau masih bermuram durja, sambil memandangi bebatuan bisu dari balik jendela? Tidakkah kau senang dengan kepergianku? Setiap orang datang dan pergi dengan caranya masing-masing. Tak perlu banyak menuntut, karena kita bukanlah pemegang kekuasaan mutlak. Lagipula, bukankah kau tak percaya lagi padaku?

Ini sudah kali ke tujuh sejak musim semi berlalu. Tuan ratu bidadari terlalu pelit untuk memberitahu. Katanya, ini rahasia langit. Saat itu aku terus memohon padanya, dan dia marah lantas mengusirku. Dengan segenap harapan yang masih tersisa, aku kembali. Mencari Nanda kekasihku, tapi tak punya nyali untuk bertemu lagi. Malu. Mulai merasa ragu atas apa yang selama ini kulakukan. Perjalananku mungkinkah hanya sia-sia belaka?

Suatu hari sepulang dari perjalanan bertemu ratu bidadari, aku memberanikan diri untuk mengajakmu pulang ke taman kita. tapi apa yang kudapatkan. Kau seenaknya marah dan mengusirku. Kau bilang jengkel atas kelakuanku yang mempertanyakan sikap dan tingkah lakumu. Nanda, salahkah jika aku bertanya, mengapa melakukan ini dan itu? Aku hanya berusaha memperhatikanmu. Kau tak seharusnya jengah dengan janji-janjiku. Kenapa pula menuntut pemenuhan janji. Tidakkah kau hargai proses dan perjuangan atas nama cinta ini?

Aku tak akan menangis karena penolakanmu, Nanda. Saat kau bilang tak mau ikut bersamaku memetik bunga dan menyambut musim semi. Sekarang kau sama seperti semua orang, tak melihat kuncup-kuncup yang tengah bersiap mekar menjadi bunga. “Musim semi  adalah sebuah kemustahilan,” katamu.

Cinta memang melelahkan. Saat aku pergi untuk cintaku, dalam perjalanan menemui ratu bidadari, akhirnya malah tak menghasilkan apapun. Yang tersisa hanya ucapan selamat tinggal pada kenangan darimu. Bodohnya, kuputuskan melewati hari dengan penggerutuan tentangmu. Aku sadar, selama kebersamaan yang kita jalani dulu, aku selalu menuntutmu untuk menjadi sempurna, menjadi bidadari. Makanya aku kerap berkisah tentang bidadari-bidadari surga. Tapi sampai kapanpun kau tak akan pernah mengerti, ini semua kulakukan demi kebahagiaanmu.

Nyatanya, kau masih menjauhiku, tak percaya padaku. Tahukah, sikapmu itu telah menghancurkanku. Tapi karena aku mencintaimu dengan tulus, maka aku akan pergi dengan sebuah pesan yang harus kau yakini. Bahwa tak ada jalan untuk kembali.

Sekarang aku benar-benar akan pulang, bersama senja. Setidaknya, ia akan selalu datang dengan cahaya mega yang merona. (Sabtu malam, 10 Februari 2012, ketika langit terlihat suram akibat gerimis tadi sore).

Kesimpulan

Penting untuk diketahui, posisi cerpen di era digital saat ini semakin berjaya. Seiring dengan dunia kepenulisan yang terus mengalami kemajuan, sejumlah cerpen baru dari penulis baru bermunculan, baik yang dimuat di media konvensional seperti Koran dan majalah, maupun di sejumlah blog dan platform digital. Jadi, semua orang berpeluang menulis cerpen dengan baik dan menarik. Syaratnya yakni dengan manyak berlatih menulis dan jangan hanya berhenti di ranah teoritis.

Demikianlah pembahasan tentang cerpen secara komprehensif, dari mulai pengertian, ciri-ciri, struktur, jenis serta teknis dan tips membuat cerpen yang baik. Untuk menyempurnakan pembelajaran seputar Cerpen, pembahasan diakhiri dengan 27 Cerpen Persahabatan Terbaik yang Penuh Makna. Semoga pembahasan yang barusan diuraikan bisa menjadi bahan pembelajaran bagi pembaca.

 

Lihat Juga :